Komisi Geopolitik Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU 2026 Bahas Jihad Peradaban dan Penguatan Tradisi Keilmuan

Jombang, – Budayantara.tv Semangat menggali kembali akar peradaban dan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama mewarnai jalannya Rapat Komisi Geopolitik Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU 2026 yang berlangsung di Gedung Ir. Joko Widodo Lantai 3, Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (13/6/2026).
Forum yang menjadi bagian penting dari rangkaian Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU 2026 ini menghadirkan sejumlah narasumber dan pemikir yang kompeten di bidang geopolitik, kebudayaan, serta keislaman. Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti posisi Nahdlatul Ulama dalam menjawab tantangan global melalui penguatan tradisi ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Salah satu narasumber, , menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam dengan basis pengikut yang sangat besar memiliki tanggung jawab strategis dalam merumuskan arah peradaban masa depan.

“Nahdlatul Ulama memiliki modal sosial, kultural, dan intelektual yang sangat kuat. Karena itu, NU harus mengambil peran penting dalam merumuskan konsep Jihad Peradaban, yaitu ikhtiar membangun peradaban yang berakar pada ilmu pengetahuan, nilai-nilai kemanusiaan, dan kebudayaan,” ujar Najib Azca dalam pemaparannya.
Menurutnya, pesantren harus menjadi pusat pengembangan ilmu dan peradaban yang mampu melahirkan generasi unggul untuk menghadapi tantangan zaman.
“Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga harus menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di sinilah pentingnya Jihad Ilmu Pengetahuan, yaitu membangun tradisi berpikir, riset, dan inovasi sebagai bagian dari perjuangan peradaban,” tambahnya.
Mengusung tema “Kembali ke Akar”, Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU 2026 mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk kembali menelusuri fondasi keilmuan, kebudayaan, dan tradisi politik kebangsaan yang telah diwariskan para ulama pendiri NU.
Tema tersebut dinilai relevan di tengah berbagai tantangan global yang menuntut penguatan identitas, kemandirian intelektual, dan ketahanan budaya bangsa. Dengan kembali pada akar nilai dan tradisi keilmuan, Lesbumi NU diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai penjaga sekaligus penggerak kebudayaan Nusantara.
Rapat Komisi Geopolitik juga menjadi ruang perumusan gagasan strategis yang nantinya akan menjadi bagian dari rekomendasi Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU 2026. Berbagai pemikiran yang berkembang dalam forum ini diharapkan dapat memperkokoh posisi Lesbumi sebagai laboratorium kebudayaan Nahdlatul Ulama yang responsif terhadap perkembangan geopolitik dunia tanpa kehilangan jati diri keindonesiaan.
Melalui forum ini, para peserta menegaskan bahwa penguatan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan nilai-nilai kebangsaan merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban Indonesia yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap mampu menjawab tantangan masa depan.
(Toer)





