Jakarta,— Budayantara.tv Kebudayaan Betawi tidak hanya berbicara tentang tradisi, kesenian, bahasa, maupun kuliner, tetapi juga tentang cara hidup masyarakatnya yang lekat dengan nilai kebersamaan, silaturahmi, kepedulian, dan gotong royong.
Semangat itulah yang terus dirawat Komunitas Betawi Slow (Betslow). Memasuki usia ke-3 tahun, Betslow menggelar perayaan sederhana yang dikemas penuh makna melalui doa bersama dan santunan bagi anak yatim di Jakarta Barat, Sabtu (23/8/2026).
Perayaan milad tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tali silaturahmi sekaligus menegaskan bahwa komunitas budaya tidak harus selalu hadir dalam bentuk perayaan besar. Kepedulian sosial dan kebersamaan justru menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai budaya Betawi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dalam sambutannya, Bang Baon, selaku pendiri sekaligus Dewan Penasihat Betslow, menyampaikan pentingnya menjaga semangat kebersamaan yang menjadi kekuatan komunitas.
Menurutnya, perjalanan tiga tahun Betslow bukan sekadar soal bertambahnya usia organisasi, tetapi juga tentang bagaimana komunitas mampu terus menjadi ruang berkumpul, bersilaturahmi, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Betslow bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk menjaga silaturahmi dan nilai-nilai kebersamaan. Semoga di usia yang ketiga ini Betslow semakin solid dan dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” demikian semangat yang disampaikan dalam sambutannya.
Kehadiran H. Jayadih, SE, selaku Ketua Umum IKB Jabodetabek, turut memberikan makna tersendiri dalam perayaan milad tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan terhadap keberadaan komunitas-komunitas Betawi yang terus bergerak menjaga identitas dan kebudayaan Betawi di tengah dinamika kehidupan Jakarta.
Bagi Betslow, keberadaan komunitas menjadi salah satu cara untuk memastikan budaya Betawi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Budaya harus terus hadir dalam kehidupan sehari-hari, diwariskan kepada generasi muda, sekaligus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberi manfaat bagi lingkungan.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Ustad Abek. Suasana berlangsung penuh kekeluargaan, dengan harapan agar perjalanan Betslow ke depan semakin kuat, kompak, dan konsisten membawa semangat kebersamaan serta kepedulian sosial.
Tiga tahun perjalanan Betslow menjadi pengingat bahwa menjaga budaya tidak selalu membutuhkan panggung yang megah. Terkadang, budaya justru tumbuh dan bertahan dari hal-hal sederhana duduk bersama, menjaga silaturahmi, berbagi kepada sesama, dan terus merasa memiliki terhadap akar budaya sendiri.
Betslow di usia ketiga tetap bersama, tetap peduli, dan terus menjaga denyut budaya Betawi di tengah Jakarta yang terus berubah. (Djo)




