Lewati ke konten
17 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
BETSLOW Gelar Jumat Berkah dan Santunan Anak Yatim, Perkuat Kepedulian Sosial di PetukanganMenebar Kebaikan di Tanjung Barat Jaksel, PJBW & GPIB Berbagi Ratusan Paket Nasi Siap Saji ke Para Penerima ManfaatREPUBLIK STRESStaf Khusus Menteri Agama Terima Budayantara di Masjid Istiqlal, Dorong Diplomasi Budaya Indonesia–Palestina
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/ASAP, WAKTU, DAN INGATAN
Artikel Kebangsaan

ASAP, WAKTU, DAN INGATAN

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama23 Agustus 20264 menit baca
ASAP, WAKTU, DAN INGATAN - Budayantara TV

-Ratapan bagi Paru-Paru Dunia yang Terluka

Oleh: M.Guntur Alting

(Dewan Pembina SWI JAYA, DPW DKI Jakarta)

Jakarta,- Budayantara.tv ​MALAM-malam hari di Kalimantan pada Agustus 2026 tidak lagi datang dengan senja yang ramah.

Di balik jendela yang tertutup rapat, seorang anak menatap langit yang kehilangan warna birunya, sementara asap menyelinap masuk di celah-celah bilik rumah.

Pemandangan ini terlalu akrab bagi sebuah negeri yang ingatan kolektifnya terus-menerus disiram butiran arang yang halus.

Peristiwa ini melampaui batas-batas bencana ekologis konvensional; ia adalah sebuah manifestasi dari retaknya kontrak moral antara manusia modern dan rahim bumi yang telah melahirkannya.

​Selama berabad-abad, Kalimantan berdiri sebagai salah satu paru-paru utama planet bumi—sebuah perpustakaan evolusi agung di mana jutaan spesies merajut harmoni dalam jalinan jejaring kehidupan yang rumit.

Namun, dalam hitungan dekade, lembaran-lembaran perpustakaan tersebut dibakar menjadi abu.

Pohon-pohon tua yang menyimpan memori ratusan tahun tumbang bukan karena usia, melainkan oleh kobaran api yang disulut oleh kombinasi antara anomali cuaca global dan kalkulasi ekonomi yang rabun masa depan.

​Sosiologi Bencana: Menatap Angka dan Wajah Kemanusiaan

​Angka-angka statistik yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)—mencatat ribuan titik panas (hotspot) yang terkonsentrasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat—seringkali membuat kita terlena dalam dinginnya birokrasi data.

Di balik kurva statistik dan laporan kerugian ekonomi makro yang mencapai puluhan triliun rupiah, tersembunyi penderitaan manusia yang kehilangan hak paling fundamental: hak untuk menghirup udara bersih.

​Dalam perspektif sosiologi politik, karhutla bukanlah sebuah kecelakaan takdir atau murni bencana alam (natural disaster). Ia adalah produk dari struktur insentif yang salah arah (perverse incentives).

Ketika pembukaan lahan dengan cara membakar tetap menjadi opsi termurah bagi akumulasi modal privat, sementara biaya sosialnya (externality) ditanggung secara kolektif oleh masyarakat luas dan generasi mendatang, maka hukum besi kapitalisme ekstraktif sedang bekerja secara sempurna.

​”Pembangunan yang berkelanjutan menuntut sebuah kejujuran moral yang fundamental: jangan pernah mendeklarasikan suatu keuntungan sebelum seluruh kerugian ekologis dan sosialnya dibayar tuntas.”
__

​Ekonomi Politik dan Jebakan Jangka Pendek

​Argumen bahwa pembangunan memerlukan alih fungsi lahan dan eksploitasi sumber daya alam demi mengejar pertumbuhan ekonomi adalah sebuah keniscayaan sosiologis yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

Kemiskinan di sekitar kawasan hutan adalah realitas pahit yang menuntut kehadiran negara.

Namun, mempertentangkan antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan adalah bentuk sesat pikir (fallacy) yang berbahaya.

​Pilihan sejati bukanlah antara hutan atau kemakmuran, melainkan antara peradaban yang cerdas atau barbarisme ekologis yang menggadaikan masa depan demi kenikmatan sesaat.

Ketika keuntungan dari konsesi dinikmati hari ini, sementara kerusakan gambut, pelepasan karbon, hilangnya biodiversitas, dan krisis kesehatan anak-anak diwariskan sebagai beban publik, kita sedang menyaksikan kegagalan institusional yang sistemik.

​Etika Masa Depan: Menggugat Utang Moral Generasi

​Alam bukanlah sekadar gudang logistik komoditas yang bebas dihabiskan tanpa batas. Ia adalah titipan suci dari masa lalu dan pinjaman berharga dari masa depan.

Generasi yang belum lahir—mereka yang kelak mewarisi bumi ini—tidak memiliki kursi di ruang-ruang rapat dewan direksi, tidak mempunyai hak suara di bilik-bilik pemilu, dan belum memiliki nama untuk memprotes kebijakan kita hari ini.

​Ketika kita membiarkan api menghanguskan gambut dan mengubah hutan hujan tropis menjadi tanah tandus, kita sedang menulis surat utang moral yang tidak mungkin sanggup dilunasi oleh anak cucu kita.

Spesies yang punah tidak dapat dihidupkan kembali oleh anggaran negara manapun; waktu ekologis yang musnah dalam hitungan jam tidak dapat dibeli kembali dengan kekayaan materi sekaya apapun.

​Jalan Sunyi Menuju Pemulihan

​Menjelang akhir malam di Kalimantan, saat hujan akhirnya turun membasahi sisa-sisa bara di bawah tanah gambut.

Kita dihadapkan pada satu pertanyaan reflektif yang mendalam:

Dunia seperti apa yang hendak kita tinggalkan setelah kita pergi?

Kemenangan sejati dalam menghadapi ancaman ekologis bukanlah seberapa sigap negara mengerahkan helikopter pemadam setelah kebakaran membesar.

Melainkan seberapa kokoh komitmen pencegahan kita sebelum percikan pertama menyentuh ranting kering.
​Kalimantan masih kesempatan untuk diselamatkan.

Namun kesempatan itu menuntut keberanian politik, penegakan hukum yang tanpa kompromi, dan transformasi kesadaran kolektif.

Sebab pada akhirnya, seperi kata Deny JA “manusia memang dapat menanam kembali bibit-bibit pohon di atas tanah yang hangus, tetapi sejarah mencatat dengan tinta abadi: manusia tidak pernah mampu menanam kembali waktu yang telah berubah menjadi abu.”(***)

Pejaten Barat, 23 Agustus 2026

Pukul: 11:34

Oleh: M.Guntur Alting SWI Jaya
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

REPUBLIK STRES - Budayantara TV
Artikel

REPUBLIK STRES

15 Oktober 20262 menit baca

-Ketika 75 Persen Rakyat Kehilangan Ruang Bernapas Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina SWI Jaya (DPW SWI DKI Jakarta)…

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional - Budayantara TV
Artikel Film

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional

15 Oktober 20265 menit baca

Oleh : Karsono Hadi-Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia-(KFT Indonesia) KFT Dorong Festival Film Indonesia Memiliki Visi Jangka…

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial - Budayantara TV
Artikel

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial

12 Oktober 20262 menit baca

Oleh: Syahrudin AkbarWakil Ketua Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI JAYA) Jakarta — Budayantara.tv Di balik jalan yang bersih,…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber