Jakarta,- Budayantara.tv Tahukah kita, bahwa di balik berdirinya dua organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ada satu nama dari Ranah Minangkabau yang terjalin erat dalam sejarah persahabatan keilmuan mereka?
Ia bukan tokoh Jawa. Bukan pula pemimpin organisasi nasional yang sering disebut di buku pelajaran. Namun jejaknya justru mengakar kuat dalam sendi keislaman Nusantara.
Beliau adalah Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli, yang oleh masyarakat Minangkabau dipanggil dengan penuh hormat: Inyiak Canduang.
Sosoknya sederhana berkacamata bulat, bersorban, tutur katanya lembut namun tegas. Ia bukan sekadar ulama kampung. Inyiak Canduang adalah penjaga Ahlussunnah wal Jama’ah di Sumatera Barat, pendidik besar, pejuang kemerdekaan, sahabat para pendiri bangsa, sekaligus pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).
Lahir dari Rahim Keilmuan (1871)
Inyiak Canduang lahir pada tahun 1871 di Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat sebuah nagari yang kelak dikenal sebagai pusat pendidikan Islam.
Ia lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Syekh Muhammad Rasul, adalah ulama terpandang dan menjadi guru pertamanya. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam tradisi surau Minangkabau: tradisi yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga adab, disiplin, dan tanggung jawab moral.
Berguru di Mekkah dan Persahabatan Tiga Tokoh Besar.
Rasa haus akan ilmu membawanya menempuh perjalanan jauh ke Tanah Suci Mekkah. Di sana, ia berguru kepada ulama besar Minangkabau yang menjadi Imam Masjidil Haram: Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Sejarah mencatat sebuah peristiwa sunyi namun monumental. Dalam satu majelis ilmu, duduk tiga murid yang kelak mengubah wajah Islam Indonesia:
KH Hasyim Asy’ari
KH Ahmad Dahlan
Syekh Sulaiman ar-Rasuli
Mereka belajar dari sumber yang sama, namun menempuh jalan dakwah yang berbeda.
KH Hasyim Asy’ari menguatkan pesantren dan tradisi keilmuan di Jawa, KH Ahmad Dahlan melakukan tajdid melalui Muhammadiyah, sementara Inyiak Canduang kembali ke Minangkabau untuk menjaga mazhab Syafi’i dan tradisi Aswaja.
Perbedaan metode tak pernah memutus persaudaraan.
Membaharu Tanpa Mencabut Akar: MTI Canduang (1928)
Sekembali dari Mekkah, Inyiak Canduang melihat kenyataan pahit: sistem pendidikan surau mulai tertinggal di tengah tekanan kolonial dan perubahan zaman.
Namun ia tidak menolak tradisi. Ia justru membaharu dari dalam.
Pada tahun 1928, ia mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang. Sebuah langkah berani dan visioner pada masanya:
Sistem kelas dengan meja dan bangku
Kurikulum yang terstruktur
Disiplin belajar modern
Namun tetap berlandaskan kitab kuning dan manhaj ulama salaf.
Inilah bukti nyata bahwa ulama “Kaum Tua” tidak identik dengan kolot. Inyiak Canduang menunjukkan: aqidah bisa kokoh, metode bisa lentur.
Ulama Pejuang dan Penjaga Bangsa
Inyiak Canduang bukan ulama yang hanya berdiam di balik sajadah. Ia berdiri di barisan terdepan melawan ketidakadilan.
Ia menentang Ordonansi Sekolah Liar kebijakan kolonial Belanda yang membatasi pendidikan Islam. Pengaruh dan kharismanya membuat penjajah tidak bisa bertindak sembarangan.
Di masa kemerdekaan, ia turut berperan dalam kehidupan kebangsaan dan dipercaya menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia.
Presiden Soekarno pun dikenal sangat menghormatinya—sebuah pengakuan atas peran ulama tradisional dalam menjaga persatuan dan identitas bangsa.
Wafat dan Warisan yang Tak Pernah Padam (1970)
Pada 1 Agustus 1970, Inyiak Canduang wafat. Ribuan umat mengiringi kepergiannya. Tangis, doa, dan rasa kehilangan menyatu di tanah Minangkabau.
Namun jasadnya boleh pergi—warisannya tetap hidup:
MTI Canduang masih berdiri kokoh
Jaringan PERTI terus berdenyut
Ribuan murid dan alumni menyebar ke seluruh Nusantara
Mereka melanjutkan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin: berakar pada tradisi, santun dalam perbedaan, dan setia pada tanah air.
Renungan untuk Kita
Dari Inyiak Canduang, kita belajar satu pelajaran besar:
Menjadi modern tidak harus mencabut akar tradisi.
Teguh dalam aqidah, lapang dalam metode, dan setia pada persatuan itulah teladan Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli.
Mari kita hadiahkan Al-Fatihah untuk beliau.
Semoga ilmu dan perjuangannya menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir zaman.Al-Fatihah.




