Home / News / Nusantara Diakui sebagai Pusat Peradaban Awal Dunia Usai Penemuan Seni Cadas Tertua di Muna

Nusantara Diakui sebagai Pusat Peradaban Awal Dunia Usai Penemuan Seni Cadas Tertua di Muna

Jakarta, — Budayantara.tv Dunia arkeologi kembali diguncang oleh temuan spektakuler dari Indonesia. Seni cadas berupa stensil tangan purba berusia setidaknya 67.800 tahun ditemukan di Liang Metanduno, Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Temuan ini resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature pada Kamis, 22 Januari 2026, sekaligus menempatkan Nusantara sebagai salah satu pusat peradaban awal manusia dunia.

Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Griffith University, Australia. Melalui metode penanggalan Uranium Series berbasis laser (LA-U-series) pada lapisan kalsit yang menutupi pigmen lukisan, para peneliti memastikan usia minimum lukisan tersebut, menjadikannya seni cadas tertua yang pernah ditemukan di dunia.

Temuan di Muna ini tercatat lebih tua sekitar 1.100 tahun dibanding seni cadas di Spanyol dan 16.600 tahun lebih tua dari lukisan gua Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan yang sebelumnya menggemparkan dunia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon,menyebut penemuan ini sebagai bukti kuat bahwa kemampuan berpikir simbolik, imajinasi, dan ekspresi budaya manusia telah berkembang sangat awal di wilayah kepulauan Indonesia.

“Ini mendorong dunia untuk membaca ulang peta kebudayaan dan sejarah peradaban manusia dari perspektif yang lebih utuh dan inklusif. Nusantara, khususnya kawasan Wallacea, terbukti sebagai episentrum awal kreativitas simbolik manusia,” ujar Fadli Zon dalam keterangan resminya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para peneliti, pemerintah daerah, serta UPT Balai Pelestarian Kebudayaan di Makassar, Palu, dan Manado atas dukungan dalam riset, pendokumentasian, hingga langkah awal perlindungan situs bersejarah tersebut.

Sejak dimulai pada 2019, program riset seni cadas Sulawesi Tenggara telah mendokumentasikan 44 situs, termasuk 14 situs baru, serta melakukan penanggalan pada 11 motif di delapan situs berbeda. Data ini memperkaya pemahaman tentang kehidupan manusia purba di kawasan Wallacea.

Dari perspektif global, temuan ini memperkuat teori migrasi awal manusia modern yang melintasi Wallacea menuju wilayah Sahul (Australia–Papua). Seni cadas di Muna menjadi bukti bahwa manusia purba yang bermigrasi tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga telah memiliki budaya dan kemampuan simbolik yang maju.

Di tingkat lokal, kesadaran akan pentingnya warisan budaya ini turut digaungkan oleh generasi muda. Stenly Diover, ST, Ketua Umum Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (Amba Sultra), aktif melestarikan dan mempromosikan budaya empat pilar daerah Buton, Muna, Tolaki, dan Moronene sebagai kekayaan identitas Sulawesi Tenggara yang layak dikenal dunia.saat dihubungi Budayantara Media.Kamis (28/1/2026).

Dengan penemuan ini, Indonesia tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran sejarah, melainkan sebagai salah satu panggung utama lahirnya peradaban manusia. Seni cadas Muna bukan sekadar lukisan di dinding gua, melainkan pesan lintas zaman tentang asal-usul kreativitas manusia yang berakar kuat di Nusantara.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *