MENJEMPUT TAKDIR DI TIKUNGAN SUNYI
M.Guntur Alting
Hidup sering kali bergerak dengan cara yang tidak kita duga.
Ia berjalan dalam ritme yang tampak biasa, hingga sebuah berita datang di pagi hari dan menghentikan denyut waktu kita sejenak.
Tanpa ada keluhan sakit yang terdengar sebelumnya, tanpa tanda-tanda yang mempersiapkan batin kita untuk merelakan, Syahrizal telah berpulang.
Jika kita menilik jejak langkahnya hidup almarhum melalui CV beliau yang dishare oleh Pak Ketua, adalah sebuah mozaik pengabdian yang kaya warna.
Lahir di Padang pada 28 Oktober 1967, ia mendedikasikan lebih dari tiga puluh tahun usianya untuk berbagai bidang yang menuntut ketekunan tinggi.
Ia bukan sekadar seorang profesional biasa.
Ia adalah sosok multitalenta yang merangkap keahlian sebagai teknisi komputer, desainer grafis yang bermain dengan estetika visual, penggerak pengembangan organisasi.
Hingga seorang instruktur Drone & USAR (Urban Search and Rescue) yang tidak ragu terjun langsung ke garda terdepan misi-misi kemanusiaan.
Dari ruang teknologi hingga medan bencana, hidupnya diabdikan untuk kemaslahatan sesama manusia.
Namun, takdir memiliki jalannya sendiri dalam mempertemukan manusia.
Secara personal, jarak interaksi kita mungkin tidak berada di ruang yang terlampau dekat.
Namun, semesta menorehkan tiga momen perjumpaan yang bermakna ketika jalan hidup kita bersilangan di Partai Rakyat Indonesia (PRI).
Ada sebuah ironi yang mengharukan sekaligus membanggakan dari perjalanan itu.
Meskipun maut menjemput sebelum pelantikan resmi sempat terwujud.
Sejarah tidak akan pernah bisa dihapus begitu saja.
Almarhum telah mengambil bagian yang sah dan terhormat sebagai bagian dari fondasi awal perjuangan Partai PRI di DPC Jakarta Selatan.
Dalam dunia politik yang sering kali riuh oleh ambisi jabatan dan perebutan panggung.
Syahrizal hadir dengan karakter yang berbeda: pekerja senyap yang mendedikasikan energi, pikiran, dan waktunya untuk menanam batu bata pertama dari sebuah cita-cita bersama.
Ia tidak mengejar sorot lampu kilat atau sanjungan, melainkan memilih jalan sunyi pengabdian.
Kematiannya yang mendadak, di tengah ketiadaan kabar sakit, menyadarkan kita kembali pada hakikat fana kehidupan.
Bahwa ukuran dari sebuah pengabdian bukanlah seberapa lama seseorang memegang sebuah jabatan, melainkan seberapa tulus ia menanam kebaikan di setiap ruang yang pernah ia singgahi.
Kini, kawan seperjuangan kita itu telah menuntaskan perjalanannya.
Selamat jalan, Pak Syahrizal.
Jejak tanganmu di dunia kemanusiaan, ketulusan kerjamu di barisan awal partai ini, serta rekam jejak integritasmu akan senantiasa hidup dalam ingatan kolektif kami .
Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahmu, melapangkan jalanmu, dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Al-Fatihah, Amin.🙏
Kampus, UIN Ciputat, 24 Agustus 2026
Pukul : 09.01




