Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran
Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo) -Ketua DPW Sekber Wartawan Indonesia (SWI) DKI Jakarta
Jakarta — Budayantara.tv Ketika isu Palestina hadir di ruang publik, pertarungan narasi tidak hanya berlangsung di medan politik dan diplomasi. Media, musik, seni, dan kebudayaan ikut menjadi ruang penting tempat suara kemanusiaan disampaikan, diperdebatkan, bahkan dibingkai dengan perspektif yang berbeda.
Pertanyaan “Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?” menjadi relevan untuk melihat bagaimana sebuah pesan tentang kemanusiaan dapat diterima publik melalui berbagai medium mulai dari pemberitaan media massa, karya musik, pernyataan seniman, hingga pagelaran kebudayaan.
Dalam konteks tersebut, Macklemore dan Ed Sheeran dapat menjadi bahan analisis menarik. Keduanya berasal dari dunia musik dengan karakter, audiens, dan bentuk ekspresi yang berbeda. Respons publik terhadap sikap maupun karya seniman yang dikaitkan dengan isu Palestina juga menunjukkan bahwa sebuah pesan tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan konteks politik, framing media, algoritma media sosial, serta latar belakang budaya audiens.
Bagi akademisi dan praktisi media, persoalannya bukan sekadar apakah seorang musisi menyampaikan dukungan atau sikap tertentu. Yang lebih penting adalah bagaimana pesan tersebut diberitakan, dikutip, dikontekstualisasikan, dan kemudian dimaknai oleh masyarakat.
Ketika musik menjadi bahasa kemanusiaan
Musik memiliki kemampuan menjangkau publik yang mungkin tidak tersentuh oleh bahasa politik formal. Lirik, panggung, simbol, hingga gestur seorang seniman dapat menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan tentang perang, penderitaan warga sipil, perdamaian, dan kemanusiaan.
Namun, di sinilah peran media menjadi penting.
Satu pernyataan dapat diberitakan sebagai sikap politik. Pernyataan yang sama dapat ditempatkan sebagai ekspresi kemanusiaan. Bahkan, sebuah karya seni bisa saja dipahami berbeda ketika dipindahkan dari panggung musik ke ruang pemberitaan.
Framing kemudian menjadi bagian penting dalam membaca fenomena tersebut.
Bukan berarti media harus memiliki sudut pandang yang sama. Justru keberagaman perspektif merupakan bagian dari kehidupan media. Tetapi publik memiliki kepentingan untuk mengetahui konteks secara utuh: apa yang sebenarnya dikatakan, kapan disampaikan, dalam situasi apa, dan bagaimana sumber informasi tersebut diverifikasi.
Dari panggung musik menuju ruang budaya
Menariknya, pembicaraan mengenai Palestina tidak selalu harus berlangsung dalam bahasa politik yang keras.
Pada Oktober 2026, sebuah ruang yang lebih sederhana justru tengah dipersiapkan melalui Budayantara Fest 2026. Pergelaran yang menghadirkan kekayaan budaya Nusantara dan Betawi itu membawa gagasan bahwa kebudayaan dapat menjadi bahasa persahabatan, solidaritas, dan kemanusiaan.
Di ruang kebudayaan, solidaritas tidak harus selalu diterjemahkan melalui slogan. Ia dapat hadir melalui pertemuan manusia, kesenian, tradisi, gotong royong, dan simbol-simbol persaudaraan.
Di sinilah budaya Betawi mendapatkan ruang untuk berbicara.
Betawi memiliki tradisi keterbukaan, pergaulan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan kemanusiaan secara lebih dekat dengan masyarakat.
Budayantara Fest 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah panggung budaya dapat menghadirkan percakapan yang lebih luas: bahwa kepedulian terhadap penderitaan manusia dapat disampaikan melalui cara-cara yang damai, inklusif, dan berakar pada kebudayaan.
Siapa yang bersuara, siapa yang didengar?
Pertanyaan tersebut akhirnya kembali kepada media.
Dalam era digital, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi produsen informasi. Namun, tidak semua suara mendapatkan ruang yang sama. Ada suara yang menjadi berita utama, ada yang hanya menjadi potongan video, ada yang viral dalam hitungan jam, dan ada pula yang tenggelam di tengah derasnya arus informasi.
Karena itu, tantangan media bukan hanya memberitakan siapa yang bersuara, tetapi juga membantu publik memahami mengapa suara tersebut penting, dalam konteks apa suara itu muncul, dan bagaimana kebenarannya dapat diperiksa.
Kasus Macklemore dan Ed Sheeran dapat ditempatkan dalam kerangka diskusi tersebut bukan untuk mencari siapa yang paling benar atau paling salah, melainkan untuk membedah bagaimana musik, figur publik, media, dan audiens saling berinteraksi ketika berhadapan dengan isu Palestina.
Pada akhirnya, Palestina bukan sekadar persoalan headline.
Di balik setiap angka korban, foto kehancuran, potongan video, pernyataan tokoh, maupun lagu yang viral, terdapat manusia dan cerita tentang kehidupan.
Dan mungkin, dari panggung sederhana kebudayaan Betawi di Budayantara Fest 2026, muncul pesan yang juga sederhana: kemanusiaan tidak mengenal batas budaya, bangsa, maupun panggung.
Sebab ketika budaya berbicara, yang diharapkan bukan sekadar suara yang semakin keras, tetapi pesan kemanusiaan yang semakin didengar.***




