Lewati ke konten
17 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
BETSLOW Gelar Jumat Berkah dan Santunan Anak Yatim, Perkuat Kepedulian Sosial di PetukanganMenebar Kebaikan di Tanjung Barat Jaksel, PJBW & GPIB Berbagi Ratusan Paket Nasi Siap Saji ke Para Penerima ManfaatREPUBLIK STRESStaf Khusus Menteri Agama Terima Budayantara di Masjid Istiqlal, Dorong Diplomasi Budaya Indonesia–Palestina
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI
Artikel Kebangsaan

WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama19 Agustus 20266 menit baca
WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI - Budayantara TV

Oleh: M. Guntur Alting
Dewan Pembina SWI Jaya

«“Manusia tidak mencatat waktu: waktulah yang mencatat manusia, lalu menuliskan sejarah di atas wajah dan ingatan kita.”
— Milan Kundera»

Jakarta,- Budayantara.tv WAKTU adalah pencuri yang paling sabar. Ia tidak datang dengan suara gaduh. Ia bekerja perlahan, hampir tak terasa—mengubah warna rambut, mengukir garis di wajah, dan menggeser manusia dari satu zaman ke zaman berikutnya.

Tak seorang pun mampu melarikan diri darinya.

Para kaisar, pemimpin, penyair, seniman, bahkan mereka yang pernah menjadi simbol kecantikan dan kemewahan, pada akhirnya harus berdamai dengan satu hukum yang sama: waktu tidak pernah berhenti.

Itulah yang tiba-tiba terlintas ketika saya melihat dua foto Ratna Sari Dewi Soekarno yang dijajarkan: satu dari masa mudanya dan satu lagi dari tahun 2026.

Seolah-olah waktu berhenti sejenak.

Bukan karena wajah itu masih sama.

Tetapi karena tatapan matanya masih menyimpan sesuatu yang sama.

Ketika Wajah Menjadi Arsip Sejarah

Di foto masa lalu, Dewi tampil sebagai perempuan muda dengan kecantikan yang memancarkan keyakinan dan misteri. Ia berada di tengah sebuah zaman yang penuh gejolak—ketika Indonesia sedang mengalami perubahan politik besar dan sejarah sedang ditulis dengan tinta yang tidak selalu ramah.

Puluhan tahun kemudian, wajah itu berubah.

Rambut yang dahulu hitam kini memutih. Garis-garis kehidupan semakin jelas. Wajah yang dulu merepresentasikan masa muda kini membawa sesuatu yang jauh lebih mahal: pengalaman.

Dan justru di situlah letak keindahannya.

Wajah manusia sesungguhnya bukan sekadar bagian tubuh. Wajah adalah arsip perjalanan hidup.

Di sana tersimpan tawa, kehilangan, kemenangan, luka, perjalanan, cinta, kesepian, juga keteguhan.

Pada wajah Dewi, waktu tidak tampak sebagai musuh.

Ia tampak seperti seorang penulis yang telah bekerja selama puluhan tahun.

Setiap kerutan adalah kalimat.
Setiap garis adalah paragraf.
Dan setiap tatapan adalah halaman dari sejarah panjang yang pernah ia jalani.

Ratna Sari Dewi, yang lahir dengan nama Naoko Nemoto di Tokyo pada 6 Februari 1940, kemudian menjadi bagian dari salah satu episode penting dalam sejarah Indonesia setelah menikah dengan Presiden Soekarno pada 1962 dan memperoleh nama Ratna Sari Dewi Soekarno.

Kita dan Ketakutan terhadap Waktu

Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan manusia modern.

Kita hidup di zaman yang mampu membuat manusia tampak lebih muda melalui teknologi. Filter digital dapat menghapus keriput dalam hitungan detik. Industri kecantikan menawarkan berbagai cara untuk melawan tanda-tanda usia.

Kita bahkan mulai terbiasa melihat wajah yang tidak lagi sepenuhnya nyata.

Tetapi waktu tetap memiliki caranya sendiri untuk berkata:

“Aku akan tetap datang.”

Karena itu, barangkali kita perlu mengubah cara memandang usia.

Keriput bukan aib.

Rambut putih bukan kekalahan.

Tubuh yang menua bukan kegagalan.

Sebab ada hal-hal yang hanya bisa diperoleh manusia setelah melewati perjalanan panjang: kebijaksanaan, ketenangan, dan kemampuan untuk memahami bahwa tidak semua hal harus dimenangkan.

Pada usia senjanya, Dewi justru memperlihatkan bahwa menjadi tua dapat menjadi sebuah bentuk keanggunan.

Ia tidak harus berpura-pura menjadi perempuan muda.

Ia tidak perlu bernegosiasi dengan kalender.

Ia hanya perlu berdiri sebagai dirinya sendiri.

Dan itu jauh lebih kuat.

Dewi dan Bayang-Bayang Masa Lalu

Sejarah selalu meninggalkan bayang-bayang.

Ada nama-nama yang perlahan dilupakan. Ada peristiwa yang hanya tinggal dalam buku. Ada tokoh yang akhirnya menjadi sekadar foto hitam putih dalam arsip.

Namun sebagian manusia tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Mereka tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Dewi adalah salah satu di antaranya.

Perjalanan hidupnya membuat dirinya tidak hanya menjadi figur personal dalam kehidupan Soekarno, tetapi juga saksi dari perubahan sebuah bangsa. Ia pernah berada di pusat perhatian ketika Indonesia berada dalam salah satu periode paling menentukan dalam sejarahnya.

Karena itu, ketika sosoknya kembali hadir dalam suasana peringatan kemerdekaan pada 2026, yang terlihat sesungguhnya bukan sekadar seorang perempuan tua yang datang menghadiri sebuah upacara.

Kita sedang melihat sepotong sejarah yang masih berjalan.

Ia adalah jembatan antara generasi.

Antara Indonesia yang pernah hidup di bawah bayang-bayang Perang Dingin dan Indonesia yang kini memasuki era kecerdasan buatan.

Antara dunia yang mengenal telegram, surat, radio dan mesin ketik dengan dunia yang berkomunikasi melalui algoritma dan layar.

Zaman berubah.

Teknologi berubah.

Bahasa berubah.

Tetapi manusia tetap membutuhkan satu hal yang sama:

ingatan.

Merawat Para Saksi Sejarah

Ada pelajaran penting dari kehadiran Dewi.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi, menciptakan teknologi baru, atau mengejar pertumbuhan ekonomi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat ingatannya.

Para saksi sejarah tidak selamanya hidup.

Karena itu, setiap kali kita masih dapat melihat, mendengar, atau menyaksikan langsung seseorang yang pernah menjadi bagian dari sebuah zaman, sesungguhnya kita sedang memperoleh kesempatan untuk menyentuh sejarah tanpa perantara.

Dewi adalah salah satu jembatan itu.

Ia membawa cerita tentang Indonesia masa lalu—tentang Soekarno, tentang kehidupan di lingkar kekuasaan, tentang pergolakan politik, tentang perjalanan lintas negara, dan tentang bagaimana seseorang bertahan ketika sebuah zaman berubah secara dramatis.

Tidak semuanya harus kita romantisasi.

Tidak semuanya harus kita setujui.

Tetapi semuanya layak untuk diingat dan dipelajari.

Sebab sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang.

Sejarah juga tentang siapa yang pernah menyaksikan, mengalami, dan kemudian membawa ingatan itu melintasi zaman.

Melawan Kefanaan dengan Keanggunan

Ada satu hal yang paling menarik dari dua wajah Dewi dalam dua zaman.

Bukan soal apakah ia masih cantik seperti dahulu.

Pertanyaan itu justru terlalu sederhana.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apa yang tersisa setelah kecantikan muda pergi?

Jawabannya adalah karakter.

Wibawa.

Ingatan.

Dan cara seseorang membawa dirinya setelah melewati begitu banyak musim kehidupan.

Di situlah Dewi menjadi menarik.

Ia tidak sedang berusaha mengalahkan waktu.

Ia justru seolah-olah telah berdamai dengannya.

Ia membiarkan rambut memutih. Ia membiarkan wajah menyimpan garis kehidupan. Namun ia tetap menjaga cara berdiri, cara berpakaian, cara memandang dan cara menghadirkan dirinya.

Seakan ingin mengatakan:

“Aku tidak takut menjadi tua. Aku hanya ingin tetap menjadi diriku sendiri.”

Dan mungkin, itulah bentuk perlawanan paling sunyi terhadap kefanaan.

Dewi Tetaplah Dewi

Pada akhirnya, dua foto itu bukan sekadar perbandingan tahun 1965 dan 2026.

Keduanya adalah dialog antara masa lalu dan masa kini.

Yang satu menunjukkan seorang perempuan muda yang sedang memasuki sejarah.

Yang lain menunjukkan seorang perempuan lanjut usia yang telah melewati sejarah.

Di antara keduanya ada lebih dari enam dekade perjalanan hidup.

Ada cinta.

Ada politik.

Ada kekuasaan.

Ada kehilangan.

Ada perubahan zaman.

Dan ada begitu banyak cerita yang tidak mungkin seluruhnya tertampung dalam satu artikel.

Tetapi satu hal terasa jelas:

waktu boleh mengubah wajah, tetapi tidak selalu mampu menghapus wibawa.

Dewi tetaplah Dewi.

Perempuan Jepang bernama Naoko Nemoto yang kemudian dikenal sebagai Ratna Sari Dewi Soekarno—sebuah nama yang telah menjadi bagian dari lembar panjang perjalanan sejarah Indonesia.

Ketika melihatnya di usia senja, saya justru tidak melihat seorang perempuan yang sedang kehilangan masa muda.

Saya melihat seorang perempuan yang telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting: kesempatan untuk menua tanpa kehilangan dirinya.

Maka, salam hormat untuk Ibu Dewi.

Sebab pada akhirnya, kecantikan mungkin dimiliki oleh masa muda.

Tetapi keanggunan adalah milik mereka yang berhasil melewati waktu.

Dewi Soekarno
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

REPUBLIK STRES - Budayantara TV
Artikel

REPUBLIK STRES

15 Oktober 20262 menit baca

-Ketika 75 Persen Rakyat Kehilangan Ruang Bernapas Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina SWI Jaya (DPW SWI DKI Jakarta)…

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional - Budayantara TV
Artikel Film

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional

15 Oktober 20265 menit baca

Oleh : Karsono Hadi-Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia-(KFT Indonesia) KFT Dorong Festival Film Indonesia Memiliki Visi Jangka…

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial - Budayantara TV
Artikel

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial

12 Oktober 20262 menit baca

Oleh: Syahrudin AkbarWakil Ketua Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI JAYA) Jakarta — Budayantara.tv Di balik jalan yang bersih,…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber