Home / News / Pondok Budaya Rorotan Terima Kunjungan Ahli Konservasi Jepang, Perkuat Literasi Berbasis Warisan Daluang

Pondok Budaya Rorotan Terima Kunjungan Ahli Konservasi Jepang, Perkuat Literasi Berbasis Warisan Daluang

Jakarta, — Budayantara.tv Pondok Budaya Rorotan menerima kunjungan istimewa dari Prof. Isamu Sakamoto, ahli konservasi dan peneliti kertas yang telah lebih dari 30 tahun melakukan penelitian di Indonesia, khususnya mengenai pohon sae bahan utama pembuatan kertas daluang.

Kehadiran Prof. Sakamoto menjadi momentum penting dalam memperkuat gerakan literasi berbasis kearifan lokal dan kekayaan sumber daya alam Nusantara di lingkungan Pondok. Pendiri Pondok Budaya Rorotan, KH Ahmad Mukhlis Fadlil, menyambut hangat kunjungan tersebut dan menyatakan bahwa kolaborasi ini akan menjadi tonggak baru dalam pengembangan literasi berbasis tradisi.

“Kehadiran beliau bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai mitra yang akan memperkuat pondasi budaya dan literasi Pondok melalui warisan daluang,” ujar KH Ahmad Mukhlis Fadlil.

Acara ini turut dihadiri Ketua
Bamus Suku Betawi 1982 Jakarta Utara,Moch Ichwan Ridwan ST.serta Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi (FKMB), yang menunjukkan dukungan komunitas Betawi terhadap pelestarian warisan budaya berbasis literasi.

Penyerahan Bibit Pohon Sae: Langkah Awal Pelestarian

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Sakamoto secara simbolis menyerahkan bibit pohon sae kepada Pondok Budaya Rorotan untuk dilestarikan dan dibudidayakan. Pondok Rorotan menjadi komunitas pertama yang menerima bibit pohon sae dari beliau sebagai bagian dari upaya konservasi berkelanjutan.

Pohon sae dikenal juga sebagai paper mulberry merupakan bahan utama pembuatan kertas daluang, kertas tradisional Nusantara yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi.

Menghidupkan Kembali Kertas Daluang

Kertas daluang dibuat dari kulit pohon sae yang dikuliti hingga diperoleh lapisan serat yang dapat dijadikan lembaran. Prosesnya dimulai dengan pencucian, kemudian dikeringkan. Tahapan ini dilakukan dua kali untuk memastikan kebersihan dan kekuatan serat. Setelah itu, serat dikempa atau dipukul pada kedua sisi hingga melebar dua hingga tiga kali ukuran awalnya.

Daluang dikenal sebagai kertas dengan serat paling kuat dibandingkan jenis kertas tradisional lainnya karena berasal dari serat kayu paper mulberry.

Secara historis, kertas daluang telah dikenal sejak abad ke-9. Dalam naskah kuno Kakawin Ramayana disebutkan bahwa daluang digunakan sebagai bahan pakaian para pandita. Seiring waktu, penggunaannya berkembang menjadi kertas suci dan mahkota penutup kepala (ketu).

Memasuki era Islam di Nusantara, daluang dimanfaatkan sebagai media pembuatan Wayang Beber, salah satu bentuk seni pertunjukan tertua di Indonesia yang menggunakan gulungan gambar sebagai media cerita.

Literasi Berbasis Alam dan Tradisi

Kunjungan Prof. Sakamoto menandai sinergi antara ilmu konservasi modern dan tradisi lokal. Melalui pelestarian pohon sae dan penghidupan kembali kertas daluang, Pondok Budaya Rorotan tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membangun literasi yang berakar pada alam dan sejarah bangsa.

Dengan langkah ini, Pondok Budaya Rorotan semakin mengukuhkan diri sebagai pusat penguatan literasi budaya yang menghubungkan generasi masa kini dengan kekayaan tradisi Nusantara.(Djo)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *