Banten, – Budayantara.tv Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten menggelar pertemuan lanjutan dengan Lembaga Pemangku Adat Jayakarta untuk membahas penguatan sejarah hubungan Jayakarta dan Banten berdasarkan manuskrip bersejarah Al Fatawi. Pertemuan ini dihadiri sejumlah tokoh adat, akademisi, dan perwakilan pemerintahan.
Hadir dalam pertemuan tersebut Pangeran Abi, RB H. Abi Kholaq beserta pendamping dari Lembaga Pemangku Adat Jayakarta, Kesultanan Banten yang diwakili Abah Kyai Fathul Adzhim dan Ratu Anggraini, serta sesepuh Kesepuhan Cibarani Baduy Abah Dulhani. Akademisi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Wawan, turut serta dalam diskusi tersebut.Senin (8/12/2025).
Rombongan diterima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamalludin, didampingi Kabid Pendidikan dan Kebudayaan Rudi, Bidang Sejarah Lili, Bidang Kesenian, Bidang Filolog Manuskrip, serta perwakilan Budayantara TV.
Pemetaan Sejarah dari Manuskrip Al Fatawi
Dalam pemaparannya, Pangeran Abi menjelaskan detail sejarah yang tercatat dalam manuskrip Al Fatawi, mulai dari perjalanan Maulana Hasanuddin dari Cirebon ke Demak, keterlibatannya sebagai pasukan Al Hajj Fatahillah menghadapi Portugis di Sunda Kelapa, hingga penobatannya sebagai Pangeran Ratu Jayakarta I pada tahun 1530.
Selama 20 tahun masa kepemimpinannya, hubungan Jayakarta dan Banten terjalin kuat dan berlanjut hingga pendirian Kesultanan Banten. Manuskrip tersebut juga mencatat garis keturunan hingga Sultan Ageng Tirtayasa serta hubungan pernikahan antara keluarga Pangeran Jayakarta dan Kesultanan Banten.
Pangeran Abi menambahkan bahwa Al Fatawi merupakan catatan bersanad turun temurun dari tahun 1400 hingga 1910, disusun oleh keluarga Ki Buyut Ketengahan. Penulisan naskah awal menggunakan aksara Sunda Kelapa dan Wesig Kanji, sebelum akhirnya pada tahun 1899 para Gusti Khalifah Bendahara sepakat mengalihaksarakan naskah menjadi Arab Pegon Melayu. Manuskrip kemudian disalin ulang pada 1910 karena media daun lontar, tulang ikan, kulit kerbau, dan lempeng logam mulai rusak.

Suasana pemaparan berlangsung khidmat dan penuh perhatian dari para pejabat serta tokoh adat yang hadir.
Pemprov Banten Siap Tindak Lanjut, Menuju Seminar dan Kurikulum Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banten, Jamalludin, menyatakan pihaknya menerima baik pemaparan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembahasan lanjutan akan dibawa hingga tingkat Gubernur Banten serta akan dijadikan agenda seminar resmi pada Januari mendatang.
“Kami akan mempelajari dan menindaklanjuti materi sejarah ini untuk dikembangkan menjadi kurikulum pendidikan, baik di sekolah maupun tingkat akademisi,” ujar Jamalludin.
Kesepakatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Prof. Wawan (UIN SMH Banten), Abah Kyai Fathul Adzhim, serta Abah Dulhani sebagai sesepuh Baduy. Kadis menegaskan bahwa kegiatan sakral dan budaya Banten harus semakin dimaksimalkan, termasuk mengangkat kembali adat istiadat serta cikal bakal sejarah Banten.
Kolaborasi Jayakarta – Banten untuk Pelestarian Sejarah Nusantara
Gerakan Lembaga Pemangku Adat Jayakarta bersama Budayantara TV diharapkan dapat menjadi momentum menyatukan keluarga kesultanan serta pemerintah daerah dalam melestarikan sejarah dan budaya Nusantara.
Kesepakatan kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali keterkaitan sejarah Jayakarta–Banten kepada masyarakat, serta memberikan pembelajaran tentang kearifan lokal yang selama ini terpendam dalam manuskrip kuno.
“Semoga perjuangan syi’ar sejarah para leluhur Jayakarta dan Banten dapat terealisasi dan memberi manfaat bagi umat serta kesejahteraan rakyat,” ujar Prof.Wawan dalam penutupan pertemuan.
Amanah para leluhur kembali ditegaskan:
“Adat harus dijunjung; dijunjung kepada yang punya adat. Adat dilupa akan hilang bangsa. Bangsa ini ada karena leluhur kita ada. Karena leluhur kita, bangsa ini berdiri.”




