Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi TerpilihTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru HonorerMPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti
Artikel Film

Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama26 April 20262 menit baca📍 Pegiat Perfilman Jakarta
Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti - Budayantara TV

Oleh : Adisurya Abdy – Pegiat Perfilman

Jakarta – Budayantara.tv Ada sesuatu yang terasa ganjil, namun terus dianggap biasa dalam dunia film Indonesia. Orang-orang datang berbondong-bondong: aktor, kru, penulis, hingga pekerja teknis lainnya. Mereka masuk ke industri ini dengan kesadaran penuh bahwa penghasilan tak selalu pasti, kontrak kerap abu-abu, dan masa depan lebih sering bergantung pada spekulasi daripada perencanaan yang matang.

Namun mereka tetap datang. Tetap bertahan.

Ini bukan semata-mata soal cinta pada seni. Penjelasan itu terlalu dangkal, bahkan cenderung menutupi kenyataan yang lebih kompleks. Industri film Indonesia berdiri di atas fondasi yang belum sepenuhnya kokoh sistem kerja yang longgar, perlindungan yang minim, serta distribusi kesempatan yang jauh dari merata. Mereka yang telah mapan berputar dalam lingkaran yang sama, sementara para pendatang baru harus berjuang lebih keras, sering kali dengan imbalan yang tidak sepadan.

Ironisnya, kondisi ini kerap dinormalisasi. Ia dibungkus dengan istilah-istilah yang terdengar mulia: proses, jam terbang, bahkan passion. Kata terakhir inilah yang paling sering menjadi jebakan. Passion dijadikan pembenaran atas ketidakadilan. Orang didorong untuk mencintai pekerjaannya, namun tidak diberi jaminan untuk hidup layak dari pekerjaan tersebut. Sebuah kontradiksi yang terus dibiarkan tumbuh.

Lalu, mengapa mereka tetap bertahan?

Karena film menawarkan sesuatu yang jarang dimiliki sektor lain: kemungkinan. Sebuah kemungkinan yang samar, namun memikat. Satu proyek bisa mengubah arah hidup. Satu kredit bisa membuka pintu baru. Industri ini menjual harapan dalam dosis kecil cukup untuk membuat orang terus tinggal, terus mencoba, terus percaya.

Di sisi lain, ada pula gengsi kultural yang bekerja secara halus. Nama yang tercantum di layar, undangan ke festival, atau sekadar pengakuan dalam lingkaran komunitas kreatif menjadi semacam mata uang sosial. Bagi sebagian orang, nilainya bahkan melampaui kestabilan finansial.

Namun jika kita jujur, ini bukan sepenuhnya soal pilihan bebas. Banyak yang bertahan bukan karena mereka mengabaikan risiko, melainkan karena sistem yang ada belum menyediakan alternatif yang lebih adil. Keluar dari industri ini sering kali berarti kehilangan identitas. Sementara bertahan berarti berdamai dengan ketidakpastian.

Di titik inilah dunia film Indonesia menjadi ruang yang paradoksal tempat orang mencari makna, namun kerap harus mengorbankan kesejahteraan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, industri film kita akan selalu bergantung pada mereka yang rela dibayar murah demi mimpi besar. Idealisme memang mampu menyalakan api, tetapi tanpa keadilan, api itu hanya akan terus membakar orang-orang yang sama.

Sudah saatnya kita tidak hanya merayakan karya, tetapi juga memperjuangkan sistem yang lebih manusiawi bagi para penciptanya. Karena pada akhirnya, industri yang sehat bukan hanya melahirkan film-film hebat, tetapi juga kehidupan yang layak bagi mereka yang bekerja di baliknya.

Adisurya Abdy
📍 Pegiat Perfilman Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global - Budayantara TV
Artikel Budaya

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global

22 Juni 20262 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv Guna menyambut momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 DKI, Ketua Umum Forum Bersama Jakarta…

Menyongsong 499 Tahun Jakarta: Bergerak Menuju Era Baru Tanpa Melupakan Akar Budaya Betawi - Budayantara TV
Artikel Budaya

Menyongsong 499 Tahun Jakarta: Bergerak Menuju Era Baru Tanpa Melupakan Akar Budaya Betawi

22 Juni 20262 menit baca

Oleh : Masdjo Arifin – Founder Budayantara Digital Network (BDN) Jakarta, – Budayantara.tv Perayaan 499 tahun Jakarta menjadi…

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TV
Artikel Budaya

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan

19 Juni 20262 menit baca

Oleh: Wan NoorbekPemangku Adat Gerbang Masyarakat Betawi (BANG MAWI) Jakarta,- Budayantara.tv Haul Ulama Betawi pada hakikatnya bukan sekadar…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  3. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  4. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  5. Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11
Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti - Budayantara TVWarga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti - Budayantara TVTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti - Budayantara TVMPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan
Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti - Budayantara TVDuh… Semrawutnya Papan Reklame di Pasar Legi, Cermin Dilema Kejar PAD dan Tata Kota Ponorogo

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber