Jakarta — Budayantara.tv Di tengah geliat pembangunan pariwisata Jakarta yang terus berkembang, warisan budaya lokal tetap menjadi bagian penting yang perlu dirawat dan dikembangkan. Salah satunya adalah Kampung Budaya Pencak Silat Beksi Petukangan, Jakarta Selatan, yang menjadi lokasi kegiatan Monitoring dan Evaluasi Destinasi Wisata DKI Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB tersebut dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari upaya melihat secara langsung potensi, kondisi, serta perkembangan destinasi wisata berbasis masyarakat dan kebudayaan.
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi ini mengacu pada Peraturan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 57 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah.
Kehadiran tim di Kampung Budaya Pencak Silat Beksi Petukangan menjadi perhatian tersendiri. Sebab, tempat ini bukan hanya menawarkan aktivitas seni bela diri, tetapi juga menyimpan cerita, tradisi, dan nilai-nilai kebudayaan Betawi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Beksi, Warisan yang Hidup di Tengah Masyarakat
Pencak Silat Beksi merupakan bagian dari kekayaan budaya Betawi yang memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai kedisiplinan, ketekunan, keberanian, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.
Karena itu, keberadaan Kampung Budaya Pencak Silat Beksi tidak semata-mata dipandang sebagai sebuah destinasi wisata. Lebih dari itu, kampung budaya menjadi ruang tempat tradisi tetap hidup dan masyarakat menjadi bagian langsung dari proses pelestariannya.
Melalui monitoring dan evaluasi, berbagai potensi yang dimiliki Kampung Budaya Pencak Silat Beksi dapat terus diperhatikan, termasuk peluang pengembangan atraksi budaya, edukasi, pemberdayaan masyarakat, hingga ekonomi kreatif.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, di mana warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi pelaku sekaligus penjaga warisan budaya.
Abdul Aziz: Terima Kasih atas Perhatian Pemerintah
Perhatian pemerintah terhadap keberadaan Kampung Budaya Pencak Silat Beksi mendapat apresiasi dari perwakilan masyarakat.
Abdul Aziz, perwakilan Kampung Budaya Pencak Silat Beksi, menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap keberadaan dan pengembangan kampung budaya tersebut.
Menurutnya, perhatian pemerintah menjadi dorongan bagi masyarakat untuk terus menjaga serta mengembangkan warisan budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Petukangan.
“Terima kasih atas perhatian pemerintah saat ini. Kami berharap perhatian dan dukungan terhadap Kampung Budaya Pencak Silat Beksi dapat terus berlanjut sehingga budaya yang kami miliki tetap hidup dan dapat dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Abdul Aziz.
Bukan Sekadar Destinasi, tetapi Rumah Kebudayaan
Keberadaan Kampung Budaya Pencak Silat Beksi menunjukkan bahwa wajah pariwisata Jakarta tidak hanya dibangun melalui destinasi modern. Di balik hiruk-pikuk kota metropolitan, terdapat kampung-kampung budaya yang menyimpan identitas dan sejarah masyarakat.
Kampung budaya menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan generasi muda. Di tempat seperti inilah nilai-nilai budaya dapat dikenalkan secara langsung, bukan hanya melalui buku atau dokumentasi, tetapi melalui praktik dan interaksi masyarakat.
Jika dikelola secara berkelanjutan, Kampung Budaya Pencak Silat Beksi memiliki peluang untuk berkembang sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya sekaligus menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.
Monitoring dan evaluasi yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta diharapkan menjadi bagian dari proses memperkuat pengelolaan destinasi tersebut.
Pada akhirnya, menjaga Kampung Budaya Pencak Silat Beksi bukan hanya tentang mempertahankan sebuah seni bela diri. Ada identitas, sejarah, nilai kehidupan, dan kebanggaan masyarakat Betawi yang ikut dijaga.
Di tengah perubahan Jakarta yang begitu cepat, keberadaan kampung budaya menjadi pengingat bahwa kemajuan kota tetap dapat berjalan beriringan dengan pelestarian akar budaya masyarakatnya.***




