Lewati ke konten
19 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWIPuspita Sakanti Buka Resepsi Kenegaraan HUT RI ke-81 Temanggung dengan Bangilun Geol KenesUji Tari Sanggar Seni Kaloka Semarakkan HUT ke-81 RI di Yogya Toserba PemalangHUT RI ke-81, Akademisi UNIPA: Perdamaian Jadi Kunci Papua Maju
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI
Artikel Kebangsaan

WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama19 Agustus 20266 menit baca
WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI - Budayantara TV

Oleh: M. Guntur Alting
Dewan Pembina SWI Jaya

«“Manusia tidak mencatat waktu: waktulah yang mencatat manusia, lalu menuliskan sejarah di atas wajah dan ingatan kita.”
— Milan Kundera»

Jakarta,- Budayantara.tv WAKTU adalah pencuri yang paling sabar. Ia tidak datang dengan suara gaduh. Ia bekerja perlahan, hampir tak terasa—mengubah warna rambut, mengukir garis di wajah, dan menggeser manusia dari satu zaman ke zaman berikutnya.

Tak seorang pun mampu melarikan diri darinya.

Para kaisar, pemimpin, penyair, seniman, bahkan mereka yang pernah menjadi simbol kecantikan dan kemewahan, pada akhirnya harus berdamai dengan satu hukum yang sama: waktu tidak pernah berhenti.

Itulah yang tiba-tiba terlintas ketika saya melihat dua foto Ratna Sari Dewi Soekarno yang dijajarkan: satu dari masa mudanya dan satu lagi dari tahun 2026.

Seolah-olah waktu berhenti sejenak.

Bukan karena wajah itu masih sama.

Tetapi karena tatapan matanya masih menyimpan sesuatu yang sama.

Ketika Wajah Menjadi Arsip Sejarah

Di foto masa lalu, Dewi tampil sebagai perempuan muda dengan kecantikan yang memancarkan keyakinan dan misteri. Ia berada di tengah sebuah zaman yang penuh gejolak—ketika Indonesia sedang mengalami perubahan politik besar dan sejarah sedang ditulis dengan tinta yang tidak selalu ramah.

Puluhan tahun kemudian, wajah itu berubah.

Rambut yang dahulu hitam kini memutih. Garis-garis kehidupan semakin jelas. Wajah yang dulu merepresentasikan masa muda kini membawa sesuatu yang jauh lebih mahal: pengalaman.

Dan justru di situlah letak keindahannya.

Wajah manusia sesungguhnya bukan sekadar bagian tubuh. Wajah adalah arsip perjalanan hidup.

Di sana tersimpan tawa, kehilangan, kemenangan, luka, perjalanan, cinta, kesepian, juga keteguhan.

Pada wajah Dewi, waktu tidak tampak sebagai musuh.

Ia tampak seperti seorang penulis yang telah bekerja selama puluhan tahun.

Setiap kerutan adalah kalimat.
Setiap garis adalah paragraf.
Dan setiap tatapan adalah halaman dari sejarah panjang yang pernah ia jalani.

Ratna Sari Dewi, yang lahir dengan nama Naoko Nemoto di Tokyo pada 6 Februari 1940, kemudian menjadi bagian dari salah satu episode penting dalam sejarah Indonesia setelah menikah dengan Presiden Soekarno pada 1962 dan memperoleh nama Ratna Sari Dewi Soekarno.

Kita dan Ketakutan terhadap Waktu

Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan manusia modern.

Kita hidup di zaman yang mampu membuat manusia tampak lebih muda melalui teknologi. Filter digital dapat menghapus keriput dalam hitungan detik. Industri kecantikan menawarkan berbagai cara untuk melawan tanda-tanda usia.

Kita bahkan mulai terbiasa melihat wajah yang tidak lagi sepenuhnya nyata.

Tetapi waktu tetap memiliki caranya sendiri untuk berkata:

“Aku akan tetap datang.”

Karena itu, barangkali kita perlu mengubah cara memandang usia.

Keriput bukan aib.

Rambut putih bukan kekalahan.

Tubuh yang menua bukan kegagalan.

Sebab ada hal-hal yang hanya bisa diperoleh manusia setelah melewati perjalanan panjang: kebijaksanaan, ketenangan, dan kemampuan untuk memahami bahwa tidak semua hal harus dimenangkan.

