Temanggung — Budayantara.tv Kesenian tradisional Bangilun kembali menunjukkan eksistensinya di tengah upaya pelestarian budaya lokal Kabupaten Temanggung. Sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, Bangilun terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui berbagai ruang pertunjukan dan kegiatan seni.
Dalam sebuah kegiatan uji tari, sanggar seni di Temanggung mendapat kesempatan untuk menampilkan sejumlah karya tari tradisional kerakyatan. Penampilan tersebut menjadi bagian penting dalam mengenalkan kekayaan seni tradisi Temanggung sekaligus memberikan ruang kepada para siswa untuk mengasah keberanian, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya daerah.
Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Temanggung, Hanung Widanur, S.Sn., menegaskan pentingnya menjaga keberadaan tari Bangilun agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, Bangilun bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Temanggung yang memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal.

«“Tari Bangilun merupakan Warisan Budaya Tak Benda yang perlu dilestarikan dengan baik. Karena itu, generasi muda harus terus dikenalkan dan diberi ruang untuk mempelajari serta menampilkannya,” tegas Hanung.» Minggu (16/8/2026).
Atas dorongan Bidang Kebudayaan Kabupaten Temanggung, sanggar seni turut mengisi acara dengan menghadirkan berbagai materi tari tradisional. Di antaranya Meong, Wulang Sunu, Payung, Merak Sutra, Nyi Demplon, serta Sun Kembang Osing.
Tak hanya Bangilun dan ragam tari tradisional lainnya, pertunjukan juga semakin semarak dengan hadirnya tari Jaran Kepang, salah satu kesenian rakyat yang telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan budaya masyarakat Temanggung.
Dari Panggung Uji Tari Menuju Regenerasi Budaya
Uji tari tidak sekadar menjadi ajang untuk melihat kemampuan teknis para siswa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran budaya secara langsung.
Di atas panggung, anak-anak belajar mengenal gerak, musik, karakter, disiplin, kerja sama, hingga keberanian tampil di hadapan publik. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam proses regenerasi seni tradisional.
Pihak sanggar juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh wali murid yang telah hadir dan memberikan dukungan kepada anak-anak dalam kegiatan uji tari.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh wali murid atas kehadiran, dukungan, dan apresiasi luar biasa yang diberikan kepada anak-anak kita dalam acara uji tari,” ungkap pihak sanggar.
Dukungan moril, waktu, serta fasilitas yang diberikan para orang tua menjadi salah satu motivasi terbesar bagi para siswa untuk tampil percaya diri dan memberikan penampilan terbaik.
Menjaga Tradisi, Menyiapkan Generasi
Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan kesenian sebagai warisan masa lalu. Tradisi harus terus dipelajari, dipraktikkan, dipentaskan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bangilun dan berbagai tari tradisional kerakyatan Temanggung menjadi bukti bahwa kekayaan budaya daerah masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Sinergi antara pemerintah daerah, sanggar seni, para pelatih, siswa, dan wali murid menjadi modal penting agar kesenian tradisional tidak berhenti sebagai cerita sejarah.
Dengan semangat kebersamaan tersebut, panggung-panggung seni di Temanggung diharapkan terus melahirkan generasi baru yang tidak hanya mampu menari, tetapi juga memahami dan bangga terhadap akar budaya daerahnya.
Tradisi dijaga, generasi dibina, budaya Temanggung terus menyala.




