Surabaya — Budayantara.tv Kota Pahlawan perlahan kehilangan sebagian ingatannya. Bukan karena lupa, tetapi karena jejak sejarah yang seharusnya dijaga justru hilang satu per satu di tengah laju pembangunan. Ingatan kolektif bangsa yang tersimpan dalam warisan budaya, baik benda maupun nilai kian rapuh ketika kepentingan ekonomi lebih dominan daripada kebijaksanaan sejarah.
Surabaya menjadi cermin nyata persoalan ini. Kota yang menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia pada 10 November 1945, justru menyimpan ironi mendalam: bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998, sempat dibongkar pada 2016. Padahal, bangunan tersebut merupakan saksi bisu perjuangan arek-arek Surabaya mempertahankan kedaulatan pascakemerdekaan.
Salah satu kehilangan paling menyakitkan adalah Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10 Surabaya. Dari tempat itulah pidato-pidato legendaris Bung Tomo disiarkan, membakar semangat rakyat untuk berani mati melawan penjajah. Bangunan itu bukan sekadar rumah, melainkan monumen keberanian rakyat sipil melawan kekuatan militer dunia.

Sebelum pembongkaran, lokasi ini rutin menjadi tujuan institusi media dan berbagai elemen bangsa setiap bulan November untuk mengenang peristiwa heroik 1945. Namun sejak bangunan itu lenyap, tak ada lagi ritual kenegaraan, tak ada lagi ruang fisik untuk menautkan generasi hari ini dengan sejarah perjuangan bangsa. Lahan tersebut kini tertutup rapat, bahkan memandangnya pun dianggap mencurigakan.
Kehilangan ini menyisakan kemarahan yang terpendam, terutama di kalangan pegiat sejarah dan budaya Surabaya. Bagi mereka, yang hilang bukan sekadar bangunan, melainkan simbol perlawanan, identitas, dan harga diri kota. Meski demikian, upaya membangkitkan kembali kesadaran kolektif terus dilakukan melalui diskusi, dokumentasi, dan gerakan kebudayaan.
Di tengah kekecewaan itu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional pemerintah pusat dan daerah menjadi penanda penting. Di hadapan seluruh kepala daerah se-Indonesia, Presiden secara tegas mengingatkan agar nilai-nilai sejarah di daerah masing-masing dijaga, bukan dirusak atau dihancurkan atas nama pembangunan.
Pidato tersebut mendapat sambutan luas dari berbagai lapisan masyarakat dari tukang becak hingga akademisi. Bagi warga Surabaya, pesan itu terasa sederhana namun menghantam nurani: sejarah bukan beban masa lalu, melainkan fondasi moral bangsa. Banyak yang menyamakan daya getarnya dengan pidato Bung Tomo yang dulu membakar semangat perlawanan rakyat.
Salah seorang warga Surabaya, Setia Budijanto, mengungkapkan kegelisahannya dengan nada getir. Ia menilai bangsa ini tengah berada pada titik krisis moral, ketika keteladanan nyaris tak tersisa di berbagai lini kepemimpinan. Baginya, menjaga sejarah adalah bagian dari upaya merebut kembali kedaulatan rakyat dan membangun bangsa yang beradab.
Surabaya hari ini berdiri di persimpangan jalan: melanjutkan pembangunan tanpa ingatan, atau melangkah maju dengan menghormati jejak perjuangan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang membangun gedung tinggi, tetapi yang mampu menjaga ingatan tentang keberanian warganya sendiri.




