Dzuriyah Pesantren Se-Indonesia Bahas Masa Depan Pesantren di Era Digital dalam Sarasehan Nasional GERNAS

Kediri, Jawa Timur, – Budayantara.tv Ratusan dzuriyah (keturunan pendiri) pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam Sarasehan Dzuriyah Pondok Pesantren Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Ayo Mondok (GERNAS) di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur.Sabtu (20/6/2026).
Forum yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan tersebut menjadi wadah refleksi, konsolidasi, sekaligus perumusan langkah strategis untuk memperkuat eksistensi pesantren di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari perkembangan teknologi digital, perubahan pola pendidikan, hingga dinamika sosial yang terus berkembang.
Dalam sarasehan tersebut, para peserta menyoroti berbagai isu krusial yang saat ini dihadapi dunia pesantren. Salah satunya adalah pentingnya peningkatan sarana dan prasarana, terutama fasilitas sanitasi seperti toilet yang dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pesantren yang sehat, bersih, dan nyaman bagi para santri.
Selain itu, para peserta juga menekankan pentingnya etika dalam penggunaan media sosial. Pesantren diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital secara bijak tanpa harus membuka seluruh dinamika internal lembaga kepada publik. Kebijakan publikasi yang tepat dinilai penting untuk menjaga marwah, privasi, dan kemaslahatan pesantren.
Isu perlindungan hak santri juga menjadi perhatian serius dalam forum tersebut. Para peserta mendorong agar pesantren memiliki sistem advokasi, pendampingan, dan mekanisme pengaduan yang lebih kuat sebagai bentuk perlindungan terhadap santri sekaligus penguatan tata kelola kelembagaan.
Transformasi Pesantren di Tengah Penurunan Jumlah Santri
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian khusus adalah fenomena menurunnya jumlah santri di sejumlah daerah. Para dzuriyah pesantren menilai kondisi tersebut perlu disikapi dengan langkah-langkah transformasi dan inovasi yang tetap berpijak pada nilai-nilai dasar kepesantrenan.
Pesantren didorong untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku generasi muda tanpa kehilangan identitasnya sebagai pusat pendidikan akhlak, ilmu, adab, dan pembentukan karakter.
“Pesantren harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, namun tidak boleh kehilangan ruh dan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual,” menjadi salah satu semangat yang mengemuka dalam forum tersebut.
Perkuat Jejaring dan Advokasi Pesantren
Sarasehan juga menghasilkan sejumlah rekomendasi penting terkait penguatan kelembagaan pesantren. Diperlukan sinergi yang lebih kuat antar pesantren, alumni, tokoh masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
Para peserta menegaskan bahwa para penggerak pesantren harus tampil sebagai muharrik, yakni motor penggerak perubahan yang berorientasi pada dakwah, pendidikan, dan kemaslahatan umat, bukan semata-mata pada kepentingan ekonomi.
Untuk mendukung hal tersebut, forum mendorong percepatan pelatihan dan pendampingan bagi tim advokasi pesantren sebagai langkah strategis dalam memperkuat perlindungan terhadap lembaga dan santri.
Di bidang pendidikan, peserta juga menggarisbawahi pentingnya sinergi kebijakan antara madrasah dan pesantren agar keduanya dapat berkembang secara harmonis dan saling menguatkan dalam sistem pendidikan nasional.
Menjawab Krisis Pendidikan Nasional
Sarasehan menilai bahwa krisis pendidikan yang saat ini terjadi bukan hanya menjadi persoalan pesantren, melainkan tantangan bersama seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan model pendidikan yang adaptif, berkualitas, dan tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan serta keagamaan.
Sebagai forum yang mempertemukan para dzuriyah pesantren dari berbagai daerah, sarasehan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui semangat kebersamaan dan konsolidasi yang terbangun dalam forum tersebut, para peserta berharap pesantren Indonesia mampu terus menjadi pilar peradaban bangsa yang kokoh, relevan, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur kepesantrenan di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.
Notulis: Dr. Hj. Malikhah Sa’adah, M.Pd.I.
Editor: Aminoto.


