Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-MemoriamSelamat Jalan Mas Guruh, Putra Bung Karno yang Mengabdikan Hidupnya untuk Seni dan Kebudayaan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Apa Benar di Usia Lansia Kreator Film Tidak Lagi Butuh Cita-cita?
Artikel Film

Apa Benar di Usia Lansia Kreator Film Tidak Lagi Butuh Cita-cita?

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama11 Mei 20263 menit baca📍 Karsono Hadi - Sutradara Jakarta
Apa Benar di Usia Lansia Kreator Film Tidak Lagi Butuh Cita-cita? - Budayantara TV

Oleh: Karsono Hadi – Sutradara

Jakarta – Budayantara.tv Di dunia kreator film, anggapan bahwa para lansia tidak perlu lagi memiliki cita-cita terasa aneh, bahkan cenderung merendahkan. Justru dalam banyak kasus, karya-karya paling jujur, paling dalam, dan paling abadi lahir bukan dari tangan anak muda yang sedang mengejar pengakuan, melainkan dari mereka yang telah kenyang oleh pengalaman hidup.

Usia senja sering menjadi fase ketika kreativitas mencapai puncak kematangannya.

Saat masih muda, seorang kreator film biasanya sibuk mengejar berbagai target eksternal: lolos ke festival bergengsi, mendapatkan pujian kritikus, meraih box office tinggi, memenangkan penghargaan, atau sekadar ingin dianggap berbeda, provokatif, dan jenius. Semua itu sangat manusiawi. Masa muda memang identik dengan dorongan untuk membuktikan diri dan mencari validasi.

Namun seiring bertambahnya usia, perspektif berubah secara alami. Banyak sineas mulai menyadari bahwa film bukan sekadar alat untuk menjadi terkenal atau kaya, melainkan medium untuk meninggalkan jejak pemikiran, emosi, dan kemanusiaan sebelum waktu benar-benar habis.

Cita-cita seorang kreator film senior pun mengalami transformasi. Bukan lagi tentang bagaimana menjadi viral atau menembus pasar internasional, melainkan pertanyaan yang jauh lebih mendalam:

Apa yang benar-benar ingin saya wariskan kepada generasi mendatang?

Cerita apa yang belum sempat saya ungkapkan?

Pengalaman hidup apa yang paling berharga untuk dibagikan?

Bagaimana membuat karya yang jujur, bukan sekadar mengikuti tren pasar?

Pada fase inilah banyak kreator menghasilkan karya paling personal, tenang, reflektif, dan manusiawi. Mereka telah melewati berbagai badai kehidupan: kegagalan produksi, intrik industri, pengkhianatan rekan kerja, kemenangan di festival, hingga benturan keras antara idealisme dan realitas ekonomi. Semua pengalaman itu membentuk sudut pandang yang matang dan berlapis.

Contoh nyata dapat dilihat pada Clint Eastwood. Di usia 60 hingga 90-an, Eastwood justru menghasilkan sejumlah karya terbaiknya. Unforgiven dirilis ketika ia berusia 62 tahun, sebuah western anti-kekerasan yang penuh refleksi tentang dosa masa lalu dan penebusan. Film itu membawanya meraih Oscar untuk Best Picture dan Best Director.

Lalu hadir Million Dollar Baby saat usianya 74 tahun. Drama tentang mimpi, pengorbanan, dan eutanasia itu kembali menyapu penghargaan Oscar. Setelah itu, Eastwood membuat Gran Torino pada usia 78 tahun, sebuah film yang menyentuh isu rasisme, generasi, dan legacy dengan sangat emosional dan manusiawi.

Bahkan ketika mendekati usia 90 tahun, ia masih aktif berkarya lewat The Mule dan terus menyutradarai hingga Juror #2.

Eastwood menjadi bukti hidup bahwa usia tua bukan akhir kreativitas. Justru di fase inilah seorang seniman berhenti sibuk “menjadi seseorang” dan mulai fokus menciptakan sesuatu yang benar-benar berarti. Karyanya semakin sederhana dalam cara bertutur, tetapi semakin kaya emosi dan nilai kemanusiaan.

Contoh lain datang dari Martin Scorsese yang di usia 80-an masih menyutradarai Killers of the Flower Moon, sebuah epik sejarah yang ambisius dan mendalam. Di Jepang, Akira Kurosawa menciptakan mahakarya Ran pada usia 75 tahun, dengan visual megah dan tema pengkhianatan serta kekuasaan yang sangat matang.

Bagi kreator film, usia tua sering kali justru menjadi berkah. Energi fisik mungkin menurun, tetapi kedalaman jiwa dan kejernihan visi meningkat tajam. Mereka tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun kepada dunia. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk membagikan kebenaran yang mereka temukan sepanjang hidup.

Dan mungkin itulah cita-cita paling dewasa sekaligus paling mulia: bukan sekadar dikenang karena pernah terkenal, tetapi karena pernah menciptakan karya yang menemani manusia lain agar tidak merasa sendirian di tengah gelapnya hidup. Karya yang puluhan tahun kemudian masih terasa relevan, masih mampu menyentuh hati, dan masih membuat penontonnya berpikir ulang tentang arti kehidupan.

Jadi, kepada para kreator film lansia: teruslah memiliki cita-cita. Dunia masih membutuhkan cerita-cerita yang lahir dari pengalaman, kejujuran, dan kedalaman batin kalian. Karena di usia senja, kalian bukan sedang menutup karier kalian sedang memberikan hadiah terbesar kepada sinema dan generasi berikutnya.

Karsono Hadi
📍 Karsono Hadi - Sutradara Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

​SIAPA YANG GOBLOK ? - Budayantara TV
Artikel

​SIAPA YANG GOBLOK ?

24 September 20264 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA DKI Jakarta​Jakarta – Budayantara.tv ​PERTANYAAN itu tiba-tiba saja menyeruak ke ruang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber