“Enam Karakter Orang Indonesia yang Membayangi Ekosistem Perfilman”

“Enam Karakter Orang Indonesia yang Membayangi Ekosistem Perfilman”

Oleh: Karsono Hadi (Sutradara)

Jakarta – Budayantara.tv Mari kita bicara tentang film Indonesia dengan segala suka, duka, dan paradoks yang menyertainya. Ada masa ketika karya seperti Warkop DKI dan Petualangan Sherina bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman kultural yang melekat dalam ingatan kolektif. Film bukan hanya hiburan, tetapi juga cermin zaman dan ruang perjumpaan emosi.

Hari ini, situasinya terasa berbeda. Banyak film hadir sebagai konsumsi sesaat: menghibur di ruang gelap bioskop, namun cepat menguap begitu lampu menyala kembali. Kita tertawa, mungkin terharu sejenak, lalu melupakan. Tidak ada jejak yang benar-benar menetap.

Jika ditarik lebih dalam, fenomena ini seperti gema dari refleksi Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaannya tahun 1977 di TIM. Karakter yang ia ungkapkan tentang masyarakat Indonesia terasa belum sepenuhnya usang. Bahkan, dalam lanskap perfilman hari ini, ia seperti menemukan bentuk barunya.

Pertama, kecenderungan hipokrisi.
Industri perfilman kerap menampilkan wajah “serius” di panggung internasional mengangkat isu kemiskinan, ketimpangan, dan realitas sosial yang getir. Namun di pasar domestik, justru film ringan dengan kedalaman terbatas yang mendominasi. Seolah ada jurang antara idealisme yang dipamerkan dan pilihan yang benar-benar dijalani.

Kedua, persoalan tanggung jawab.
Ketika sebuah film gagal, refleksi jujur sering kali absen. Kesalahan berpindah-pindah tangan dari sutradara ke produser, dari produser ke penonton—hingga akhirnya hilang tanpa pelajaran. Kritik lebih sering ditangkis daripada diterima sebagai bagian dari proses bertumbuh.

Ketiga, feodalisme yang mengakar.
Nama besar, relasi, dan “siapa mengenal siapa” masih menjadi mata uang utama dalam ekosistem yang seharusnya meritokratis. Kritik terhadap “senior” kerap dianggap tabu. Sementara itu, talenta baru harus berjuang ekstra keras menembus lingkaran yang itu-itu saja. Dalam kondisi seperti ini, inovasi menjadi mahal bahkan nyaris terhambat.

Keempat, kepercayaan pada “rumus pasar”.
Keberhasilan satu genre sering diperlakukan seperti mantra. Ketika satu film horor sukses, lahirlah puluhan horor lain dengan pola serupa. Ketika film remaja laris, semua berlomba meniru. Seolah-olah keberhasilan bisa direplikasi dengan mengulang formula, bukan dengan memperdalam kualitas dan kejujuran bercerita.

Kelima, rapuhnya ketekunan artistik.
Ambisi visual sering tidak diimbangi dengan kekuatan narasi. Gambar yang indah menjadi tirai yang menutupi kelemahan dramaturgi. Padahal, film tidak hanya diingat karena bagaimana ia terlihat, tetapi karena bagaimana ia berbicara dan bertahan dalam benak penontonnya.

Keenam, watak yang mudah terombang-ambing tren.
Ekosistem yang tidak tahan kritik cenderung melahirkan karya yang seragam. Satu keberhasilan melahirkan banyak tiruan, tetapi jarang melahirkan keberanian untuk berbeda. Penonton pun akhirnya terbiasa dengan pola konsumsi instan: menghibur, tetapi tidak menantang.

Namun, seperti yang pernah diisyaratkan Mochtar Lubis, semua ini bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Ia adalah hasil dari sistem dari cara kita dididik, dari budaya “asal menyenangkan atasan,” dari ketakutan terhadap kegagalan, dan minimnya keberanian untuk berbeda.

Jika perubahan ingin benar-benar terjadi dalam perfilman Indonesia, maka ia tidak cukup hanya menyentuh permukaan. Bukan sekadar mengganti genre, wajah pemain, atau strategi pemasaran. Yang dibutuhkan adalah pergeseran cara pandang sebuah keberanian kolektif untuk bercermin dan mengakui peran masing-masing.

Kualitas film bukan hanya tanggung jawab sutradara atau produser. Ia juga milik penonton, kritikus, distributor, hingga seluruh ekosistem yang menghidupinya. Selama mental “bukan saya” masih mendominasi, film Indonesia akan terus menjadi sesuatu yang lewat hadir, menghibur, lalu hilang tanpa bekas.

Dan mungkin, pertanyaan terpentingnya bukan lagi “film apa yang laku hari ini,” tetapi:
film seperti apa yang layak untuk diingat esok hari?

About Author

Budayantara TV

Budayantara TV adalah platform media digital yang berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Kami hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai luhur budaya tradisional dengan dinamika kehidupan modern. 🎭 Visi Kami: Menjadi etalase budaya Indonesia yang terpercaya, menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa. 📰 Fokus Liputan: • Seni & Budaya Nusantara • Event & Festival Budaya • Kuliner Tradisional Indonesia • Tokoh & Maestro Budaya • Pelestarian Warisan Leluhur • Inovasi Budaya Kontemporer ✨ Komitmen Kami: Menyajikan konten berkualitas, informatif, dan inspiratif tentang kekayaan budaya Indonesia untuk audiens lokal dan global. 📧 Kontak: Email: admin@budayantara.tv Website: https://budayantara.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *