Lewati ke konten
15 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
FFI Hanya Jadi Barometer Atau Penggerak Sinema NasionalKonflik Saudi – Houthi Memanas, KNPI Minta Tunda Sementara Keberangkatan Umrah Ke Tanah SuciDuta Besar Palestina Ajak Masyarakat Jakarta Hadiri Budayantara Fest 2026KALIMANTAN, PULAU SEMAR INDAH NUSANTARA: Menyingkap Makna Alam, Budaya, dan Kesadaran Kehidupan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Eddie Karsito dan Warung Kopi Gratis: “Orang Lapar Jangan Disuruh Sabar”
Budaya Icon News

Eddie Karsito dan Warung Kopi Gratis: “Orang Lapar Jangan Disuruh Sabar”

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama12 September 20253 menit baca📍 Bekasi Kota
Eddie Karsito dan Warung Kopi Gratis: “Orang Lapar Jangan Disuruh Sabar” - Budayantara TV

Bekasi Kota — Budayantara.tv.Di sebuah sudut kecil Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, ada warung kopi sederhana yang tak menjual apa-apa karena semuanya gratis. Kopi, mie instan, dan senyum semuanya disuguhkan tanpa pamrih, setiap pagi. Tapi lebih dari sekadar makanan, di tempat ini, yang disajikan adalah kemanusiaan.

Di balik warung itu, berdiri seorang pria yang telah puluhan tahun membaktikan hidupnya bagi mereka yang seringkali tak tampak di mata publik: pemulung, janda tua, supir angkot, tukang sampah, hingga musafir yang singgah sebentar dalam sunyi kota besar. Eddie Karsito, seniman, wartawan, dan pendiri Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, percaya bahwa solusi atas kemiskinan bukanlah kata-kata, tapi tindakan nyata.

“Orang lapar itu bukan cuma butuh nasihat. Mereka butuh makan. Jangan disuruh sabar. Tolong dulu, baru bicara,” tegas Eddie, saat ditemui di sela-sela membagikan sarapan untuk pemulung, Jumat pagi (12/09/2025).

Dari Warung Kopi ke Warung Nurani

Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan berdiri sejak 1995. Selama lebih dari 30 tahun, lembaga ini berjalan senyap namun konsisten, mengalirkan bantuan tanpa mengangkat tangan ke publik. Tidak ada proposal, tidak ada donatur tetap. Apa yang mereka berikan berasal dari kantong sendiri dari Eddie dan para pengurus yayasan serta anggota Sanggar Humaniora yang bernaung di bawahnya.

“Kami tidak minta-minta. Kami berbagi karena kami sadar, ini bukan sekadar amal. Ini kewajiban moral.”

Di warung kopi dan mie instan gratis itu, siapa pun bisa datang: pengemudi ojek daring yang belum sempat sarapan, tukang bangunan yang harus kerja sejak fajar, hingga janda 97 tahun yang hidup dari memulung. Bagi mereka, warung itu bukan sekadar tempat makan, tapi ruang untuk merasa dianggap ada.

Ceramah Tak Menjawab Lapar

Banyak dari kita yang mudah memberikan wejangan ketika melihat orang dalam kesulitan. Tapi Eddie mengingatkan, seringkali yang memberi nasihat tentang kesabaran bukanlah orang yang sedang kelaparan.

“Nasihat tanpa empati bisa melukai. Kita harus berhenti menjadikan kata-kata sebagai solusi tunggal. Lapar tidak hilang dengan ceramah. Harus ada tindakan.”

Pandangan Eddie mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap maraknya praktik “pengemasan agama” demi keuntungan. Banyak lembaga sosial yang katanya berlandaskan iman, tapi justru menjadikan penderitaan orang lain sebagai alat mengumpulkan donasi.

“Agama seringkali cuma jadi label. Bukan substansi. Padahal yang dibutuhkan adalah kehadiran yang nyata,” ucap Eddie tajam.

Seni, Budaya, dan Kemanusiaan

Di Yayasan Humaniora, kegiatan sosial tak pernah dipisahkan dari seni dan budaya. Eddie percaya bahwa keduanya bisa bersinergi, menciptakan masyarakat yang bukan hanya sejahtera secara fisik, tapi juga utuh secara jiwa.

Melalui Sanggar Humaniora, mereka mengadakan kegiatan budaya, pertunjukan teater, pelatihan seni untuk anak-anak pemulung, dan berbagai ekspresi kreatif lain yang memberi ruang bagi kemanusiaan tumbuh—bukan sekadar bertahan.

“Kami ingin menciptakan siklus positif. Anak-anak pemulung bisa sekolah, punya seragam, punya sepatu. Tapi lebih dari itu, mereka juga harus punya mimpi.”

Senyap yang Menyala

Eddie Karsito bukan tokoh yang tampil di layar televisi meminta donasi. Ia tak viral di media sosial. Tapi pagi-pagi buta, saat banyak dari kita masih terlelap, ia sudah menyeduh kopi hangat untuk seseorang yang mungkin tak punya apa-apa selain rasa lapar.

Apa yang dilakukan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan adalah bentuk “kehadiran” yang sesungguhnya. Bukan kampanye. Bukan proyek. Tapi kesadaran bahwa manusia punya tanggung jawab moral untuk menjaga sesamanya.

“Kita ini hidup di dunia yang sama. Jangan berpura-pura tidak tahu ketika ada yang lapar di depan mata kita.”

Karena di dunia yang keras ini, kadang yang paling manusia butuhkan bukanlah tangan yang menunjuk, tapi tangan yang menggenggam.**

Eddie Karsito Humaniora Foundation
📍 Bekasi Kota
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Konflik Saudi – Houthi Memanas, KNPI Minta Tunda Sementara Keberangkatan Umrah Ke Tanah Suci - Budayantara TV
News

Konflik Saudi – Houthi Memanas, KNPI Minta Tunda Sementara Keberangkatan Umrah Ke Tanah Suci

15 Oktober 20262 menit baca

Jakarta, – Budayantara.tv Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) meminta Pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan penundaan…

Duta Besar Palestina Ajak Masyarakat Jakarta Hadiri Budayantara Fest 2026 - Budayantara TV
Event News

Duta Besar Palestina Ajak Masyarakat Jakarta Hadiri Budayantara Fest 2026

13 Oktober 20262 menit baca

Milad ke-25 IKB Jabodetabek dan Budayantara ke-2, Satukan Budaya dalam Semangat Kemanusiaan Jakarta,— Budayantara.tv Duta Besar Palestina untuk…

KALIMANTAN, PULAU SEMAR INDAH NUSANTARA: Menyingkap Makna Alam, Budaya, dan Kesadaran Kehidupan - Budayantara TV
News

KALIMANTAN, PULAU SEMAR INDAH NUSANTARA: Menyingkap Makna Alam, Budaya, dan Kesadaran Kehidupan

13 Oktober 20267 menit baca

Ki Guntur Bisowarno Menggagas Sloka Sastra Realita, Menghubungkan Simbol Budaya dengan Tanggung Jawab Merawat Alam Pasuruan,Jawa Timur —…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber