Betawi yang Kehilangan Rumah di Tanahnya Sendiri

Betawi yang Kehilangan Rumah di Tanahnya Sendiri

Oleh ; Wan Noorbek (Barisan Ksatria Nusantara)

Jakarta – Budayantara.tv Ketika masyarakat di Jawa Barat mulai menggeliat menghidupkan kembali identitas budayanya melalui kirab budaya dan penguatan akar tradisi, masyarakat Betawi justru menghadapi kenyataan pahit: budaya Betawi perlahan semakin tergerus di tanah kelahirannya sendiri.

Ironisnya, ancaman terbesar terhadap budaya Betawi hari ini bukan semata datang dari budaya luar, modernisasi kota, ataupun globalisasi. Tetapi justru lahir dari keserakahan sebagian oknum yang mengatasnamakan tokoh adat, tokoh budaya, bahkan membawa atribut organisasi kemasyarakatan demi kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri.

Budaya Betawi hari ini terlalu sering dijadikan proyek seremonial.

Atas nama pelestarian budaya, berbagai proposal hibah diajukan. Atas nama menjaga tradisi, berbagai acara digelar dengan panggung megah, spanduk besar, pakaian adat lengkap, hingga jargon-jargon kecintaan terhadap Betawi. Namun setelah acara selesai, masyarakat Betawi tetap hidup dalam keterpinggiran.

Anak-anak Betawi masih banyak yang tidak mengenal sejarah leluhurnya sendiri. Bahasa Betawi semakin jarang digunakan secara alami di lingkungan keluarga. Sanggar-sanggar kecil kekurangan perhatian. Para seniman tradisional hidup pas-pasan. Lenong kehilangan panggung. Gambang kromong hanya dipanggil ketika ada seremoni pejabat. Ondel-ondel bahkan berubah fungsi menjadi alat mengamen di jalanan ibu kota.

Sementara sebagian elit budaya sibuk berebut pengaruh, jabatan adat, hingga akses dana hibah.

Inilah penyakit paling berbahaya dalam pelestarian budaya: ketika budaya lebih banyak dijadikan komoditas kekuasaan dibanding amanah peradaban.

Padahal budaya tidak akan hidup hanya dengan seremoni tahunan. Budaya hidup dari masyarakatnya sendiri. Dari pendidikan keluarga, dari kampung-kampung yang masih menjaga tradisi, dari pengajian bernuansa lokal, dari silat Betawi, dari pantun, dari sopan santun, dari kuliner rakyat, hingga dari rasa bangga masyarakat terhadap identitasnya sendiri.

Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak organisasi mengaku pembela Betawi, tetapi masyarakat Betawi sendiri semakin terpinggirkan secara ekonomi, sosial, bahkan budaya di tanahnya sendiri. Nama Betawi dipakai ke sana-sini, tetapi manfaatnya tidak benar-benar kembali kepada masyarakat akar rumput.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian tokoh budaya justru sibuk membangun kelompok eksklusif dan menjadikan budaya sebagai alat legitimasi sosial-politik. Seolah-olah merekalah pemilik tunggal identitas Betawi. Padahal Betawi lahir dari percampuran peradaban yang terbuka, egaliter, religius, dan dekat dengan rakyat kecil.

Budaya Betawi tidak dibangun oleh ego kelompok, tetapi oleh kebersamaan masyarakatnya.

Kita harus berani jujur mengatakan bahwa banyak kegiatan budaya hari ini hanya berhenti pada simbol dan pencitraan. Seremoni ramai, dokumentasi viral, anggaran besar, tetapi dampak nyata terhadap pelestarian budaya hampir tidak terasa di tengah masyarakat.

Apakah budaya Betawi menjadi lebih kuat setelah puluhan tahun dana hibah budaya digelontorkan?
Apakah generasi muda Betawi semakin mengenal sejarah dan tradisinya?
Apakah para seniman kampung hidup lebih sejahtera?
Ataukah budaya hanya menjadi alat transaksi elit berkedok perjuangan adat?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan kejujuran, bukan dengan kemarahan.

Karena jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Betawi hanya akan tinggal nama dan simbol wisata. Budayanya dipamerkan di panggung-panggung resmi, tetapi ruh masyarakatnya hilang dari kehidupan sehari-hari.

Sudah saatnya pelestarian budaya Betawi dikembalikan kepada masyarakat, bukan dimonopoli oleh kelompok tertentu yang menjadikan budaya sebagai ladang kepentingan. Dana hibah budaya seharusnya menyentuh sanggar kecil, pendidikan budaya untuk anak-anak, pemberdayaan seniman tradisional, pelestarian bahasa Betawi, serta penguatan ekonomi masyarakat adat secara nyata.

Budaya tidak boleh hanya hidup di baliho dan proposal kegiatan.

Karena sejatinya, budaya Betawi bukan milik organisasi, bukan milik tokoh, dan bukan milik penguasa. Betawi adalah warisan rakyat yang harus dijaga bersama dengan kejujuran, ketulusan, dan rasa memiliki.

Kalau bukan masyarakat Betawi sendiri yang menjaga budayanya, lalu siapa lagi?

Dan kalau budaya hanya dijadikan alat mencari keuntungan, maka kehancuran budaya itu tinggal menunggu waktu saja.

About Author

Budayantara TV

Budayantara TV adalah platform media digital yang berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Kami hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai luhur budaya tradisional dengan dinamika kehidupan modern. 🎭 Visi Kami: Menjadi etalase budaya Indonesia yang terpercaya, menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa. 📰 Fokus Liputan: • Seni & Budaya Nusantara • Event & Festival Budaya • Kuliner Tradisional Indonesia • Tokoh & Maestro Budaya • Pelestarian Warisan Leluhur • Inovasi Budaya Kontemporer ✨ Komitmen Kami: Menyajikan konten berkualitas, informatif, dan inspiratif tentang kekayaan budaya Indonesia untuk audiens lokal dan global. 📧 Kontak: Email: admin@budayantara.tv Website: https://budayantara.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *