Oleh : Masdjo Arifin (Founder Budayantara Media Nusantara)
Sungai Citarum menyimpan narasi besar tentang bagaimana sebuah bentang alam membentuk kejayaan Nusantara. Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-4 hingga ke-8 Masehi, Citarum adalah urat nadi Kerajaan Tarumanagara menjadi tol air purba, jantung pangan, hingga pusat peradaban. Namun, seiring berjalannya waktu, kedekatan emosional dan spiritual masyarakat modern terhadap sungai ini mulai memudar.Untuk menjembatani kembali masa lalu yang gemilang dengan masa depan yang berkelanjutan, Festival Air Citarum adalah sebuah urgensi. Kegiatan ini bukan sekadar perayaan hura-hura, melainkan sebuah gerakan budaya, edukasi, dan ekologi.Berikut adalah alasan kuat mengapa Festival Air Citarum harus diwujudkan:
Merawat Memori Kolektif dan Edukasi Sejarah
Masyarakat hari ini perlu diingatkan bahwa mereka tinggal di atas tanah bekas salah satu kerajaan tertua di Indonesia. Festival air dapat menjadi ruang kelas terbuka yang interaktif.
- Teatrikal Prasasti Tugu: Menggambarkan kembali momen monumental saat Raja Purnawarman memimpin penggalian saluran air Gomati dan Candrabaga.
- Nostalgia Tol Air Purba: Menampilkan parade perahu tradisional untuk mengedukasi generasi muda tentang peran Citarum sebagai jalur perdagangan internasional masa lalu.
- Mengubah Wajah Sungai: Dari “Tempat Sampah” Menjadi Beranda Depan
Selama beberapa dekade terakhir, Citarum kerap mendapat sorotan negatif akibat isu pencemaran. Festival air memiliki kekuatan psikologis untuk mengubah cara pandang masyarakat.
- Mengembalikan Budaya Bersih: Festival memaksa semua elemen masyarakat dan pemerintah untuk bergotong-royong membersihkan sungai menjelang acara.
- Perubahan Paradigma: Ketika sungai dijadikan panggung utama festival, masyarakat akan melihat Citarum sebagai aset berharga yang harus dijaga keindahannya, bukan lagi sebagai halaman belakang tempat membuang limbah.
Wadah Diplomasi Ekologi dan Konservasi Kreatif
Menyelamatkan Citarum tidak bisa hanya dengan regulasi kaku, melainkan harus menyentuh hati masyarakat lewat pendekatan kreatif. Festival air dapat mengemas kampanye lingkungan menjadi kegiatan yang menyenangkan.
- Ritual Adat Melarung Benih: Mengadaptasi penghormatan leluhur terhadap air dengan aksi nyata seperti pelepasan jutaan bibit ikan endemik dan penanaman pohon di sepanjang bantaran sungai.
- Kompetisi Inovasi Kebersihan: Mengundang komunitas kreatif dan akademis untuk memamerkan teknologi penjernih air atau kapal pembersih sampah buatan lokal selama festival berlangsung. Magnet Ekonomi Baru Berbasis Ekowisata Budaya
Kerajaan Tarumanagara berjaya karena perdagangan di sepanjang Citarum. Festival ini dapat membangkitkan kembali roda ekonomi lokal secara modern melalui sektor pariwisata.
- Pasar Apung Tradisional: Menghidupkan kembali suasana perdagangan purba di mana UMKM lokal dapat menjual hasil bumi, kuliner khas Sunda, dan kerajinan tangan langsung dari atas perahu.
- Daya Tarik Wisatawan: Festival yang dikemas apik akan menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, yang berdampak langsung pada pendapatan masyarakat di sekitar aliran sungai.
Budayantara kedepannya berharap menyelenggarakan Festival Air Citarum adalah cara terbaik untuk membayar utang budi kita kepada alam.***




