Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-MemoriamSelamat Jalan Mas Guruh, Putra Bung Karno yang Mengabdikan Hidupnya untuk Seni dan Kebudayaan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Dari Dapur, Jalanan, hingga Ruang Sidang: Adipatilawe dan Jalan Panjang Keberpihakan
Icon News

Dari Dapur, Jalanan, hingga Ruang Sidang: Adipatilawe dan Jalan Panjang Keberpihakan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama6 Februari 20263 menit baca📍 Jakarta
Dari Dapur, Jalanan, hingga Ruang Sidang: Adipatilawe dan Jalan Panjang Keberpihakan - Budayantara TV

Jakarta — Budayantara.tv Hidup Adipatilawe adalah perjalanan panjang melintasi ruang-ruang yang jarang saling menyapa. Dari dapur restoran yang pengap, lantai bangunan yang berdebu, hingga ruang sidang pengadilan yang dingin dan formal. Ia mengenal kerasnya hidup bukan dari teori, melainkan dari keringat, luka, dan kegigihan bertahan.

Lahir dengan nama Agus Setiawan, perjalanan hidupnya dimulai dari titik yang paling dasar. Ia sempat putus sekolah di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs). Di Surabaya, demi sekadar bertahan hidup, ia bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran. Dari pekerjaan paling sunyi itu, ia belajar tentang kerendahan hati dan ketekunan. Perlahan, kepercayaan tumbuh ia berpindah dari dapur belakang ke dapur utama, menjadi tukang masak. Dunia restoran menempanya dengan disiplin keras, jam kerja panjang, dan hierarki yang tak selalu adil.

Di waktu lain, Agus menjadi kuli bangunan. Mengangkat beban berat dengan upah minim memberinya pengalaman paling nyata tentang arti menjadi kelas pekerja tentang tubuh yang diperas, tentang tenaga yang murah, tentang suara yang jarang didengar. Pengalaman inilah yang kelak membentuk keberpihakan hidupnya, baik dalam seni maupun dalam hukum.

Langkahnya kemudian membawanya ke dunia jurnalistik. Sebagai wartawan di Surabaya, ia terbiasa menyusuri lapangan, mencatat konflik sosial, dan mendengarkan kisah warga yang terpinggirkan. Ia belajar bahwa fakta bukan sekadar data, tetapi jeritan manusia yang menunggu disuarakan. Ia juga sempat menjadi kontraktor sipil posisi yang membuatnya memahami relasi kuasa dan persoalan hukum dari dua sisi sekaligus: pekerja dan pengelola.

Ketika hijrah ke Jakarta, hidup kembali memaksanya memulai dari nol. Agus menjadi pengemudi ojek daring maupun driver perusahaan. Jalanan ibu kota menjadi ruang refleksi panjang tentang ketimpangan sosial, tentang kota yang tumbuh cepat tetapi meninggalkan banyak orang di belakang. Di balik kemudi, ia menyaksikan langsung kerasnya perjuangan kelas urban.

Namun di tengah seluruh fase berat itu, satu hal tak pernah ia lepaskan: seni.

Dengan nama panggung Adipatilawe, atau akrab disapa Lawe, ia dikenal luas sebagai sutradara teater yang konsisten menjadikan panggung sebagai ruang perlawanan. Karya-karyanya lantang mengangkat isu kemanusiaan, politik, dan ketidakadilan struktural termasuk solidaritas dan kemerdekaan Palestina. Di dunia teater Indonesia, Lawe dikenal sebagai seniman yang berpihak, vokal, dan tak gentar bersuara.

Konsistensi itu membuat namanya berakar kuat di komunitas seni pertunjukan. Ia dipercaya menjadi Ketua Yayasan Pelaku Teater Indonesia (YPTI) organisasi yang lahir dari ekosistem Pelaku Teater Indonesia (PTI)—serta berperan sebagai penghubung lintas komunitas, lintas daerah, dan lintas generasi. Ia juga tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU DKI Jakarta, memperkuat kontribusinya dalam pengembangan seni, budaya, dan nilai kebangsaan di ruang publik.

Perjalanan seninya bahkan menembus batas medium. Adipatilawe terlibat dalam produksi film layar lebar bersama rumah produksi Hitmaker, menandai langkah konsistennya menjembatani teater, sinema populer, dan wacana sosial.

Babak baru hidupnya dimulai ketika ia kembali ke bangku pendidikan. Agus Setiawan menyelesaikan studi Sarjana Hukum (S.H.), kemudian meraih gelar Magister Business Administration (MBA) di Malaysia, serta Magister Ilmu Hukum (M.H.) di Unsurya Jakarta. Perpaduan antara hukum dan manajemen menjadi fondasi kokoh bagi jalannya di dunia advokasi.

Kini, sebagai Adv. Agus Setiawan, S.H., MBA., M.H., ia menjalani profesi advokat dan mendirikan Lawe Law Firm. Melalui firma ini, ia aktif memberikan pendampingan hukum—baik litigasi maupun non-litigasi—dengan pendekatan yang membumi, humanis, dan berpihak pada mereka yang selama ini berada di pinggir sistem hukum.

“Bagi saya, hukum bukan hanya soal pasal, tapi soal keberpihakan dan martabat manusia,” ujarnya.

Perjalanan Adipatilawedari tukang cuci piring, kuli bangunan, tukang masak, wartawan, kontraktor sipil, pengemudi jalanan, seniman, hingga advokat adalah potret tentang ketekunan melintasi batas kelas sosial. Dari dapur restoran hingga ruang sidang, dari panggung teater hingga layar lebar, hidupnya menegaskan satu sikap yang tak pernah berubah: bahwa seni dan hukum dapat bertemu sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan.

Adipatilawe
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro - Budayantara TV
News

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro

26 September 20265 menit baca

Solo,– Budayantara.tv Penerbitan naskah wayang orang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh struktur identitas kultural bangsa Indonesia. Melalui…

Selamat Jalan Mas Guruh, Putra Bung Karno yang Mengabdikan Hidupnya untuk Seni dan Kebudayaan - Budayantara TV
News

Selamat Jalan Mas Guruh, Putra Bung Karno yang Mengabdikan Hidupnya untuk Seni dan Kebudayaan

26 September 20263 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh yang perjalanan hidupnya lekat dengan seni, musik dan kebudayaan.…

PJBW Pekan Ke -94 di Cilincing, Kolaborasi Bersama MADAS Nusantara Berbagi Ratusan Paket Nasi ke Warga - Budayantara TV
News

PJBW Pekan Ke -94 di Cilincing, Kolaborasi Bersama MADAS Nusantara Berbagi Ratusan Paket Nasi ke Warga

25 September 20264 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv Barengan bikin Jumat Berkah di Jalan Raya Cilincing, Jakarta Utara, Masyarakat Madura Asli (MADAS) Nusantara…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber