Home / News / Jefriandi Usman: Merawat Kepedulian Lewat Gerak dalam Pentas “SIKLUS”

Jefriandi Usman: Merawat Kepedulian Lewat Gerak dalam Pentas “SIKLUS”

Jakarta — Budayantara.tv Di balik perhelatan Pentas Tari Kontemporer “SIKLUS”, ada sosok yang menggerakkan lebih dari sekadar pertunjukan Jefriandi Usman, Founder Cikini Art Stage (CAS). Baginya, seni bukan hanya ekspresi estetik, melainkan ruang perjumpaan empati dan kemanusiaan.

Bersama Kelola Seniman Jakarta dan Cikini Art Stage (CAS), dengan dukungan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jefriandi memimpin persiapan pentas yang akan digelar pada 19–20 Desember 2025 di area Sungai Jalan Sekolah Seni, tepat di depan Kampus IKJ, Cikini. Ruang terbuka itu dipilih bukan tanpa alasan ia menjadi simbol aliran kehidupan, perubahan, sekaligus peringatan akan relasi rapuh antara manusia dan alam.

Mengusung tema siklus kehidupan, “SIKLUS” dirancang Jefriandi sebagai peristiwa seni yang berbicara lebih jauh dari panggung. Pentas ini dirangkai dengan Donasi Kemanusiaan “Pray for Sumatera”, sebuah ajakan terbuka kepada publik untuk berbagi dan menunjukkan solidaritas bagi masyarakat Sumatera yang terdampak bencana alam.

“Melalui tubuh, gerak, dan ruang, kami ingin menyampaikan bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi panggilan kemanusiaan untuk saling menjaga dan menguatkan,” ujar Jefriandi. Sebagai ketua panitia, ia memastikan bahwa pesan tersebut tidak hanya hadir dalam konsep artistik, tetapi juga dalam semangat kolektif seluruh tim dan seniman yang terlibat.Selasa (16/12/2025).

Keterlibatan Jefriandi dalam kegiatan ini berangkat dari perjalanan panjangnya di dunia seni. Lahir di Padang, Sumatera Barat, 15 Mei 1972, ia mengawali karier dengan mendalami pencak silat di tanah Minang dan bergabung dalam kelompok tari modern Nolan Miller. Tahun 1992 menjadi titik balik ketika ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Studio 26 pimpinan Ati Ganda. Setahun kemudian, ia menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta, yang memperkaya pandangan artistik dan kesadarannya akan peran sosial seni.

Meski telah lama menetap dan berkarya di Jakarta, kabar bencana yang melanda Sumatera kembali mengetuk batinnya. Sebagai putra Minang, Jefriandi merasakan ikatan emosional yang tak terputus dengan tanah kelahirannya. “Sumatera adalah rumah pertama saya. Luka di sana adalah luka saya juga,” ungkapnya lirih. Dari perasaan itulah gagasan “SIKLUS” berkembang menjadi pentas yang menghubungkan ingatan, empati, dan aksi nyata.

Di bawah kepemimpinannya, Pentas Tari Kontemporer “SIKLUS” diharapkan menjadi lebih dari sebuah tontonan. Ia menjadi ruang bersama tempat seni, alam, dan masyarakat saling bertemu; tempat gerak tubuh menyuarakan doa, dan panggung menjadi jembatan solidaritas. Melalui “SIKLUS”, Jefriandi Usman menegaskan bahwa seni memiliki peran penting dalam merawat kemanusiaan terutama di saat duka dan harapan berjalan beriringan.(Djo)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *