Lewati ke konten
16 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
BETSLOW Gelar Jumat Berkah dan Santunan Anak Yatim, Perkuat Kepedulian Sosial di PetukanganMenebar Kebaikan di Tanjung Barat Jaksel, PJBW & GPIB Berbagi Ratusan Paket Nasi Siap Saji ke Para Penerima ManfaatREPUBLIK STRESStaf Khusus Menteri Agama Terima Budayantara di Masjid Istiqlal, Dorong Diplomasi Budaya Indonesia–Palestina
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/JEJAK YANG BELUM SELESAI: MENGENANG SYAMSIR SIREGAR
Artikel Tokoh

JEJAK YANG BELUM SELESAI: MENGENANG SYAMSIR SIREGAR

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama27 Agustus 20264 menit baca
JEJAK YANG BELUM SELESAI: MENGENANG SYAMSIR SIREGAR - Budayantara TV
  • Sebuah Catatan Obituari

Oleh: M.Guntur Alting
Dewan Pembina DPW SWI JAYA Sekber Wartawan Indonesia

“Pahlawan yang sebenarnya adalah yang berjuang dalam diam, tidak mencari pujian, dan rela terlupakan demi keselamatan orang banyak.” (Soekarno)

​​ADA jenis kehilangan yang tidak datang dengan riuh sirine atau derap sepatu lars yang mengentak di jalan raya kota.

​Ia datang pelan, menyelinap lewat sela-sela pintu rumah, lalu meninggalkan sunyi yang panjang dan lengang di dalam dada.

Itulah orang yang ditakdirkan hidup di ruang-ruang remang, jauh dari sorot lampu panggung, di mana sejarah sering kali ditulis bukan dengan tinta pidato, tapi dengan kehati-hatian yang sunyi.

Mayjen TNI (Purn) H. Syamsir Siregar adalah salah satu dari sedikit nama itu.

​Ketika ia berpulang pada Selasa, 25 Agustus 2026, di usia 84 tahun, kita tidak sedang kehilangan seorang orator yang suaranya menggelegar di alun-alun kota.

Kita sedang mengantar kepergian seorang penjaga bayang-bayang, seorang pemikir intelijen yang mengerti betul bahwa sebuah bangsa yang besar sering kali hanya bisa bertahan karena ada orang-orang yang rela bekerja dalam senyap, meredam bara sebelum ia sempat menjadi nyala api.

-000-

Ia adaah seorang anak bangsa yang lahir di Pematangsiantar, 22 Oktober 1941. Seorang anak zaman dari kawah candradimuka Akmil 1965 yang memilih menghabiskan sebagian besar lembar hidupnya di balik layar republik ini.

​Sebagai seseorang yang akrab membaca biografi para tokoh, saya memandang kepergian Syamsir Siregar yang pernah memegang kemudi di dunia intelijen menyisakan keharuan yang khas.

​Kita kerap lupa, di tengah bisingnya perdebatan politik dan megahnya gedung-gedung pemerintahan, ada tangan-tangan tak terlihat yang merawat fondasi negeri ini dalam diam.

​Rekam jejak almarhum terbentang begitu luas: menapaki lorong-lorong teritorial dari teras terjal Komando Daerah Militer II/Sriwijaya.

Memimpin Badan Intelijen ABRI, hingga puncak kepemimpinan di kursi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2004–2009 di era Presiden SBY.

-000-

Ia adalah bagian dari soko guru yang hidup dalam bayang-bayang kesunyian.

​Dunia yang ditekuninya bukanlah panggung hiburan yang bermandikan sorot lampu kamera.

​Tidak ada tepuk tangan penonton ketika sebuah rencana teror berhasil digagalkan di tengah malam yang dingin.

​Tidak ada karangan bunga yang dikirimkan ke meja kerjanya ketika sebuah potensi konflik horizontal berhasil diredam sebelum sempat menyulut amarah dan merenggut nyawa anak-anak di kampung-kampung.

​Keberhasilan seorang insan intelijen adalah sebuah paradoks yang sunyi: mereka harus rela tak dikenal, tak dipuji, bahkan terkadang disalahpahami, semata-mata agar orang lain bisa tetap hidup dengan tenang, merajut mimpi di teras rumah mereka, dan memeluk keluarga tanpa rasa takut akan hari esok.

​Bahkan, ketika seragam loreng dan dunia intelijen telah ditinggalkan, masa purna tugas tidak lantas ia jadikan titik akhir.

Ia memasuki babak pengabdian yang lain, memimpin PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sebagai Komisaris Utama selama belasan tahun, membawa disiplin dan ketegasan moral seorang prajurit di tengah urusan logistik serta pangan rakyat.

-000-

​Hari ini, rumah besar bernama Indonesia sedang riuh rendah. Kita hidup di zaman ketika setiap orang berebut panggung, mengejar pengakuan instan, dan mengukur arti keberhasilan dari seberapa banyak jempol menyukai unggahan di layar gawai.

​Di tengah kebisingan artifisial yang melelahkan ini, kepergian Syamsir Siregar datang sebagai sebuah jeda yang menohok nurani.

​Ia mengingatkan kita kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan yang kian terkikis: ketulusan yang tak menuntut balas, kesetiaan tanpa pamrih, dan keberanian untuk bekerja tanpa harus menuntut nama dicatat dengan tinta emas di halaman depan koran pagi.

​Sebab, pada ujung hari, apa yang benar-benar tersisa dari hidup seorang manusia?

Pangkat tertinggi sekali pun lambat laun akan tanggal oleh waktu. ​Seragam kebesaran yang penuh dengan tanda jasa pada akhirnya akan dilipat rapi di dalam lemari.

​Dan jabatan struktural yang diperebutkan dengan segala daya akan berpindah tangan pada musim yang berganti.

Yang tertinggal di bumi bukanlah hiasan di pundak, melainkan jejak-jejak kebaikan, keteladanan batin, dan kehangatan budi yang meresap ke dalam ingatan kolektif sebuah bangsa.

-000-

​Almarhum kini telah menuntaskan perjalanannya. Ia pulang ke haribaan Sang Pencipta, meninggalkan dunia yang gaduh menuju keabadian yang senyap, damai, dan abadi.

​Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan ini tentu menyisakan ruang kosong yang nyeri dan sulit diisi.

​Namun, biarlah ketulusan pengabdian almarhum selama hidupnya menjadi selimut hangat yang memeluk dan menguatkan hati yang berduka.

​Selamat jalan, Jenderal.

​Engkau telah menjaga rumah besar kita dengan kesetiaan yang sunyi, hingga tiba waktunya bagimu untuk beristirahat di dalam damai-Nya yang abadi.

​Jejakmu telah selesai, namun keteladananmu akan terus bernyawa di dalam sunyinya ingatan kami.

Semoga Engkau tenang disisi Yang Maha Kuasa, Amin.

Pejaten Barat, 27 Agustus 2026
Pukul: 09:19

WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

REPUBLIK STRES - Budayantara TV
Artikel

REPUBLIK STRES

15 Oktober 20262 menit baca

-Ketika 75 Persen Rakyat Kehilangan Ruang Bernapas Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina SWI Jaya (DPW SWI DKI Jakarta)…

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional - Budayantara TV
Artikel Film

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional

15 Oktober 20265 menit baca

Oleh : Karsono Hadi-Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia-(KFT Indonesia) KFT Dorong Festival Film Indonesia Memiliki Visi Jangka…

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial - Budayantara TV
Artikel

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial

12 Oktober 20262 menit baca

Oleh: Syahrudin AkbarWakil Ketua Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI JAYA) Jakarta — Budayantara.tv Di balik jalan yang bersih,…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber