Lewati ke konten
15 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema NasionalKonflik Saudi – Houthi Memanas, KNPI Minta Tunda Sementara Keberangkatan Umrah Ke Tanah SuciDuta Besar Palestina Ajak Masyarakat Jakarta Hadiri Budayantara Fest 2026KALIMANTAN, PULAU SEMAR INDAH NUSANTARA: Menyingkap Makna Alam, Budaya, dan Kesadaran Kehidupan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti
Artikel Film

Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama26 April 20262 menit baca📍 Pegiat Perfilman Jakarta
Dunia Film Indonesia: Bukan Sekadar Nafkah, Tapi Pencarian Arti - Budayantara TV

Oleh : Adisurya Abdy – Pegiat Perfilman

Jakarta – Budayantara.tv Ada sesuatu yang terasa ganjil, namun terus dianggap biasa dalam dunia film Indonesia. Orang-orang datang berbondong-bondong: aktor, kru, penulis, hingga pekerja teknis lainnya. Mereka masuk ke industri ini dengan kesadaran penuh bahwa penghasilan tak selalu pasti, kontrak kerap abu-abu, dan masa depan lebih sering bergantung pada spekulasi daripada perencanaan yang matang.

Namun mereka tetap datang. Tetap bertahan.

Ini bukan semata-mata soal cinta pada seni. Penjelasan itu terlalu dangkal, bahkan cenderung menutupi kenyataan yang lebih kompleks. Industri film Indonesia berdiri di atas fondasi yang belum sepenuhnya kokoh sistem kerja yang longgar, perlindungan yang minim, serta distribusi kesempatan yang jauh dari merata. Mereka yang telah mapan berputar dalam lingkaran yang sama, sementara para pendatang baru harus berjuang lebih keras, sering kali dengan imbalan yang tidak sepadan.

Ironisnya, kondisi ini kerap dinormalisasi. Ia dibungkus dengan istilah-istilah yang terdengar mulia: proses, jam terbang, bahkan passion. Kata terakhir inilah yang paling sering menjadi jebakan. Passion dijadikan pembenaran atas ketidakadilan. Orang didorong untuk mencintai pekerjaannya, namun tidak diberi jaminan untuk hidup layak dari pekerjaan tersebut. Sebuah kontradiksi yang terus dibiarkan tumbuh.

Lalu, mengapa mereka tetap bertahan?

Karena film menawarkan sesuatu yang jarang dimiliki sektor lain: kemungkinan. Sebuah kemungkinan yang samar, namun memikat. Satu proyek bisa mengubah arah hidup. Satu kredit bisa membuka pintu baru. Industri ini menjual harapan dalam dosis kecil cukup untuk membuat orang terus tinggal, terus mencoba, terus percaya.

Di sisi lain, ada pula gengsi kultural yang bekerja secara halus. Nama yang tercantum di layar, undangan ke festival, atau sekadar pengakuan dalam lingkaran komunitas kreatif menjadi semacam mata uang sosial. Bagi sebagian orang, nilainya bahkan melampaui kestabilan finansial.

Namun jika kita jujur, ini bukan sepenuhnya soal pilihan bebas. Banyak yang bertahan bukan karena mereka mengabaikan risiko, melainkan karena sistem yang ada belum menyediakan alternatif yang lebih adil. Keluar dari industri ini sering kali berarti kehilangan identitas. Sementara bertahan berarti berdamai dengan ketidakpastian.

Di titik inilah dunia film Indonesia menjadi ruang yang paradoksal tempat orang mencari makna, namun kerap harus mengorbankan kesejahteraan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, industri film kita akan selalu bergantung pada mereka yang rela dibayar murah demi mimpi besar. Idealisme memang mampu menyalakan api, tetapi tanpa keadilan, api itu hanya akan terus membakar orang-orang yang sama.

Sudah saatnya kita tidak hanya merayakan karya, tetapi juga memperjuangkan sistem yang lebih manusiawi bagi para penciptanya. Karena pada akhirnya, industri yang sehat bukan hanya melahirkan film-film hebat, tetapi juga kehidupan yang layak bagi mereka yang bekerja di baliknya.

Adisurya Abdy
📍 Pegiat Perfilman Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional - Budayantara TV
Artikel Film

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional

15 Oktober 20265 menit baca

Oleh : Karsono Hadi-Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia-(KFT Indonesia) KFT Dorong Festival Film Indonesia Memiliki Visi Jangka…

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial - Budayantara TV
Artikel

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial

12 Oktober 20262 menit baca

Oleh: Syahrudin AkbarWakil Ketua Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI JAYA) Jakarta — Budayantara.tv Di balik jalan yang bersih,…

Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan Pertunjukan - Budayantara TV
Artikel

Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan Pertunjukan

11 Oktober 20263 menit baca

Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo) Kebudayaan bukan sekadar pakaian adat, tarian tradisional, musik daerah, atau rangkaian seremoni yang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber