Lewati ke konten
15 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema NasionalKonflik Saudi – Houthi Memanas, KNPI Minta Tunda Sementara Keberangkatan Umrah Ke Tanah SuciDuta Besar Palestina Ajak Masyarakat Jakarta Hadiri Budayantara Fest 2026KALIMANTAN, PULAU SEMAR INDAH NUSANTARA: Menyingkap Makna Alam, Budaya, dan Kesadaran Kehidupan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Ziarah Kubur: Merawat Ingatan, Menyambung Tradisi
Artikel Budaya

Ziarah Kubur: Merawat Ingatan, Menyambung Tradisi

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama22 Maret 20262 menit baca
Ziarah Kubur: Merawat Ingatan, Menyambung Tradisi - Budayantara TV

Oleh : Masdjo Arifin (Founder Budayantara Network)

Jakarta,- Di tengah arus modernisasi yang kian deras, ziarah kubur tetap bertahan sebagai salah satu tradisi keagamaan yang hidup dan mengakar kuat di Indonesia. Bagi banyak orang, langkah menuju pusara bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin menghubungkan kenangan, doa, dan kesadaran akan hakikat hidup.

Ziarah kubur bukan hanya bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat yang sunyi namun kuat: bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara. Di antara nisan dan taburan bunga, manusia diajak merenung tentang waktu yang terus berjalan, tentang amal yang akan tertinggal, dan tentang kepastian akhir yang tak bisa dihindari.

Tradisi ini telah berakar sejak lama, bahkan sebelum Indonesia mengenal agama-agama besar seperti sekarang. Pada masa kejayaan kerajaan seperti Majapahit dan Sriwijaya, penghormatan terhadap leluhur telah menjadi bagian penting dari budaya. Makam-makam khusus dibangun bagi keluarga kerajaan dan para bangsawan, menandakan betapa besarnya penghargaan terhadap mereka yang telah tiada.

Seiring masuknya Islam ke Nusantara, praktik ziarah kubur mengalami transformasi makna. Para ulama dan tokoh penyebar Islam, seperti Wali Songo, tidak menghapus tradisi ini. Sebaliknya, mereka mengarahkannya agar selaras dengan ajaran Islam. Ziarah tidak lagi dimaknai sebagai sarana meminta pertolongan kepada arwah, melainkan sebagai bentuk doa kepada Allah untuk mengampuni dosa orang yang telah meninggal.

Di berbagai daerah, ziarah kubur memiliki warna dan cara pelaksanaan yang berbeda. Bagi masyarakat Betawi, misalnya, ziarah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri. Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari kedua setelah lebaran. Suasana makam pun berubah menjadi ruang pertemuan yang hangat tempat di mana keluarga, kerabat, dan sahabat lama saling berjumpa setelah sekian lama terpisah.

Pengalaman ini terasa nyata di pemakaman wakaf Sanjaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana, ziarah bukan hanya tentang doa, tetapi juga tentang pertemuan. Ada kisah-kisah lama yang kembali hidup perjumpaan dengan teman masa sekolah dasar atau SMP, hingga bertemu kerabat yang kini tinggal jauh karena perubahan kehidupan. Di antara pusara, terjalin kembali benang-benang silaturahmi yang sempat terputus.

Inilah yang membuat ziarah kubur memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar ritual keagamaan. Ia menjadi ruang sosial, tempat manusia merawat hubungan, mengenang masa lalu, dan memperkuat kebersamaan. Tradisi ini juga mengandung nilai edukatif yang mendalam, mengajarkan tentang kefanaan hidup dan pentingnya mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.

Hingga hari ini, masyarakat Indonesia terus menjaga tradisi ziarah kubur sebagai warisan yang berharga. Ia tidak hanya menghubungkan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga dengan sejarah, budaya, dan sesama. Dalam kesederhanaannya, ziarah kubur menyimpan makna yang begitu dalam tentang kehidupan, kematian, dan nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu.**

Masdjo Arifin Ziarah kubur
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional - Budayantara TV
Artikel Film

FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema Nasional

15 Oktober 20265 menit baca

Oleh : Karsono Hadi-Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia-(KFT Indonesia) KFT Dorong Festival Film Indonesia Memiliki Visi Jangka…

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial - Budayantara TV
Artikel

PJLP: Penjaga Jakarta yang Terancam Rentan di Hari Tua, Pemprov DKI Didorong Segera Evaluasi Perlindungan Sosial

12 Oktober 20262 menit baca

Oleh: Syahrudin AkbarWakil Ketua Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI JAYA) Jakarta — Budayantara.tv Di balik jalan yang bersih,…

Dialog Spiritual Budaya di Pondok Budaya Rorotan: Meneladani Gus Dur, Merawat Persaudaraan, Menanam Harapan - Budayantara TV
Budaya News

Dialog Spiritual Budaya di Pondok Budaya Rorotan: Meneladani Gus Dur, Merawat Persaudaraan, Menanam Harapan

12 Oktober 20264 menit baca

Jakarta, — Budayantara.tv Pondok Budaya Rorotan, Jakarta Utara, menjadi ruang perjumpaan gagasan, spiritualitas, dan persaudaraan kebangsaan melalui kegiatan…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber