Lewati ke konten
15 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Konflik Saudi – Houthi Memanas, KNPI Minta Tunda Sementara Keberangkatan Umrah Ke Tanah SuciDuta Besar Palestina Ajak Masyarakat Jakarta Hadiri Budayantara Fest 2026KALIMANTAN, PULAU SEMAR INDAH NUSANTARA: Menyingkap Makna Alam, Budaya, dan Kesadaran KehidupanUniversitas Darunnajah Jakarta Kenalkan Pencak Silat Beksi ke Jepang, Budaya Betawi Menembus Batas Negara
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali
Artikel Budaya

Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama29 Maret 20263 menit baca
Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali - Budayantara TV

Oleh : Masdjo Arifin (Founder Budayantara Network)

Jakarta,- Budayantara.tv Setiap langkah merantau selalu membawa cerita. Tapi tidak semua cerita itu sempat diucapkan sebagian hanya tersimpan, diam-diam hidup di dada, dan baru menemukan suaranya ketika pulang ke kampung halaman.

Lebaran menjadi waktu di mana semua rasa itu tumpah.

Di antara peluk hangat keluarga, ada yang pulang dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. Mobil baru terparkir di halaman rumah, menjadi saksi perjalanan panjang yang penuh kerja keras. Ada pula yang membuka galeri di ponselnya, memperlihatkan rumah yang akhirnya berdiri dibangun dari keringat, dari rindu yang ditahan, dari hari-hari yang dijalani sendirian di kota.

Namun, tak sedikit yang pulang dengan mata yang lebih banyak bercerita daripada kata-kata.

Mereka yang akhirnya kembali setelah bertahun-tahun hanya bisa mendengar suara ibu dari seberang telepon. Mereka yang selama ini hanya melihat wajah orang-orang tercinta lewat layar kecil. Saat akhirnya bertemu, pelukan itu terasa lebih lama, lebih erat seolah ingin mengganti semua waktu yang hilang.

Dan di sudut-sudut cerita itu, ada kisah yang tak pernah benar-benar terlihat.

Tentang mereka yang menabung diam-diam, menyisihkan sedikit dari yang sedikit. Tentang mereka yang berkali-kali mengurungkan niat pulang karena ongkos terasa terlalu mahal. Tentang rindu yang dipendam begitu lama, sampai akhirnya pecah dalam tangis saat kaki kembali menginjak halaman rumah.

Ada kebanggaan yang sederhana, tapi begitu dalam: akhirnya bisa pulang tanpa rasa malu. Tak lagi menjadi bagian dari lirik yang dulu terasa begitu nyata“pulang malu, tak pulang rindu.”

Kini mereka pulang, membawa diri yang lebih kuat, meski mungkin belum sepenuhnya berhasil.Namun, setiap pertemuan selalu punya batas waktu.

Ketika gema takbir telah mereda dan suasana kampung kembali sunyi, satu per satu harus kembali. Tas kembali dikemas. Pelukan kembali dilepas kali ini dengan berat yang berbeda.

Arus balik pun dimulai.

Jutaan orang kembali bergerak menuju Jakarta. Jalanan padat, stasiun sesak, terminal penuh. Tapi di balik itu semua, ada perasaan yang sulit dijelaskan antara enggan meninggalkan rumah dan terpaksa melangkah pergi.

Karena hidup harus terus berjalan.

Menariknya, perjalanan kembali ini seringkali tidak lagi sendiri. Ada tangan lain yang digandeng. Ada wajah baru yang ikut dalam rombongan. Saudara, teman, bahkan tetangga semuanya dibawa menuju kota yang sama, dengan harapan yang serupa.

Harapan untuk hidup yang lebih baik.

Begitulah cerita itu berulang, tahun demi tahun. Dari satu orang menjadi banyak. Dari satu mimpi menjadi puluhan. Sebuah rantai harapan yang tak pernah benar-benar putus.

Jakarta tetap berdiri sebagai tujuan.

Kota yang keras, bising, dan kadang terasa kejam namun selalu menjanjikan sesuatu. Di sana, orang percaya bahwa kesempatan itu ada, meski harus diperjuangkan mati-matian.

Di balik gedung-gedung tinggi dan lampu yang tak pernah padam, ada ribuan bahkan jutaan cerita tentang lelah, tentang gagal, tentang bangkit lagi keesokan harinya.

Tidak mudah hidup di sana.

Tapi entah kenapa, selalu ada alasan untuk bertahan.Mungkin karena mimpi belum selesai.
Mungkin karena keluarga di kampung masih menunggu.
Atau mungkin… karena pulang tanpa hasil terasa lebih menakutkan daripada bertahan dalam kesulitan.

Pada akhirnya, merantau bukan hanya tentang mencari uang.Ini adalah tentang rindu yang dipendam, tentang keberanian untuk pergi, dan tentang harapan yang terus dipelihara meski berkali-kali diuji.

Dan setiap kali Lebaran datang, cerita itu akan kembali hidup.

Dalam pelukan yang hangat.
Dalam air mata yang jatuh diam-diam.
Dan dalam langkah kaki yang, sekali lagi, harus pergi menjauh dari rumah… demi suatu hari bisa kembali dengan cerita yang lebih baik.

Mudik 2026 Urbanisasi
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial - Budayantara TV
Artikel

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial

12 Oktober 20262 menit baca

Oleh: Syahrudin AkbarWakil Ketua Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI JAYA) Jakarta — Budayantara.tv Di balik jalan yang bersih,…

Dialog Spiritual Budaya di Pondok Budaya Rorotan: Meneladani Gus Dur, Merawat Persaudaraan, Menanam Harapan - Budayantara TV
Budaya News

Dialog Spiritual Budaya di Pondok Budaya Rorotan: Meneladani Gus Dur, Merawat Persaudaraan, Menanam Harapan

12 Oktober 20264 menit baca

Jakarta, — Budayantara.tv Pondok Budaya Rorotan, Jakarta Utara, menjadi ruang perjumpaan gagasan, spiritualitas, dan persaudaraan kebangsaan melalui kegiatan…

Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan Pertunjukan - Budayantara TV
Artikel

Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan Pertunjukan

11 Oktober 20263 menit baca

Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo) Kebudayaan bukan sekadar pakaian adat, tarian tradisional, musik daerah, atau rangkaian seremoni yang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber