Lewati ke konten
28 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Lima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong PribadiKampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/SASARAN KUANTITAS vs DAMPAK BUDAYA
Artikel Film

SASARAN KUANTITAS vs DAMPAK BUDAYA

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama26 April 20263 menit baca📍 Jakarta
SASARAN KUANTITAS vs DAMPAK BUDAYA - Budayantara TV

Ke Mana Arah Film Kita Menuju?

Oleh: Karsono Hadi (Sutradara)

Jakarta – Budayantara.tv Di tengah geliat industri film Indonesia yang semakin riuh, ada dua arus besar yang terus bergerak berdampingan namun jarang benar-benar sejalan: pendekatan output-driven dan outcome-driven. Keduanya sama-sama penting, tetapi perbedaan cara pandang di antara keduanya diam-diam menentukan wajah perfilman kita hari ini dan masa depannya nanti.

Pendekatan output-driven bekerja dengan logika produksi. Ia menuntut angka yang jelas: berapa film dirilis dalam setahun, berapa juta penonton tercapai, seberapa besar pendapatan yang dihasilkan. Ritmenya cepat, nyaris seperti lini pabrik. Sutradara dikejar waktu, kru diburu efisiensi, dan rumah produksi menimbang segala sesuatu dengan hitungan ROI. Film lahir dari tekanan target—dan memang, hasilnya terlihat: jumlah film meningkat, layar terisi, industri bergerak.

Namun, setelah lampu bioskop menyala kembali, sering muncul pertanyaan sederhana dari penonton: “Apa yang tersisa?”

Di sisi lain, pendekatan outcome-driven berangkat dari kegelisahan yang lebih dalam. Ia tidak dimulai dari angka, melainkan dari pertanyaan: film ini ingin mengubah apa dalam diri penontonnya? Prosesnya lebih panjang, risetnya lebih serius, dan jalannya sering kali tidak mudah. Film seperti ini berani tidak populer, bahkan berisiko secara komersial. Tapi tujuannya jelas: membentuk cara pandang, menumbuhkan kepekaan, dan merawat kesadaran budaya.

Dalam pendekatan ini, keberhasilan tidak diukur dari tiket yang terjual, tetapi dari dampak yang tertinggal. Apakah penonton menjadi lebih memahami budaya lokal? Apakah mereka lebih peka terhadap realitas sosial? Apakah ada kebanggaan baru terhadap bahasa dan identitas sendiri?

Di tengah kebudayaan Indonesia yang kini berada di persimpangan antara komodifikasi dan pelestarian, ketegangan antara dua pendekatan ini terasa semakin nyata. Ketika budaya dengan mudah diubah menjadi konten, film yang berorientasi output cenderung mengikuti arus: tren viral, remake instan, sekuel yang dipercepat. Sementara film yang berorientasi outcome sering dipandang sebagai “terlalu berat”, “terlalu lambat”, atau “tidak menjual”.

Ironisnya, keduanya tetap berada di bawah payung yang sama: film nasional.

Lalu, apakah kita harus memilih salah satu? Jawabannya tidak sesederhana itu. Industri membutuhkan output untuk bertahan hidup, tetapi peradaban membutuhkan outcome untuk memiliki arti. Yang menjadi persoalan hari ini bukan keberadaan keduanya, melainkan ketimpangan perhatian: kita terlalu keras mengejar angka, namun terlalu lunak dalam menuntut dampak.

Pada akhirnya, waktu akan menjadi hakim yang paling jujur. Sejarah tidak akan mencatat berapa banyak film yang kita produksi, tetapi akan mengingat film mana yang benar-benar membentuk cara kita memahami diri sebagai bangsa.

Maka, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya: dari sekian banyak film yang kita tonton tahun ini, berapa yang benar-benar mengubah cara kita melihat sekitar tetangga, bahasa ibu, atau tanah tempat kita berpijak?

Jika jawabannya masih sedikit, barangkali kita perlu mulai menghargai proses yang lebih lambat. Karena tidak semua yang cepat akan bertahan, dan tidak semua yang ramai akan bermakna.

Budaya tidak lahir dari target. Ia tumbuh dari kesabaran, dari keberanian untuk jujur, dan dari keinginan untuk terus memberi arti bahkan ketika tak semua orang langsung mengerti.

Karsono Hadi
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar? - Budayantara TV
Artikel

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?

27 September 20263 menit baca

Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)…

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber