Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Jejak Pengabdian Seorang Jenderal: Mengenang Letjen TNI Mar (Purn) Suharto
Artikel Kebangsaan Tokoh

Jejak Pengabdian Seorang Jenderal: Mengenang Letjen TNI Mar (Purn) Suharto

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama19 April 20262 menit baca📍 Jakarta
Jejak Pengabdian Seorang Jenderal: Mengenang Letjen TNI Mar (Purn) Suharto - Budayantara TV

Oleh : Masdjo Arifin (Founder Budayantara Network).

Jakarta – Budayantara.tv Kepergian Letjen TNI Marinir (Purn) Suharto meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar Korps Marinir, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Sosoknya bukan sekadar perwira tinggi militer, melainkan juga saksi hidup perjalanan bangsa di salah satu fase paling genting: masa transisi menuju Reformasi 1998.

Bagi sebagian kalangan, nama Suharto mungkin tak sepopuler tokoh-tokoh lain di ruang publik. Namun bagi mereka yang memahami sejarah militer Indonesia, ia adalah figur penting seorang komandan yang berdiri di garis depan saat Jakarta berada dalam kondisi paling rapuh.

Pada tahun 1998, ketika gelombang demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial mengguncang ibu kota, Suharto menjabat sebagai Komandan Korps Marinir (Dankormar). Bersama Prabowo Subianto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad, serta Sjafrie Sjamsoeddin sebagai Pangdam Jaya, ia mengemban tanggung jawab besar: menjaga stabilitas dan mencegah situasi semakin memburuk.

Pasukan Marinir di bawah kepemimpinannya dikerahkan untuk mengamankan titik-titik krusial, termasuk Gedung DPR/MPR di Senayan. Di tengah ketegangan dan tekanan yang luar biasa, Suharto dikenal sebagai sosok yang tetap tenang, tegas, namun juga dekat dengan rakyat. Banyak yang mengenangnya hadir langsung di lapangan, menyaksikan denyut aspirasi masyarakat yang sedang mencari perubahan.

Yang membuatnya berbeda bukan hanya keberanian, tetapi juga cara pandangnya terhadap bangsa. Ia tidak melihat gejolak 1998 semata sebagai ancaman keamanan, melainkan sebagai momentum refleksi bagi Indonesia untuk berbenah. Sikap inilah yang membuatnya dihormati, bahkan oleh mereka yang berada di luar institusi militer.

Selepas Reformasi, kariernya terus menanjak. Pada tahun 1999, ia dipercaya menjabat sebagai Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan dan Keamanan. Pencapaian ini tidaklah biasa terlebih bagi seorang perwira dari Korps Marinir, yang sangat jarang mencapai pangkat bintang tiga pada masa itu. Hal ini menjadi bukti integritas, kapasitas, dan dedikasi yang ia miliki sepanjang pengabdiannya.

Di luar kedinasan, Suharto juga dikenal sebagai pribadi yang terbuka dan kritis. Dalam sebuah kesempatan silaturahmi di kediamannya di kawasan Kelapa Gading, ia berbagi pandangan tentang arah bangsa dan kepemimpinan sahabat lamanya, Prabowo Subianto. Ucapannya lugas, tajam, namun tetap dilandasi rasa cinta terhadap negeri ini. Ia tidak segan mengingatkan, sekaligus memberikan harapan.

Kini, suara itu telah terdiam. Namun gagasan dan semangatnya tetap hidup terutama dalam konteks Indonesia hari ini yang masih terus berproses mencari keseimbangan antara stabilitas, demokrasi, dan keadilan sosial.

Kepergian Letjen TNI Mar (Purn) Suharto bukan hanya kehilangan seorang jenderal, tetapi juga kehilangan seorang penjaga nilai tentang keberanian, kesetiaan, dan tanggung jawab terhadap bangsa.

Selamat jalan, Jenderal.
Pengabdianmu menjadi bagian dari sejarah, dan keteladananmu akan terus hidup dalam ingatan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, dan melapangkan tempatnya di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

.

Letjen TNI Mar Suharto
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar? - Budayantara TV
Artikel

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?

27 September 20263 menit baca

Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)…

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber