Lewati ke konten
28 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Lima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong PribadiKampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Umat Muslim di Bali Utamakan Harmoni, Takbiran Dilakukan di Rumah Saat Nyepi
Artikel Budaya Kebangsaan

Umat Muslim di Bali Utamakan Harmoni, Takbiran Dilakukan di Rumah Saat Nyepi

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama18 Maret 20262 menit baca📍 Jakarta
Umat Muslim di Bali Utamakan Harmoni, Takbiran Dilakukan di Rumah Saat Nyepi - Budayantara TV

Jakarta – Budayantara.tv Ditengah keberagaman Indonesia, Bali kembali menunjukkan wajah terbaiknya: harmoni yang hidup, bukan sekadar slogan. Tahun ini, suasana takbiran umat Muslim bertepatan dengan Hari Raya Nyepi hari suci umat Hindu yang dijalankan dalam keheningan total. Dua perayaan besar dengan karakter berbeda, namun justru berpadu dalam keindahan toleransi.

Bagi seorang Muslim, esensi keimanan tidak hanya tercermin dari ibadah lahiriah, tetapi juga dari sikap batin yang menghadirkan kedamaian, rasa aman, dan ketenteraman bagi sesama. Nilai inilah yang tampak nyata dalam sikap umat Muslim di Bali.

Biasanya, malam takbiran dipenuhi gema takbir yang berkumandang di masjid, jalanan, hingga ruang-ruang publik. Suasana penuh suka cita menjadi penanda kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Namun di Bali, kemeriahan itu mengambil bentuk yang berbeda.

Ketika Nyepi tiba hari yang dijalani dengan sunyi, tanpa aktivitas, tanpa cahaya, dan tanpa suara umat Muslim memilih jalan kebijaksanaan. Takbiran tidak lagi dirayakan di jalanan, melainkan dilakukan secara sederhana dari rumah masing-masing.

Pilihan ini bukan bentuk pengurangan makna, melainkan justru pendalaman.

Di situlah kemenangan spiritual menemukan maknanya yang paling hakiki: kemampuan untuk menahan diri, mengendalikan ego, serta menghormati ruang sakral milik orang lain. Takbir tidak hanya menggema di udara, tetapi juga bergetar dalam hati yang tenang.

Keputusan ini menjadi simbol kuat bahwa keberagaman tidak harus melahirkan gesekan. Sebaliknya, ia bisa menjadi ruang perjumpaan nilai-nilai luhur tentang empati, penghormatan, dan kebersamaan.

Toleransi yang Hidup dalam Keseharian

Keindahan toleransi di Bali bukan hanya terlihat saat perayaan besar, tetapi juga dalam keseharian.

Saat Sholat Idul Fitri berlangsung, pecalang petugas keamanan adat Bali bersama warga setempat turut membantu menjaga ketertiban dan keamanan di sekitar lokasi ibadah. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa perbedaan tidak menghalangi kebersamaan.

Selama bulan Ramadan pun, kehidupan berjalan dengan penuh saling pengertian. Tidak ada paksaan untuk menutup warung, tidak ada tekanan terhadap cara berpakaian, serta tidak ada konflik atas praktik ibadah yang berbeda.

Semua berjalan dalam harmoni yang alami.

Di Bali, toleransi bukan sekadar wacana yang diucapkan, melainkan nilai yang dihidupi. Ia tumbuh dari kesadaran bersama bahwa kedamaian adalah tanggung jawab semua pihak.

Menjaga Bali, Menjaga Indonesia

Apa yang terjadi di Bali adalah cerminan Indonesia yang diharapkan: masyarakat yang mampu merayakan perbedaan tanpa kehilangan jati diri, serta menjaga keseimbangan antara keyakinan dan kemanusiaan.

Di tengah dunia yang kerap diwarnai konflik karena perbedaan, Bali justru menghadirkan pelajaran sederhana namun mendalam bahwa harmoni bisa tercipta ketika setiap orang memilih untuk saling memahami.

Dan di sanalah, kemenangan sejati menemukan maknanya.

Penulis: Aminoto
Dewi Andarini – TKRM Pengging Pajang

Hari Nyepi 2026
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Lima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong Pribadi - Budayantara TV
Budaya News

Lima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong Pribadi

28 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Menjelang peringatan lima abad Jakarta pada 22 Juni 2027, geliat menyambut momentum bersejarah itu mulai…

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026 - Budayantara TV
Budaya News

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026

27 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Sastra Betawi terus didorong agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hadir dan…

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar? - Budayantara TV
Artikel

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?

27 September 20263 menit baca

Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber