Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Betawi yang Kehilangan Rumah di Tanahnya Sendiri
Artikel Budaya

Betawi yang Kehilangan Rumah di Tanahnya Sendiri

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama10 Mei 20263 menit baca📍 Jakarta
Betawi yang Kehilangan Rumah di Tanahnya Sendiri - Budayantara TV

Oleh ; Wan Noorbek (Barisan Ksatria Nusantara)

Jakarta – Budayantara.tv Ketika masyarakat di Jawa Barat mulai menggeliat menghidupkan kembali identitas budayanya melalui kirab budaya dan penguatan akar tradisi, masyarakat Betawi justru menghadapi kenyataan pahit: budaya Betawi perlahan semakin tergerus di tanah kelahirannya sendiri.

Ironisnya, ancaman terbesar terhadap budaya Betawi hari ini bukan semata datang dari budaya luar, modernisasi kota, ataupun globalisasi. Tetapi justru lahir dari keserakahan sebagian oknum yang mengatasnamakan tokoh adat, tokoh budaya, bahkan membawa atribut organisasi kemasyarakatan demi kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri.

Budaya Betawi hari ini terlalu sering dijadikan proyek seremonial.

Atas nama pelestarian budaya, berbagai proposal hibah diajukan. Atas nama menjaga tradisi, berbagai acara digelar dengan panggung megah, spanduk besar, pakaian adat lengkap, hingga jargon-jargon kecintaan terhadap Betawi. Namun setelah acara selesai, masyarakat Betawi tetap hidup dalam keterpinggiran.

Anak-anak Betawi masih banyak yang tidak mengenal sejarah leluhurnya sendiri. Bahasa Betawi semakin jarang digunakan secara alami di lingkungan keluarga. Sanggar-sanggar kecil kekurangan perhatian. Para seniman tradisional hidup pas-pasan. Lenong kehilangan panggung. Gambang kromong hanya dipanggil ketika ada seremoni pejabat. Ondel-ondel bahkan berubah fungsi menjadi alat mengamen di jalanan ibu kota.

Sementara sebagian elit budaya sibuk berebut pengaruh, jabatan adat, hingga akses dana hibah.

Inilah penyakit paling berbahaya dalam pelestarian budaya: ketika budaya lebih banyak dijadikan komoditas kekuasaan dibanding amanah peradaban.

Padahal budaya tidak akan hidup hanya dengan seremoni tahunan. Budaya hidup dari masyarakatnya sendiri. Dari pendidikan keluarga, dari kampung-kampung yang masih menjaga tradisi, dari pengajian bernuansa lokal, dari silat Betawi, dari pantun, dari sopan santun, dari kuliner rakyat, hingga dari rasa bangga masyarakat terhadap identitasnya sendiri.

Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak organisasi mengaku pembela Betawi, tetapi masyarakat Betawi sendiri semakin terpinggirkan secara ekonomi, sosial, bahkan budaya di tanahnya sendiri. Nama Betawi dipakai ke sana-sini, tetapi manfaatnya tidak benar-benar kembali kepada masyarakat akar rumput.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian tokoh budaya justru sibuk membangun kelompok eksklusif dan menjadikan budaya sebagai alat legitimasi sosial-politik. Seolah-olah merekalah pemilik tunggal identitas Betawi. Padahal Betawi lahir dari percampuran peradaban yang terbuka, egaliter, religius, dan dekat dengan rakyat kecil.

Budaya Betawi tidak dibangun oleh ego kelompok, tetapi oleh kebersamaan masyarakatnya.

Kita harus berani jujur mengatakan bahwa banyak kegiatan budaya hari ini hanya berhenti pada simbol dan pencitraan. Seremoni ramai, dokumentasi viral, anggaran besar, tetapi dampak nyata terhadap pelestarian budaya hampir tidak terasa di tengah masyarakat.

Apakah budaya Betawi menjadi lebih kuat setelah puluhan tahun dana hibah budaya digelontorkan?
Apakah generasi muda Betawi semakin mengenal sejarah dan tradisinya?
Apakah para seniman kampung hidup lebih sejahtera?
Ataukah budaya hanya menjadi alat transaksi elit berkedok perjuangan adat?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan kejujuran, bukan dengan kemarahan.

Karena jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Betawi hanya akan tinggal nama dan simbol wisata. Budayanya dipamerkan di panggung-panggung resmi, tetapi ruh masyarakatnya hilang dari kehidupan sehari-hari.

Sudah saatnya pelestarian budaya Betawi dikembalikan kepada masyarakat, bukan dimonopoli oleh kelompok tertentu yang menjadikan budaya sebagai ladang kepentingan. Dana hibah budaya seharusnya menyentuh sanggar kecil, pendidikan budaya untuk anak-anak, pemberdayaan seniman tradisional, pelestarian bahasa Betawi, serta penguatan ekonomi masyarakat adat secara nyata.

Budaya tidak boleh hanya hidup di baliho dan proposal kegiatan.

Karena sejatinya, budaya Betawi bukan milik organisasi, bukan milik tokoh, dan bukan milik penguasa. Betawi adalah warisan rakyat yang harus dijaga bersama dengan kejujuran, ketulusan, dan rasa memiliki.

Kalau bukan masyarakat Betawi sendiri yang menjaga budayanya, lalu siapa lagi?

Dan kalau budaya hanya dijadikan alat mencari keuntungan, maka kehancuran budaya itu tinggal menunggu waktu saja.

Wan Noorbek
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026 - Budayantara TV
Budaya News

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026

27 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Sastra Betawi terus didorong agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hadir dan…

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar? - Budayantara TV
Artikel

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?

27 September 20263 menit baca

Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)…

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber