Jakarta — Budayantara.tv Pemutaran perdana Film pendek drama berjudul Dad Decides to Die menghadirkan potret intim relasi ayah dan anak laki-laki yang kerap terperangkap dalam ego, tuntutan maskulinitas, serta minimnya komunikasi emosional. Film berdurasi 16 menit 51 detik ini diputar perdana di Gripastudio, Jakarta Selatan, Sabtu (17/1/2026), dan langsung menyita perhatian penonton lewat kisah yang terasa dekat dengan realitas banyak keluarga Indonesia.
Diproduseri oleh Diah Hayu R, film ini lahir dari kegelisahan personal akan hubungan ayah dan anak yang hidup berdampingan, namun kerap gagal saling memahami. Dengan latar pertemuan sederhana di dalam sebuah mobil, Dad Decides to Die memperlihatkan bagaimana keputusan sepihak yang diambil atas nama cinta justru dapat menimbulkan luka mendalam dan jarak emosional yang sulit dijembatani.

“Keberanian terbesar dalam keluarga bukanlah menanggung semuanya sendiri, melainkan berani berbicara dan saling mendengarkan,” ujar Diah Hayu R dalam sesi diskusi usai pemutaran film.
Film ini ditulis sekaligus disutradarai oleh Geovanno Mozes. Melalui karakter Putra, seorang anak laki-laki yang memendam amarah dan kebingungan terhadap ayahnya, Geovanno mengajak penonton menyelami benturan dua generasi dengan nilai dan ideologi yang berbeda. Penonton diajak merasakan emosi yang berlapis, mulai dari marah, bingung, hingga tersenyum getir melihat konflik yang begitu manusiawi. Film ini menjadi refleksi tentang warisan emosional yang kerap diwariskan ayah kepada anak tanpa pernah disadari.
Dad Decides to Die dibintangi Albaransyah Yusuf sebagai Agung Sopandi, yang sebelumnya dikenal lewat film Jurnal Risa (2022) dan Tanggal Selamat Tinggal (2023). Sementara itu, Doan Fickri menilai film ini berhasil menggali kerinduan terdalam dalam keluarga, kerinduan yang sering tersembunyi di balik kata-kata yang tak pernah terucap.
Pemutaran film ini juga dihadiri oleh pengurus Perkumpulan Tenaga Ahli Televisi dan Film Indonesia (PATFI) yang mewakili Ketua Umum Adisurya Abdy, di antaranya Ibrahim L. Kadir, Masdjo Arifin, dan Yoyok Abidin.
“Kami cukup mengapresiasi pemutaran film pendek ini. Secara kualitas, film yang dihasilkan cukup baik, dan kegiatan seperti ini semakin menumbuhkan minat para sineas muda untuk terus berkarya,” ujar Ibrahim L. Kadir atau yang akrab disapa Ibam, dengan penuh antusias.
Sinopsis
Putra (25) hidup sebagai tulang punggung keluarga setelah ayahnya dinyatakan meninggal di laut. Bekerja sebagai pengemudi transportasi online, ia berusaha melunasi utang-utang peninggalan sang ayah. Suatu hari, Putra menerima seorang penumpang yang sangat mirip dengan ayahnya. Pertemuan tak terduga ini mengguncang keyakinannya tentang masa lalu dan memaksanya kembali berhadapan dengan sosok ayah yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya.
Dengan pendekatan yang jujur dan emosional, Dad Decides to Die mengajak penonton merenungkan makna komunikasi, penerimaan, serta keberanian untuk membuka diri di dalam lingkup keluarga.




