Jakarta — Budayantara.tv Hidup Adipatilawe adalah perjalanan panjang melintasi ruang-ruang yang jarang saling menyapa. Dari dapur restoran yang pengap, lantai bangunan yang berdebu, hingga ruang sidang pengadilan yang dingin dan formal. Ia mengenal kerasnya hidup bukan dari teori, melainkan dari keringat, luka, dan kegigihan bertahan.
Lahir dengan nama Agus Setiawan, perjalanan hidupnya dimulai dari titik yang paling dasar. Ia sempat putus sekolah di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs). Di Surabaya, demi sekadar bertahan hidup, ia bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran. Dari pekerjaan paling sunyi itu, ia belajar tentang kerendahan hati dan ketekunan. Perlahan, kepercayaan tumbuh ia berpindah dari dapur belakang ke dapur utama, menjadi tukang masak. Dunia restoran menempanya dengan disiplin keras, jam kerja panjang, dan hierarki yang tak selalu adil.
Di waktu lain, Agus menjadi kuli bangunan. Mengangkat beban berat dengan upah minim memberinya pengalaman paling nyata tentang arti menjadi kelas pekerja tentang tubuh yang diperas, tentang tenaga yang murah, tentang suara yang jarang didengar. Pengalaman inilah yang kelak membentuk keberpihakan hidupnya, baik dalam seni maupun dalam hukum.
Langkahnya kemudian membawanya ke dunia jurnalistik. Sebagai wartawan di Surabaya, ia terbiasa menyusuri lapangan, mencatat konflik sosial, dan mendengarkan kisah warga yang terpinggirkan. Ia belajar bahwa fakta bukan sekadar data, tetapi jeritan manusia yang menunggu disuarakan. Ia juga sempat menjadi kontraktor sipil posisi yang membuatnya memahami relasi kuasa dan persoalan hukum dari dua sisi sekaligus: pekerja dan pengelola.
Ketika hijrah ke Jakarta, hidup kembali memaksanya memulai dari nol. Agus menjadi pengemudi ojek daring maupun driver perusahaan. Jalanan ibu kota menjadi ruang refleksi panjang tentang ketimpangan sosial, tentang kota yang tumbuh cepat tetapi meninggalkan banyak orang di belakang. Di balik kemudi, ia menyaksikan langsung kerasnya perjuangan kelas urban.
Namun di tengah seluruh fase berat itu, satu hal tak pernah ia lepaskan: seni.
Dengan nama panggung Adipatilawe, atau akrab disapa Lawe, ia dikenal luas sebagai sutradara teater yang konsisten menjadikan panggung sebagai ruang perlawanan. Karya-karyanya lantang mengangkat isu kemanusiaan, politik, dan ketidakadilan struktural termasuk solidaritas dan kemerdekaan Palestina. Di dunia teater Indonesia, Lawe dikenal sebagai seniman yang berpihak, vokal, dan tak gentar bersuara.
Konsistensi itu membuat namanya berakar kuat di komunitas seni pertunjukan. Ia dipercaya menjadi Ketua Yayasan Pelaku Teater Indonesia (YPTI) organisasi yang lahir dari ekosistem Pelaku Teater Indonesia (PTI)—serta berperan sebagai penghubung lintas komunitas, lintas daerah, dan lintas generasi. Ia juga tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU DKI Jakarta, memperkuat kontribusinya dalam pengembangan seni, budaya, dan nilai kebangsaan di ruang publik.
Perjalanan seninya bahkan menembus batas medium. Adipatilawe terlibat dalam produksi film layar lebar bersama rumah produksi Hitmaker, menandai langkah konsistennya menjembatani teater, sinema populer, dan wacana sosial.
Babak baru hidupnya dimulai ketika ia kembali ke bangku pendidikan. Agus Setiawan menyelesaikan studi Sarjana Hukum (S.H.), kemudian meraih gelar Magister Business Administration (MBA) di Malaysia, serta Magister Ilmu Hukum (M.H.) di Unsurya Jakarta. Perpaduan antara hukum dan manajemen menjadi fondasi kokoh bagi jalannya di dunia advokasi.
Kini, sebagai Adv. Agus Setiawan, S.H., MBA., M.H., ia menjalani profesi advokat dan mendirikan Lawe Law Firm. Melalui firma ini, ia aktif memberikan pendampingan hukum—baik litigasi maupun non-litigasi—dengan pendekatan yang membumi, humanis, dan berpihak pada mereka yang selama ini berada di pinggir sistem hukum.
“Bagi saya, hukum bukan hanya soal pasal, tapi soal keberpihakan dan martabat manusia,” ujarnya.
Perjalanan Adipatilawedari tukang cuci piring, kuli bangunan, tukang masak, wartawan, kontraktor sipil, pengemudi jalanan, seniman, hingga advokat adalah potret tentang ketekunan melintasi batas kelas sosial. Dari dapur restoran hingga ruang sidang, dari panggung teater hingga layar lebar, hidupnya menegaskan satu sikap yang tak pernah berubah: bahwa seni dan hukum dapat bertemu sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan.