Pada usia senjanya, Dewi justru memperlihatkan bahwa menjadi tua dapat menjadi sebuah bentuk keanggunan.

Ia tidak harus berpura-pura menjadi perempuan muda.

Ia tidak perlu bernegosiasi dengan kalender.

Ia hanya perlu berdiri sebagai dirinya sendiri.

Dan itu jauh lebih kuat.

Dewi dan Bayang-Bayang Masa Lalu

Sejarah selalu meninggalkan bayang-bayang.

Ada nama-nama yang perlahan dilupakan. Ada peristiwa yang hanya tinggal dalam buku. Ada tokoh yang akhirnya menjadi sekadar foto hitam putih dalam arsip.

Namun sebagian manusia tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Mereka tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Dewi adalah salah satu di antaranya.

Perjalanan hidupnya membuat dirinya tidak hanya menjadi figur personal dalam kehidupan Soekarno, tetapi juga saksi dari perubahan sebuah bangsa. Ia pernah berada di pusat perhatian ketika Indonesia berada dalam salah satu periode paling menentukan dalam sejarahnya.

Karena itu, ketika sosoknya kembali hadir dalam suasana peringatan kemerdekaan pada 2026, yang terlihat sesungguhnya bukan sekadar seorang perempuan tua yang datang menghadiri sebuah upacara.

Kita sedang melihat sepotong sejarah yang masih berjalan.

Ia adalah jembatan antara generasi.

Antara Indonesia yang pernah hidup di bawah bayang-bayang Perang Dingin dan Indonesia yang kini memasuki era kecerdasan buatan.

Antara dunia yang mengenal telegram, surat, radio dan mesin ketik dengan dunia yang berkomunikasi melalui algoritma dan layar.

Zaman berubah.

Teknologi berubah.

Bahasa berubah.

Tetapi manusia tetap membutuhkan satu hal yang sama:

ingatan.

Merawat Para Saksi Sejarah

Ada pelajaran penting dari kehadiran Dewi.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi, menciptakan teknologi baru, atau mengejar pertumbuhan ekonomi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat ingatannya.

Para saksi sejarah tidak selamanya hidup.

Karena itu, setiap kali kita masih dapat melihat, mendengar, atau menyaksikan langsung seseorang yang pernah menjadi bagian dari sebuah zaman, sesungguhnya kita sedang memperoleh kesempatan untuk menyentuh sejarah tanpa perantara.

Dewi adalah salah satu jembatan itu.

Ia membawa cerita tentang Indonesia masa lalu—tentang Soekarno, tentang kehidupan di lingkar kekuasaan, tentang pergolakan politik, tentang perjalanan lintas negara, dan tentang bagaimana seseorang bertahan ketika sebuah zaman berubah secara dramatis.

Tidak semuanya harus kita romantisasi.

Tidak semuanya harus kita setujui.

Tetapi semuanya layak untuk diingat dan dipelajari.

Sebab sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang.

Sejarah juga tentang siapa yang pernah menyaksikan, mengalami, dan kemudian membawa ingatan itu melintasi zaman.

Melawan Kefanaan dengan Keanggunan

Ada satu hal yang paling menarik dari dua wajah Dewi dalam dua zaman.

Bukan soal apakah ia masih cantik seperti dahulu.

Pertanyaan itu justru terlalu sederhana.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apa yang tersisa setelah kecantikan muda pergi?

Jawabannya adalah karakter.

Wibawa.

Ingatan.

Dan cara seseorang membawa dirinya setelah melewati begitu banyak musim kehidupan.

Di situlah Dewi menjadi menarik.

Ia tidak sedang berusaha mengalahkan waktu.

Ia justru seolah-olah telah berdamai dengannya.

Ia membiarkan rambut memutih. Ia membiarkan wajah menyimpan garis kehidupan. Namun ia tetap menjaga cara berdiri, cara berpakaian, cara memandang dan cara menghadirkan dirinya.

Seakan ingin mengatakan:

“Aku tidak takut menjadi tua. Aku hanya ingin tetap menjadi diriku sendiri.”

