Lewati ke konten
29 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Agung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk PergiNobar Indonesia vs Malaysia, Bebek Habibeat Hadirkan Suasana Kuliner dan KebersamaanLima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong PribadiKampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Eddie Karsito: “Tuan Rumah di Negeri Sendiri” Slogan Paling “Horor” untuk Film Indonesia
Film News

Eddie Karsito: “Tuan Rumah di Negeri Sendiri” Slogan Paling “Horor” untuk Film Indonesia

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama14 Agustus 20264 menit baca
Eddie Karsito: “Tuan Rumah di Negeri Sendiri” Slogan Paling “Horor” untuk Film Indonesia - Budayantara TV

Jakarta, – Budayantara.tv Transformasi film Indonesia menuju panggung global menuntut pembenahan tata kelola produksi dan disiplin pekerja film.

Disiplin dan manajemen produksi yang kuat adalah kunci utama bagi film Indonesia untuk menembus pasar global.

Tanpa pengelolaan waktu, anggaran, dan sumber daya yang terstruktur industri kita sulit bersaing di panggung dunia.

Demikian antara lain dikemukakan, aktor dan penggiat budaya, Eddie Karsito menanggapi pertanyaan moderator di acara diskusi film horor yang berlangsung di Studio PFN Heritage, Jl. Otista Raya, Jakarta Timur, Kamis (13/08/2026)

Disiplin, menurut Eddie Karsito, harus menjadi fondasi utama industri film global yang menuntut profesionalisme tinggi dari pra-produksi hingga pasca-produksi.

“Tanpa kedisiplinan yang kuat dalam hal waktu, standar kerja kru, dan proses produksi yang tepat waktu, film Indonesia akan sulit bersaing di kancah internasional dan hanya angan-angan belaka,” tegasnya.

Selain Eddie Karsito, Diskusi film tema “Film Horor Kita Mencari Jalan Pulang” menghadirkan pembicara Wahyu Nugroho (Sutradara), Harris Cinnamon (Sutradara), dengan moderator Karina Icha, SH (Model Miss Celebrity International Ambasador).

Untuk selingan hiburan penyelenggara juga menampilkan duo penyanyi Detania, yang mengusung lagu-lagu bernuansa pop-reggae.

Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri Sekadar Retorika Kosong

Eddie karsito mengaku sudah pada tingkat phobia terhadap slogan “film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri” yang sebenarnya merujuk pada rasa jenuh, dan skeptis.

Slogan ini dinilainya bias, sekadar retorika kosong karena kondisi di lapangan tidak selalu seindah itu. Fenomena “tuan rumah di negeri sendiri” pada film Indonesia sebaliknya berjarak dari realitas kesejahteraan kru film di lapangan.

Banyak pekerja di balik layar masih menghadapi bayaran rendah, jam kerja ekstrem, dan minimnya perlindungan kontrak kerja yang layak.

“Kita dihadapkan pada situasi di mana para pekerja film bertahan dalam kondisi berat dan memprihatinkan secara ekonomi, bagaimana mau bersaing di dunia global” tegasnya.

Lompatan Kualitas Teknik dan Bobot Cerita yang Tertinggal

Film Indonesia saat ini, menurut Eddie Karsito, bergerak menuju industri yang semakin beragam dan produktif. Didorong oleh lonjakan jumlah penonton, variasi genre di luar horor, serta perluasan jangkauan ke platform global.

Namun perkembangannya, kata dia, sering kali memperlihatkan ketimpangan antara lompatan kualitas teknis visual yang sangat cepat dan kedalaman naskah cerita yang tertinggal.

“Film Indonesia mengalami shock culture antara pendekatan teknik dan ceritanya. Peningkatan mutu kamera, efek visual, serta penataan suara modern kadang tidak sejalan dengan penulisan plot yang logis dan karakterisasi yang kuat,” ungkapnya.

Aspek Teknik vs Cerita

Menurut Eddie Karsio, penggunaan alat canggih meningkat tajam. Perkembangan teknik ini memberi sisi positif pada kualitas visual film lokal yang dapat disetarakan dengan standar internasional.

“Penggunaan CGI dan tata artistik semakin megah dan serius. Peralatan modern membuat adegan aksi dan horor tampil lebih mencekam,” urainya.

Namun penulisan naskah terkadang tertinggal dari kecepatan inovasi visual. Kelemahan naskah, alur cerita sering mengorbankan logika demi efek kejut atau tren pasar.

Sebagian cerita terasa asing atau kurang berpijak pada realitas sosial yang matang. Dialog di beberapa film dinilai kurang dekat dengan realitas sehari-hari. Eksplorasi tema kerap berulang demi mengikuti tren pasar yang cepat berubah.

Kurangnya riset mendalam pada sub-budaya lokal sering membuat dialog dan logat bahasa daerah dalam film horor Indonesia terasa kaku, tidak natural, atau “kurang nyambung”.

“Bahasa daerah sering diselipkan seadanya hanya sebagai tempelan estetika mistis, bukan sebagai cerminan cara hidup karakternya. Penulis naskah mengandalkan terjemahan harfiah tanpa memahami konteks sosiolinguistik,” paparnya.

Film horor, kata Eddie karsito, seringkali salah di tingkat tutur misalnya cerita film berbasis budaya Jawa, penggunaan ragam bahasa halus (krama) dan kasar (ngoko) tertukar atau tidak sesuai usia serta status sosial tokoh.

Aksen artifisial, aktor dengan etnis tertentu misalnya dipaksa berdialog dengan logat daerah tertentu yang bukan sukunya yang tidak mencerminkan penutur asli.

Dampak pada kualitas cerita ini pada akhirnya dapat merusak imersi penonton lokal dari daerah tersebut langsung merasa terganggu saat mendengar dialog yang janggal.

“Dampak lainnya terjadi reduksi budaya, di mana tradisi dan mitos lokal kehilangan makna filosofisnya dan hanya menjadi alat kejut (jump scare) semata,” paparnya.

Esensi Roh dalam Sinema

Menurut Eddie Karsito, cerita adalah cetak biru yang menjadi elemen penting dalam karya film. Cerita film yang adaptif mampu menjembatani materi asli dengan media visual secara efektif. Sehingga penonton merasakan ikatan batin yang mendalam dengan alur cerita dan karakter di layar.

Namun roh film yang sesungguhnya, ujar Eddie Karsito, tidak semata-mata terletak pada kemegahan alat atau mahalnya biaya produksi. Melainkan pada kejujuran rasa, daya hidup cerita, dan hubungan emosional yang terjalin antara karya dengan penontonnya.

Bagi Eddie Karsito, film bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah cerminan nilai (tatanan) dan sumber pelajaran hidup (tuntunan).

Film adalah wujud nyata perpaduan antara karya seni dan komoditas. Sebagai produk budaya, film merekam nilai, norma, bahasa, dan identitas (budaya) masyarakat.

“Film membentuk cara pandang kita terhadap aturan sosial, etika, dan estetika. Film memberi inspirasi, teladan, dan refleksi untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih bijak,” ungkapnya menutup./*

Eddie Karsito Film Horor
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Agung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk Pergi - Budayantara TV
Musik News

Agung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk Pergi

28 September 20262 menit baca

Jakarta, — Budayantara. TV Tidak semua kisah cinta berakhir dengan bahagia. Ada hubungan yang justru meninggalkan luka, tekanan,…

Nobar Indonesia vs Malaysia, Bebek Habibeat Hadirkan Suasana Kuliner dan Kebersamaan - Budayantara TV
News

Nobar Indonesia vs Malaysia, Bebek Habibeat Hadirkan Suasana Kuliner dan Kebersamaan

28 September 20262 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Pertandingan Indonesia vs Malaysia pada Senin malam (28/9/2026) menjadi momentum bagi para pencinta sepak bola…

Lima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong Pribadi - Budayantara TV
Budaya News

Lima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong Pribadi

28 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Menjelang peringatan lima abad Jakarta pada 22 Juni 2027, geliat menyambut momentum bersejarah itu mulai…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber