Pasuruan,- Budayantara.tv Pagi di Desa Ngadirejo, Tutur, terasa berbeda. Bukan hanya udara pegunungan yang sejuk, tetapi juga semangat puluhan warga desa hutan yang berkumpul di rumah sederhana milik Atemo, Ketua LMDH Cemara Indah. Dari tempat inilah ikhtiar besar menjaga hutan Pasuruan dimulai.
Puluhan pengurus LMDH lintas kecamatan, pegiat lingkungan, akademisi, aparat negara, hingga masyarakat desa hutan duduk bersama menyatukan niat yang sama: menanam harapan lewat 10.000 pohon cemara.
Hari itu, sebanyak 2.500 bibit cemara ditanam di kawasan Hutan Pasuruan. Setiap lubang tanam bukan sekadar ruang bagi akar pohon, tetapi simbol komitmen kolektif menjaga mata air, mencegah bencana, dan memastikan hutan tetap menjadi penyangga kehidupan.
Administratur Perhutani Pasuruan, Ivan Cahyo Susanto, mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar kawasan hijau, melainkan benteng terakhir bagi keberlangsungan hidup manusia. Pesan itu diamini oleh Prof. Muhammad Adib, akademisi Universitas Airlangga yang menegaskan bahwa menanam pohon berarti menjaga “kran” mata air agar tidak kering di masa depan.
Momentum semakin bermakna saat Satgas Mata Air Desa Ngadirejo resmi dibentuk. Sebuah langkah kecil namun strategis—menata kembali relasi antara manusia, hutan, dan air. Penyerahan buku panduan Sendhakep Angawe Awe (SAA) menjadi simbol bahwa pelestarian alam juga membutuhkan pengetahuan, kearifan, dan gotong royong.
Di sela penanaman, harapan lain turut disuarakan: agar Rest Area Tutur segera difungsikan. Bukan semata sebagai tempat singgah, tetapi sebagai ruang hidup baru bagi UMKM lokal dan simpul ekonomi warga di jalur wisata Bromo Tengger.
Hari itu, cemara-cemara muda mulai berdiri. Masih kecil, rapuh, namun penuh harapan. Seperti pesan yang mengalir di antara para peserta: menjaga hutan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang generasi yang akan datang. (Aminoto & Guntur)