Dan mungkin, itulah bentuk perlawanan paling sunyi terhadap kefanaan.

Dewi Tetaplah Dewi

Pada akhirnya, dua foto itu bukan sekadar perbandingan tahun 1965 dan 2026.

Keduanya adalah dialog antara masa lalu dan masa kini.

Yang satu menunjukkan seorang perempuan muda yang sedang memasuki sejarah.

Yang lain menunjukkan seorang perempuan lanjut usia yang telah melewati sejarah.

Di antara keduanya ada lebih dari enam dekade perjalanan hidup.

Ada cinta.

Ada politik.

Ada kekuasaan.

Ada kehilangan.

Ada perubahan zaman.

Dan ada begitu banyak cerita yang tidak mungkin seluruhnya tertampung dalam satu artikel.

Tetapi satu hal terasa jelas:

waktu boleh mengubah wajah, tetapi tidak selalu mampu menghapus wibawa.

Dewi tetaplah Dewi.

Perempuan Jepang bernama Naoko Nemoto yang kemudian dikenal sebagai Ratna Sari Dewi Soekarno—sebuah nama yang telah menjadi bagian dari lembar panjang perjalanan sejarah Indonesia.

Ketika melihatnya di usia senja, saya justru tidak melihat seorang perempuan yang sedang kehilangan masa muda.

Saya melihat seorang perempuan yang telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting: kesempatan untuk menua tanpa kehilangan dirinya.

Maka, salam hormat untuk Ibu Dewi.

Sebab pada akhirnya, kecantikan mungkin dimiliki oleh masa muda.

Tetapi keanggunan adalah milik mereka yang berhasil melewati waktu.

Dewi Soekarno
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Budaya Merdeka: Membebaskan Pikiran, Merawat Keberagaman, dan Membangun Indonesia Berdaulat - Budayantara TV
Artikel Budaya Kebangsaan

Budaya Merdeka: Membebaskan Pikiran, Merawat Keberagaman, dan Membangun Indonesia Berdaulat

16 Agustus 20264 menit baca

Oleh : Masdjo Arifin -Founder Budayantara Media Nusantara- (BMDN) Jakarta — Budayantara.tv Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bukan sekadar penanda…

Menjelang HUT RI ke-81, Fadli Zon Perkuat Pelestarian Warisan Sejarah Bung Hatta - Budayantara TV
Kebangsaan News

Menjelang HUT RI ke-81, Fadli Zon Perkuat Pelestarian Warisan Sejarah Bung Hatta

15 Agustus 20262 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakukan…

IMG?
Event Kebangsaan News Video

HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor

26 Juli 20261 menit baca

https://youtu.be/1aU6YL3Z6ns

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Puspita Sakanti Buka Resepsi Kenegaraan HUT RI ke-81 Temanggung dengan Bangilun Geol Kenes18 Agustus 2026
  2. IKB Jabodetabek Meriahkan HUT RI ke-81 Lewat Lomba Karaoke Bernuansa Merah Putih15 Agustus 2026
  3. IKB Jabodetabek Audiensi dengan Pemkot Jakarta Barat, Bahas Penguatan Budaya Betawi dan Budayantara Fest 202613 Agustus 2026
  4. Renee Partina : Budayantara Fest 2026: Rayakan 25 Tahun IKB Jabodetabek, Gaungkan Persaudaraan dan Solidaritas untuk Palestina13 Agustus 2026
  5. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI - Budayantara TVWAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI
WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI - Budayantara TVPuspita Sakanti Buka Resepsi Kenegaraan HUT RI ke-81 Temanggung dengan Bangilun Geol Kenes
WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI - Budayantara TVUji Tari Sanggar Seni Kaloka Semarakkan HUT ke-81 RI di Yogya Toserba Pemalang
WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI - Budayantara TVHUT RI ke-81, Akademisi UNIPA: Perdamaian Jadi Kunci Papua Maju
WAKTU, WAJAH, DAN BAYANG-BAYANG DEWI - Budayantara TVSemarak Muktamar NU ke-35, Asosiasi UMKM Nahdliyyin Jatim Dorong Kemandirian Ekonomi Santri dan Nahdliyin

Lokasi

📍 Jakarta 253📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Pasuruan 11📍 Purwokerto 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber