Home / Kebangsaan / Umat Muslim di Bali Utamakan Harmoni, Takbiran Dilakukan di Rumah Saat Nyepi

Umat Muslim di Bali Utamakan Harmoni, Takbiran Dilakukan di Rumah Saat Nyepi

Jakarta – Budayantara.tv Ditengah keberagaman Indonesia, Bali kembali menunjukkan wajah terbaiknya: harmoni yang hidup, bukan sekadar slogan. Tahun ini, suasana takbiran umat Muslim bertepatan dengan Hari Raya Nyepi hari suci umat Hindu yang dijalankan dalam keheningan total. Dua perayaan besar dengan karakter berbeda, namun justru berpadu dalam keindahan toleransi.

Bagi seorang Muslim, esensi keimanan tidak hanya tercermin dari ibadah lahiriah, tetapi juga dari sikap batin yang menghadirkan kedamaian, rasa aman, dan ketenteraman bagi sesama. Nilai inilah yang tampak nyata dalam sikap umat Muslim di Bali.

Biasanya, malam takbiran dipenuhi gema takbir yang berkumandang di masjid, jalanan, hingga ruang-ruang publik. Suasana penuh suka cita menjadi penanda kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Namun di Bali, kemeriahan itu mengambil bentuk yang berbeda.

Ketika Nyepi tiba hari yang dijalani dengan sunyi, tanpa aktivitas, tanpa cahaya, dan tanpa suara umat Muslim memilih jalan kebijaksanaan. Takbiran tidak lagi dirayakan di jalanan, melainkan dilakukan secara sederhana dari rumah masing-masing.

Pilihan ini bukan bentuk pengurangan makna, melainkan justru pendalaman.

Di situlah kemenangan spiritual menemukan maknanya yang paling hakiki: kemampuan untuk menahan diri, mengendalikan ego, serta menghormati ruang sakral milik orang lain. Takbir tidak hanya menggema di udara, tetapi juga bergetar dalam hati yang tenang.

Keputusan ini menjadi simbol kuat bahwa keberagaman tidak harus melahirkan gesekan. Sebaliknya, ia bisa menjadi ruang perjumpaan nilai-nilai luhur tentang empati, penghormatan, dan kebersamaan.

Toleransi yang Hidup dalam Keseharian

Keindahan toleransi di Bali bukan hanya terlihat saat perayaan besar, tetapi juga dalam keseharian.

Saat Sholat Idul Fitri berlangsung, pecalang petugas keamanan adat Bali bersama warga setempat turut membantu menjaga ketertiban dan keamanan di sekitar lokasi ibadah. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa perbedaan tidak menghalangi kebersamaan.

Selama bulan Ramadan pun, kehidupan berjalan dengan penuh saling pengertian. Tidak ada paksaan untuk menutup warung, tidak ada tekanan terhadap cara berpakaian, serta tidak ada konflik atas praktik ibadah yang berbeda.

Semua berjalan dalam harmoni yang alami.

Di Bali, toleransi bukan sekadar wacana yang diucapkan, melainkan nilai yang dihidupi. Ia tumbuh dari kesadaran bersama bahwa kedamaian adalah tanggung jawab semua pihak.

Menjaga Bali, Menjaga Indonesia

Apa yang terjadi di Bali adalah cerminan Indonesia yang diharapkan: masyarakat yang mampu merayakan perbedaan tanpa kehilangan jati diri, serta menjaga keseimbangan antara keyakinan dan kemanusiaan.

Di tengah dunia yang kerap diwarnai konflik karena perbedaan, Bali justru menghadirkan pelajaran sederhana namun mendalam bahwa harmoni bisa tercipta ketika setiap orang memilih untuk saling memahami.

Dan di sanalah, kemenangan sejati menemukan maknanya.

Penulis: Aminoto
Dewi Andarini – TKRM Pengging Pajang

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *