Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung SejarahSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi TerpilihTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan
Artikel Budaya

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama19 Juni 20262 menit baca
Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TV

Oleh: Wan Noorbek
Pemangku Adat Gerbang Masyarakat Betawi (BANG MAWI)

Jakarta,- Budayantara.tv Haul Ulama Betawi pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Ia merupakan ruang penghormatan kepada para ulama yang telah mewariskan ilmu, akhlak, perjuangan, dan identitas keislaman masyarakat Betawi dari generasi ke generasi. Karena itu, Haul Ulama Betawi sesungguhnya lahir dari rahim masyarakat Betawi sendiri, tumbuh dari tradisi, serta hidup di tengah para pewaris sejarah dan kebudayaannya.

Dalam perspektif etika kebudayaan, pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk mendukung, memfasilitasi, dan memperkuat kegiatan budaya masyarakat. Namun dukungan tersebut idealnya tidak sampai menggeser posisi masyarakat adat dan lembaga-lembaga kebudayaan sebagai pemilik otoritas moral serta pewaris tradisi yang sesungguhnya.

Di sinilah muncul berbagai pandangan kritis dari sebagian masyarakat. Ketika sebuah kegiatan yang membawa nama “Haul Ulama Betawi” sepenuhnya dirancang, dikelola, dan dikendalikan oleh pemerintah tanpa kemitraan yang setara dengan lembaga-lembaga representatif masyarakat Betawi, maka timbul kesan bahwa masyarakat Betawi hanya ditempatkan sebagai objek budaya, bukan subjek budaya.

Objek budaya adalah mereka yang sekadar hadir sebagai simbol dan pelengkap acara. Sedangkan subjek budaya adalah mereka yang memiliki ruang menentukan arah, konsep, serta nilai-nilai yang hendak diwariskan melalui kegiatan tersebut.

Selain itu, sebagian masyarakat juga menyoroti dominasi figur-figur tertentu dalam panggung acara yang dinilai lebih menonjol dibandingkan representasi ulama, tokoh adat, dan lembaga kebudayaan Betawi. Kehadiran para habaib tentu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah dakwah di tanah Betawi dan patut dihormati. Namun dalam konteks Haul Ulama Betawi, keseimbangan representasi menjadi penting agar tidak muncul kesan bahwa identitas ulama Betawi justru tenggelam di tengah dominasi kelompok tertentu.

Kritik ini bukanlah bentuk penolakan terhadap pemerintah maupun terhadap para habaib. Sebaliknya, kritik ini merupakan harapan agar kegiatan yang membawa nama Betawi benar-benar menempatkan masyarakat Betawi sebagai mitra utama, bukan sekadar peserta yang hadir menyaksikan.

Membangun Jakarta sebagai kota global tidak boleh menghilangkan prinsip dasar kebudayaan: bahwa setiap tradisi memiliki pemilik sejarah, pewaris nilai, dan penjaga marwahnya. Pemerintah dapat menjadi fasilitator yang kuat, tetapi otoritas moral dan kultural tetap harus berada pada masyarakat yang melahirkan tradisi tersebut.

Haul Ulama Betawi akan memiliki makna yang lebih besar apabila menjadi ruang kolaborasi yang setara antara pemerintah, ulama, habaib, tokoh adat, lembaga kebudayaan, dan seluruh elemen masyarakat Betawi. Dengan demikian, penghormatan kepada para ulama tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi penghormatan terhadap martabat dan kedaulatan budaya Betawi itu sendiri.

“Budaya akan tetap hidup apabila pemiliknya diberi ruang untuk menentukan arah perjalanannya. Sebaliknya, budaya akan kehilangan ruhnya ketika hanya dijadikan panggung simbolik tanpa melibatkan pemilik sejarahnya.”

— Wan Noorbek

Wan Bek
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

MPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan - Budayantara TV
Budaya News

MPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan

26 Juli 20263 menit baca

Merauke – Budayantara.tv Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ketahanan sosial masyarakat adat…

Mahasiswi Magister Psikologi Universitas Atma Jaya Jakarta Dalami Kearifan Lokal di Kampung Budaya Pencak Silat Beksi - Budayantara TV
Budaya News

Mahasiswi Magister Psikologi Universitas Atma Jaya Jakarta Dalami Kearifan Lokal di Kampung Budaya Pencak Silat Beksi

2 Juli 20262 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv Sekelompok mahasiswi Program Magister Psikologi Universitas Atma Jaya Jakarta melakukan kunjungan Studi Budaya ke Sekretariat…

5 Abad Jakarta Menuju Kota Global Mendunia - Budayantara TV
Budaya News

5 Abad Jakarta Menuju Kota Global Mendunia

30 Juni 20262 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv Memasuki usia hampir lima abad, Jakarta menghadapi tantangan besar untuk bertransformasi menjadi kota global yang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  3. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  4. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  5. Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TVMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11
Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TVWarga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TVTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TVMPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber