Jakarta,— Budayantara.tv Usia 58 tahun menjadi momentum istimewa bagi Kolonel Kav Edward Sitorus. Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Senin (2/11/2026), ia menandai babak baru kehidupannya setelah mengakhiri masa dinas aktif sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), dengan rekam jejak pengabdian lebih dari 36 tahun kepada bangsa dan negara.
Bagi Edward, perjalanan panjang sebagai prajurit bukan sekadar tentang pangkat, jabatan, maupun penugasan. Lebih dari tiga dekade mengenakan seragam loreng telah membentuk karakter, mengajarkan arti disiplin, tanggung jawab, keberanian, loyalitas, serta keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Sebagai abituren 1990, Edward telah melewati perjalanan panjang dalam dunia kemiliteran. Berbagai pengalaman dan dinamika penugasan menjadi bagian dari proses pengabdian yang membentuk dirinya hingga mencapai penghujung masa tugas aktif.
Namun, berakhirnya masa dinas bukan berarti berhentinya semangat untuk mengabdi.
Mengusung semangat “Hidup Bernilai, Hidup Berdampak”, Edward ingin menjadikan fase kehidupan berikutnya sebagai kesempatan lebih luas untuk berbagi pengalaman, menebarkan inspirasi, dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Di luar kehidupan militernya, Edward juga dikenal sebagai penggiat media sosial dengan ratusan ribu pengikut. Ia berupaya memanfaatkan platform digital bukan sekadar untuk membangun popularitas, melainkan sebagai ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan.
Baginya, pengalaman puluhan tahun dalam dunia militer akan jauh lebih bermakna apabila dapat diwariskan kepada generasi muda. Nilai kedisiplinan, integritas, semangat pantang menyerah, dan kecintaan terhadap bangsa merupakan pelajaran yang perlu terus hidup di tengah masyarakat.
Apresiasi untuk Keluarga dan Babak Baru Kehidupan
Di balik perjalanan panjang pengabdiannya, Edward memberikan penghargaan khusus kepada istri tercinta yang selama ini setia mendampingi.
Ia menyampaikan terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan doa yang tidak pernah putus. Kehadiran sang istri menjadi kekuatan tersendiri, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit dan melelahkan selama menjalankan tugas sebagai prajurit.
Memasuki usia 58 tahun, Edward berharap Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan, kebijaksanaan, serta kekuatan untuk terus menjadi berkat bagi sesama.
Ia ingin menjalani kehidupan selanjutnya dengan lebih banyak mengasihi, melayani, dan berbagi. Sebuah komitmen bahwa kehidupan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Perjalanan Edward menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu harus berlangsung di dalam institusi atau di balik seragam kebesaran.
Pangkat dapat berakhir, jabatan dapat berganti, dan masa dinas memiliki batas. Namun, nilai-nilai perjuangan, keteladanan, serta semangat untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan sesama seharusnya tidak pernah pensiun.***




