Jakarta — Budayantara.tv Sastra Betawi terus didorong agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hadir dan dekat dengan generasi muda. Semangat itu terlihat dalam kegiatan “Sastra Betawi Punya Festival” yang digelar Yayasan Kampung Silat Petukangan dalam rangka Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Serbaguna Yayasan Pendidikan Putra Satria, Jalan Ciledug Raya No. 46, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, tersebut mempertemukan pelajar, mahasiswa, guru, pelaku budaya hingga para kreator seni dalam satu ruang pembelajaran kebudayaan.
Ketua Umum Yayasan Kampung Silat Petukangan, H. Naupal Haryawan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan masyarakat mengenai sastra Betawi sekaligus mendekatkannya dengan generasi muda.
“Alhamdulillah terlaksananya kegiatan Sastra Betawi Punya Festival ini dapat menambah wawasan bagi para pelajar, mahasiswa, guru, pelaku budaya serta para kreator seni,” ungkap H. Naupal Haryawan di sela kegiatan.
Menurut Naupal, tantangan ke depan adalah bagaimana tradisi sastra Betawi dapat terus digunakan dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi Gen-Z.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya Betawi sebagai identitas masa lalu, tetapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan dan mengembangkan bahasa serta sastra Betawi dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagaimana tradisi sastra Betawi ini dapat menjadi bahasa yang dapat dipakai dan diterima oleh semua kalangan, terutama Gen-Z. Kita harus bangga berbahasa Betawi,” tuturnya.
Ruang Pertemuan Tradisi dan Kreativitas
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Deviyanti Asmalasari, S.S., M.Pd, Kepala Kantor Bahasa Banten. Ia menilai kegiatan yang digagas Yayasan Kampung Silat Petukangan merupakan ruang penting untuk mengenalkan, merawat, sekaligus menghidupkan kembali sastra Betawi di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan materi tentang sastra, tetapi juga mempertemukan unsur tradisi, pendidikan, komunitas dan kreativitas dalam satu ruang kebudayaan.
“Kegiatan ini menjadi ruang yang sangat baik untuk mengenalkan, merawat, dan menghidupkan sastra Betawi di tengah generasi muda. Kegiatan ini juga mempertemukan tradisi, pendidikan, komunitas, dan kreativitas dalam satu ruang budaya,” jelas Deviyanti.
Ia berharap inisiatif serupa dapat terus tumbuh sehingga sastra Betawi tetap hidup, diwariskan dan mampu menemukan relevansinya di tengah generasi mendatang.
“Semoga inisiatif seperti ini terus tumbuh dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan sastra Betawi tetap hidup, diwariskan, dan relevan bagi generasi mendatang. Selamat dan sukses untuk Yayasan Kampung Silat Petukangan,” tambahnya.
Sementara itu, budayawan Betawi sekaligus Ketua Litbang LKB, Yahya Andi Saputra, M.Hum, menilai kegiatan “Sastra Betawi Punya Festival” memiliki peran penting dalam sosialisasi dan edukasi literasi serta kesastraan Betawi kepada masyarakat.
Ia mengatakan, perkembangan dan kuantitas sastrawan Betawi masih menghadapi tantangan dibandingkan dengan sejumlah tradisi sastra etnik lainnya. Karena itu, diperlukan tekad dan gerakan berkelanjutan dari masyarakat Betawi untuk memperkuat ekosistem sastra tersebut.
“Masyarakat Betawi harus bertekad mengejar ketertinggalan itu. Kegiatan edukasi yang digagas Yayasan Kampung Silat Petukangan dapat dikatakan sebagai salah satu upaya strategis itu,” tegas Yahya.
Menurutnya, semakin sering kegiatan edukasi dan pengenalan sastra Betawi dilakukan, semakin besar pula peluang tumbuhnya generasi baru yang mengenal, mencintai dan mengembangkan kesusastraan Betawi.
“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi,” ujarnya.
Belajar Sastra Betawi Secara Langsung
Antusiasme peserta juga terlihat dalam berbagai praktik kebudayaan yang diberikan selama kegiatan. Dr. Siti Gomo Attas, M.Hum, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengatakan peserta menunjukkan ketertarikan dalam mempelajari bahasa dan sastra Betawi.
Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui pemaparan teori, tetapi juga melalui praktik, antara lain pantun palang pintu, pengantar Sohibul Hikayat, hingga lagu Gambang Rancag.
“Kegiatan ini luar biasa karena para peserta antusias untuk belajar bahasa dan sastra Betawi seperti praktik pantun palang pintu, pengantar Sohibul Hikayat dan lagu Gambang Rancag,” kata Siti Gomo.
Ia mengapresiasi Yayasan Kampung Silat Petukangan yang telah membuka ruang perjumpaan antara generasi muda dengan tradisi sastra Betawi.
“Terima kasih untuk Yayasan Kampung Silat Petukangan, semoga silaturahmi ini akan terus berlanjut,” harapnya.
Selain para narasumber, kegiatan turut dihadiri Ust. Ita Saputra, praktisi Sohibul Hikayat, serta pelajar, mahasiswa, guru, pelaku budaya dan kreator seni.
Melalui “Sastra Betawi Punya Festival”, Yayasan Kampung Silat Petukangan menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada seremoni. Sastra Betawi justru dapat terus hidup ketika dikenalkan melalui ruang pendidikan, praktik seni, komunitas dan kreativitas—serta diberi kesempatan untuk tumbuh bersama generasi muda.




