Lewati ke konten
1 November 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Denny JA dan Mahwi Airtawar Ulasan Buku Rumah itu Bernama IndonesiaJakarta Jadi Tuan Rumah World Cities Culture Summit 2027, Budaya Betawi Bersiap MenduniaBudayantara Fest 2026: Budaya Betawi dan Nusantara Jadi Jembatan Solidaritas Indonesia–PalestinaRenee Partina : Diplomasi Budaya Indonesia–Palestina Budayantara Hadirkan Keberagaman Seni Nusantara
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/MERAJUT ASA DI UJUNG SENJA
Artikel

MERAJUT ASA DI UJUNG SENJA

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama1 November 20263 menit baca
MERAJUT ASA DI UJUNG SENJA - Budayantara TV
  • Catatan Novel ” Diana Memang Manja” Karya SBY

​Oleh: M.Guntur Alting

Dewan Pembina SWI DPW DKI Jakarta

Ia tidak melupakan Ibu Ani. Ia merawat kenangan itu dengan cara yang paling mulia “mencipta.”

​Di panggung sejarah Indonesia modern, nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lekat dengan citra ketegasan, kalkulasi yang matang, dan kedisiplinan seorang jenderal bintang empat.

Selama satu dekade memimpin Republik ini, ia adalah nahkoda yang terbiasa membaca peta turbulensi politik, mengukur risiko ekonomi global, dan meredam riak-riak sosial yang kerap menguji keutuhan bangsa.

Namun, di balik seragam militer yang pernah melekat dan jubah kekuasaan yang telah ditanggalkan, tersimpan sebuah ruang batin yang sunyi—sebuah teritori privat yang hanya bisa diakses oleh kelembutan seni.

​Ketika takdir garis tangan memanggil sang belahan jiwa, Kristiani Herrawati—yang akrab disapa Ani Yudhoyono—pada 1 Juni 2019, dunia SBY seakan kehilangan porosnya.

Kehilangan seorang pendamping hidup yang telah membersamai liku-liku pengabdian selama hampir setengah abad meninggalkan rongga dada yang menganga.

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana seorang mantan presiden bertahan hidup, melainkan bagaimana ia merajut kembali kepingan hatinya yang berserakan di tengah kesunyian.

​Jawabannya terbentang di atas kanvas, melodi lagu-lagu gubahannya, bait puisi yang syahdu, dan kini, lewat lembaran novel terbarunya yang berjudul Diana Memang Manja.

​The Return of the Lost Artist

​Publik mungkin terkejut tatkala melihat seorang tokoh politik senior beralih peran menjadi kreator fiksi. Namun, bagi SBY, dunia tulis-menulis bukanlah tempat singgah yang asing.

Jauh sebelum bintang-bintang di pundaknya berkilau dan sebelum namanya menghiasi baliho-baliho pemilu, ia adalah seorang anak muda yang gemar merangkai kata.

Sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, imajinasinya telah berkelana lewat cerpen-cerpen berbahasa Jawa dan Indonesia.

​Pernyataan SBY bahwa dirinya bukanlah “mualaf tentara, politisi menjadi seniman” menyimpan sebuah renungan sosiologis dan psikologis yang mendalam.

Ia menegaskan konsep “the return of the lost artist”—kembalinya seorang seniman sejati setelah lama berkelana memenuhi panggilan tugas negara.

Selama puluhan tahun, hasrat estetikanya terpaksa diredam oleh tuntutan komando dan birokrasi pemerintahan. Politik dan militer adalah sebuah keharusan sejarah; tetapi seni adalah rumah nuraninya yang paling sejati.

​Ketika panggung kekuasaan meredup dan badai duka menerpa, sang seniman pulang. Ia kembali ke habitat aslinya: dunia rasa, di mana imajinasi menjadi medium paling jujur untuk berdamai dengan kenyataan.

​Fiksi sebagai Katarsis

​Novel Diana Memang Manja tentu tidak boleh dibaca sekadar sebagai karya pelipur lara atau pelarian sesaat.

Di balik jalinan cerita romansa, misteri, dan pergulatan psikologis manusia yang diracik melalui riset matang, terselip otobiografi emosional sang penulis.

SBY secara terbuka mengakui bahwa sebagian dari duka dan kerinduan mendalam yang ia rasakan bertahun-tahun silam dituangkan ke dalam narasi novel tersebut.

​Dalam masyarakat kita, sering kali ada tuntutan kultural agar seseorang yang berduka segera “melupakan” dan menatap masa depan seolah-olah tidak ada masa lalu yang terkoyak.

Namun, SBY menempuh jalan yang lebih manusiawi dan bermartabat. Melalui karya fiksinya, ia menunjukkan bahwa merawat kenangan bukanlah bentuk ketidakmampuan untuk move on, melainkan sebuah bentuk penghormatan tertinggi kepada cinta yang pernah mengubah jalannya semesta.

​“Meskipun she is gone, saya tidak pernah melupakan,” adalah sebuah ikrar sunyi dari seorang pria yang memahami bahwa cinta sejati tidak pernah mati; ia hanya bertransformasi wujud menjadi kenangan abadi yang menuntun langkah di sisa usia.

​Menemukan Kekuatan di Titik Balik

​Kini, bertahun-tahun setelah kepergian Ibu Ani, SBY berdiri di tempat yang berbeda. Ia mengaku telah menemukan kembali keteguhan fondasi jiwanya.

“Sekarang saya lebih kuat. Saya sudah move on,” ujarnya dengan nada yang menyiratkan ketenangan seorang statesman yang telah merampungkan ujian terberat dalam hidupnya.

​Transformasi SBY dari seorang pemimpin politik menjadi seorang kreator sastra di usia senja memberi kita pelajaran hidup yang berharga.

Bahwa di ujung usia, keteladanan terbesar tidak hanya diukur dari seberapa besar kekuasaan yang pernah dipegang, tetapi dari bagaimana seseorang mengelola kerapuhan, merawat cinta, dan mengubah rasa kehilangan menjadi karya yang abadi.

​Diana Memang Manja pada akhirnya bukan sekadar tambahan bibliografi di rak-rak toko buku.

Ia adalah monumen kemanusiaan—sebuah bukti bahwa di balik ketegasan seorang pemimpin, selalu ada hati yang mampu mencintai secara tak bertepi, dan lewat aksara, cinta itu menemukan jalannya untuk pulang.(***)

Oleh: M.Guntur Alting
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

MENGANTAR PULANG SANG SINGA PODIUM - Budayantara TV
Artikel

MENGANTAR PULANG SANG SINGA PODIUM

18 Oktober 20265 menit baca

Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina SWI Jaya PUKUL, 10.20 di group Pengurus DPC PRI DKI Jakarta-Selatan, saya dikejutkan…

REPUBLIK STRES - Budayantara TV
Artikel

REPUBLIK STRES

15 Oktober 20262 menit baca

-Ketika 75 Persen Rakyat Kehilangan Ruang Bernapas Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina SWI Jaya (DPW SWI DKI Jakarta)…

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional - Budayantara TV
Artikel Film

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional

15 Oktober 20265 menit baca

Oleh : Karsono Hadi-Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia-(KFT Indonesia) KFT Dorong Festival Film Indonesia Memiliki Visi Jangka…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber