Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
IKB Jabodetabek Audiensi dengan Pemkot Jakarta Barat, Bahas Penguatan Budaya Betawi dan Budayantara Fest 2026Renee Partina : Budayantara Fest 2026: Rayakan 25 Tahun IKB Jabodetabek, Gaungkan Persaudaraan dan Solidaritas untuk PalestinaIndonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat KemerdekaanMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA
Artikel

MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama29 April 20264 menit baca📍 Jakarta
MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA - Budayantara TV

Dari Dongeng Ku

Oleh: Karsono Hadi (Sutradara)

Jakarta – Budayantara.tv Suatu sore, di sebuah kampung di lereng Merapi, aku melihat seorang anak laki-laki duduk termangu di depan layar ponsel butut milik ibunya. Jarinya lincah menggulir video pendek. Namun matanya kosong. Ia tertawa sesekali, lalu lekas bosan.

Di luar rumah, angin membawa suara gamelan dari balai desa yang sedang berlatih. Tapi anak itu tak menoleh.

Pemandangan sederhana itu menyisakan pertanyaan yang tidak sederhana.

Aku jadi ingat masa kecilku dulu. Bukan masa ponsel, tentu. Tapi masa ketika dongeng tentang Jaka Tarub dituturkan nenek di beranda, suaranya naik turun seperti aliran sungai. Dari sana aku membayangkan wajah raja, bidadari, hutan, dan langit yang jauh. Aku merasakan takut, haru, sekaligus penasaran.

Tanpa sadar, aku sedang belajar. Belajar tentang rasa. Tentang konflik. Tentang keadilan.
Aku sedang dididik oleh kebudayaan.

Lalu pertanyaan itu datang lagi, lebih tajam:
Jika anak di kampung tadi tak pernah mendengar gamelan, tak pernah duduk di pangkuan nenek yang bercerita, dari mana ia akan mengambil bahan untuk berkisah kelak?

Akankah kameranya hanya menangkap tiruan—dentuman budaya populer asing atau dramatisasi dangkal yang jauh dari realitasnya sendiri?

Sebab begini: teknik bisa dipelajari. Dalam hitungan bulan, seseorang bisa menguasai kamera, pencahayaan, hingga editing. Semua tersedia, semua bisa diakses.

Namun kepekaan—itulah yang tak bisa diajarkan secepat itu.

Kepekaan untuk menangkap kilat di mata petani saat sawahnya terendam banjir.
Kepekaan untuk merasakan gemetar tangan penari topeng tua ketika topeng itu dikenakan.

Kepekaan tidak lahir dari tutorial.
Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang meresap.
Dari kebudayaan yang dihidupi, bukan sekadar diketahui.

Di titik ini, aku teringat pada gagasan Ki Hajar Dewantara. Ia pernah menekankan bahwa pendidikan sejati adalah yang menumbuhkan budi pekerti, pikiran, dan raga anak di atas fondasi budayanya sendiri.

Artinya sederhana, tapi sering kita abaikan:
jangan pisahkan sekolah dari kehidupan.

Seni jangan berhenti sebagai hafalan nama tarian atau teori estetika.
Seni harus menjadi napas.

Bayangkan sebuah sekolah di Bantul. Setiap Jumat pagi, anak-anak tidak langsung membuka buku pelajaran. Mereka duduk melingkar di halaman. Seorang anak menjadi dalang kecil, memainkan wayang dari kardus bekas. Cerita Ramayana mereka ubah sesuka hati.

Ada yang jadi Hanoman, ada yang jadi Rahwana.
Dialognya spontan.
Adegan kadang kacau.
Kadang lucu.
Kadang menyentuh.

Tidak ada panggung megah. Tidak ada kamera profesional.

Namun di situlah proses kreatif sedang tumbuh.
Mereka belajar menyusun cerita.
Belajar melihat dari sudut pandang lain.
Belajar merasakan.

Mereka sedang menjadi sineas—bahkan sebelum mengenal istilah itu.

Kelak, ketika salah satu dari mereka memegang kamera sungguhan, ia tidak akan kehabisan cerita. Ia membawa ingatan: suara gamelan, tawa teman, ketegangan kecil saat wayang kardus robek.

Dari situlah lahir keaslian.
Bukan tiruan.

Aku sering merasa gelisah ketika menonton festival film pelajar. Banyak karya yang secara teknis mengagumkan. Editing rapi, gambar indah, bahkan sinematografi sudah matang.

Namun jiwanya terasa kosong.

Cerita yang diangkat hampir seragam: percintaan, ambisi pribadi, konflik urban dengan latar kafe atau apartemen. Seolah-olah Indonesia hanya berisi gedung tinggi dan kopi latte.

Padahal di luar sana, ada pasar yang riuh, laut yang luas, hutan yang hidup, dan upacara adat yang masih dijalankan dengan khidmat di berbagai penjuru negeri.

Mengapa semua itu jarang muncul?

Mungkin jawabannya sederhana, tapi menyedihkan:
karena banyak dari kita tidak lagi mengenalnya.

Persoalan regenerasi sineas sering disebut sebagai masalah kurangnya sekolah film. Aku tidak sepenuhnya setuju.

Sekolah film penting.
Tapi sebelum itu, ada yang jauh lebih mendasar:
sekolah kehidupan yang berakar pada budaya.

Banyak sineas besar tumbuh dari lingkungan yang kaya cerita. Mereka tidak sekadar belajar membuat film—mereka tumbuh bersama cerita. Mereka menyerap budaya sejak kecil.

Itulah pendidikan berkebudayaan yang sejati.
Bukan sekadar pelajaran, melainkan penghidupan.

Maka aku ingin berbisik kepada diri sendiri, kepada guru, orang tua, dan para pengambil kebijakan:

Jangan terburu-buru mencetak sineas.
Jangan hanya mengejar jumlah karya.

Lebih penting dari itu:
berapa banyak anak yang masih mendengar dongeng neneknya?
Berapa banyak sekolah yang memberi ruang bagi cerita rakyat untuk hidup kembali?
Berapa banyak sanggar kecil yang benar-benar dijaga sebagai rumah kebudayaan?

Sebab regenerasi sineas bukan soal angka.
Ia adalah proyek peradaban.

Ia adalah upaya memastikan bahwa ketika anak-anak itu kelak memegang kamera, mereka tidak merekam sesuatu yang asing dari dirinya.

Mereka merekam denyut nadi kehidupannya sendiri.

Dan ketika karya itu diputar di panggung dunia, penonton tidak akan berkata,
“Ini seperti film dari tempat lain.”

Mereka akan berkata,
“Ini suara Indonesia.”

Suara yang jujur.
Suara yang berbeda.
Suara yang hidup.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anak di lereng Merapi itu akan tersentak. Ia akan menoleh ke arah suara gamelan. Ia akan bangkit, mendekat, lalu bertanya,

“Boleh saya merekam, Pak?”
Di situlah semuanya bermula.
Yogyakarta, di sela bunyi kentongan.

Karsono Hadi
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global - Budayantara TV
Artikel Budaya

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global

22 Juni 20262 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv Guna menyambut momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 DKI, Ketua Umum Forum Bersama Jakarta…

Menyongsong 499 Tahun Jakarta: Bergerak Menuju Era Baru Tanpa Melupakan Akar Budaya Betawi - Budayantara TV
Artikel Budaya

Menyongsong 499 Tahun Jakarta: Bergerak Menuju Era Baru Tanpa Melupakan Akar Budaya Betawi

22 Juni 20262 menit baca

Oleh : Masdjo Arifin – Founder Budayantara Digital Network (BDN) Jakarta, – Budayantara.tv Perayaan 499 tahun Jakarta menjadi…

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TV
Artikel Budaya

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan

19 Juni 20262 menit baca

Oleh: Wan NoorbekPemangku Adat Gerbang Masyarakat Betawi (BANG MAWI) Jakarta,- Budayantara.tv Haul Ulama Betawi pada hakikatnya bukan sekadar…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Renee Partina : Budayantara Fest 2026: Rayakan 25 Tahun IKB Jabodetabek, Gaungkan Persaudaraan dan Solidaritas untuk Palestina13 Agustus 2026
  3. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  4. IKB Jabodetabek Audiensi dengan Pemkot Jakarta Barat, Bahas Penguatan Budaya Betawi dan Budayantara Fest 202613 Agustus 2026
  5. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA - Budayantara TVIKB Jabodetabek Audiensi dengan Pemkot Jakarta Barat, Bahas Penguatan Budaya Betawi dan Budayantara Fest 2026
MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA - Budayantara TVRenee Partina : Budayantara Fest 2026: Rayakan 25 Tahun IKB Jabodetabek, Gaungkan Persaudaraan dan Solidaritas untuk Palestina
MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA - Budayantara TVIndonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat Kemerdekaan
MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA - Budayantara TVMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
MENUMBUHKAN BENIH SINEAS MUDA BERAKAR BUDAYA - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber