Purwokerto – Budayantara.tv Di balik meriahnya pagelaran wayang yang digelar Sanggar Seni Panginyongan November 2025 ,Tim Budayantara Media hadir di Hetero Space Banyumas, tersimpan kisah panjang tentang sebuah bangunan klasik yang menjadi saksi tumbuhnya Purwokerto sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan. Gedung yang hari ini dikenal sebagai ruang kreatif anak muda ini ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih tua, kaya, dan sarat nilai warisan.
Ramalan Lama yang Menjadi Kenyataan
Sebelum Pemerintah Hindia Belanda memutuskan memindahkan pusat pemerintahan Karesidenan dari Banyumas ke Purwokerto, para sesepuh Desa Kranji sudah lebih dahulu “membaca” masa depan. Mereka meyakini bahwa area Sitapen yang kini menjadi lokasi gedung kelak terpilih sebagai rumah karesidenan baru, meski saat itu rumah residen di Banyumas telah berdiri megah.
Ramalan tersebut seakan menemukan jawaban ketika pada akhir 1930-an, pembangunan rumah dinas baru untuk residen dimulai. Pada 1939, bangunan ini resmi dihuni dan berdiri sebagai bangunan termegah di Purwokerto pada masanya.

Karya Herman Karsten: Simbol Peralihan Arsitektur Kolonial ke Modern
Didesain oleh arsitek ternama Hindia Belanda, Ir. Herman Stamford Karsten pada tahun 1937 dan selesai dibangun pada 1938, gedung ini menjadi salah satu contoh terbaik dari gaya Kolonial Modern yang berkembang pada periode 1915–1940. Karsten, yang dikenal dengan pendekatan arsitektur tropis, berhasil meramu unsur kolonial, modern, dan adaptasi iklim dalam satu bentuk bangunan yang fungsional sekaligus estetis.
Beberapa karakter visual yang masih dapat dijumpai hingga kini antara lain:
Atap datar atau landai yang dipadukan dengan bentuk konvensional
Fasad dengan bukaan lebar, didominasi jendela kaca berukuran besar
Jendela melingkar dan bouven (ventilasi atas) dengan variasi desain
Lantai tegel kontras yang memperkuat estetika kolonial modern
Diversifikasi bentuk pintu dan ventilasi yang menekankan fungsi dan identitas visual
Keotentikan arsitektural ini menjadi alasan penting bagi para peneliti serta pegiat budaya untuk terus mendorong pelestarian gedung sebagai artefak sejarah kota Purwokerto.
Dari Kantor Karesidenan hingga Bangunan Terlupakan
Setelah berfungsi sebagai Rumah Jabatan Kepala Bakorwil III Banyumas selama beberapa dekade, gedung ini sempat mengalami periode “sunyi”. Ia berdiri megah namun terlantar, seolah dilupakan sejarah yang pernah ia catatkan. Banyak bagian bangunan tetap dipertahankan, namun sebagian tubuh bangunan menunjukkan keausan akibat waktu.
Di titik inilah nilainya sebagai warisan arsitektur kolonial semakin disadari.
Terlahir Kembali sebagai Ruang Kreatif: Hetero Space Banyumas
Melalui langkah strategis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bangunan ini akhirnya kembali bangkit dalam wajah baru: Hetero Space Banyumas sebuah pusat kolaborasi, coworking, dan kegiatan kreatif yang menyasar komunitas, UMKM, startup, dan generasi muda.
Hetero Space kini menghadirkan sejumlah ruang dengan fungsi berbeda:
Maneka ruang kerja bersama
Rembug ruang rapat
Private Office ruang kantor privat
Gatra ruang acara seperti workshop dan pelatihan
Maker Space ruang untuk produksi kreatif dan inovasi
Meski telah bertransformasi, banyak elemen asli gedung tetap dilestarikan. Jendela besar berkisi kayu, fasad bergaya kolonial modern, serta tata ruang yang simetris menjadi identitas kuat yang memadukan masa lalu dan masa kini.
Warisan yang Relevan untuk Masa Depan
Kehadiran Hetero Space Banyumas bukan sekadar revitalisasi fisik. Ia adalah upaya menghubungkan masa kolonial, pascakolonial, dan modern dalam satu platform yang membuka peluang kolaboratif. Gedung ini menjadi contoh bagaimana warisan sejarah dapat beradaptasi dengan kebutuhan kota berkelanjutan.
Dengan beragam kegiatan kreatif yang terus tumbuh, gedung tua ini kembali berdenyut tidak hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai ruang budaya yang hidup, mengikat kembali masyarakat dengan sejarah kotanya.**




