Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan
Artikel Budaya

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama19 Juni 20262 menit baca
Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TV

Oleh: Wan Noorbek
Pemangku Adat Gerbang Masyarakat Betawi (BANG MAWI)

Jakarta,- Budayantara.tv Haul Ulama Betawi pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Ia merupakan ruang penghormatan kepada para ulama yang telah mewariskan ilmu, akhlak, perjuangan, dan identitas keislaman masyarakat Betawi dari generasi ke generasi. Karena itu, Haul Ulama Betawi sesungguhnya lahir dari rahim masyarakat Betawi sendiri, tumbuh dari tradisi, serta hidup di tengah para pewaris sejarah dan kebudayaannya.

Dalam perspektif etika kebudayaan, pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk mendukung, memfasilitasi, dan memperkuat kegiatan budaya masyarakat. Namun dukungan tersebut idealnya tidak sampai menggeser posisi masyarakat adat dan lembaga-lembaga kebudayaan sebagai pemilik otoritas moral serta pewaris tradisi yang sesungguhnya.

Di sinilah muncul berbagai pandangan kritis dari sebagian masyarakat. Ketika sebuah kegiatan yang membawa nama “Haul Ulama Betawi” sepenuhnya dirancang, dikelola, dan dikendalikan oleh pemerintah tanpa kemitraan yang setara dengan lembaga-lembaga representatif masyarakat Betawi, maka timbul kesan bahwa masyarakat Betawi hanya ditempatkan sebagai objek budaya, bukan subjek budaya.

Objek budaya adalah mereka yang sekadar hadir sebagai simbol dan pelengkap acara. Sedangkan subjek budaya adalah mereka yang memiliki ruang menentukan arah, konsep, serta nilai-nilai yang hendak diwariskan melalui kegiatan tersebut.

Selain itu, sebagian masyarakat juga menyoroti dominasi figur-figur tertentu dalam panggung acara yang dinilai lebih menonjol dibandingkan representasi ulama, tokoh adat, dan lembaga kebudayaan Betawi. Kehadiran para habaib tentu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah dakwah di tanah Betawi dan patut dihormati. Namun dalam konteks Haul Ulama Betawi, keseimbangan representasi menjadi penting agar tidak muncul kesan bahwa identitas ulama Betawi justru tenggelam di tengah dominasi kelompok tertentu.

Kritik ini bukanlah bentuk penolakan terhadap pemerintah maupun terhadap para habaib. Sebaliknya, kritik ini merupakan harapan agar kegiatan yang membawa nama Betawi benar-benar menempatkan masyarakat Betawi sebagai mitra utama, bukan sekadar peserta yang hadir menyaksikan.

Membangun Jakarta sebagai kota global tidak boleh menghilangkan prinsip dasar kebudayaan: bahwa setiap tradisi memiliki pemilik sejarah, pewaris nilai, dan penjaga marwahnya. Pemerintah dapat menjadi fasilitator yang kuat, tetapi otoritas moral dan kultural tetap harus berada pada masyarakat yang melahirkan tradisi tersebut.

Haul Ulama Betawi akan memiliki makna yang lebih besar apabila menjadi ruang kolaborasi yang setara antara pemerintah, ulama, habaib, tokoh adat, lembaga kebudayaan, dan seluruh elemen masyarakat Betawi. Dengan demikian, penghormatan kepada para ulama tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi penghormatan terhadap martabat dan kedaulatan budaya Betawi itu sendiri.

“Budaya akan tetap hidup apabila pemiliknya diberi ruang untuk menentukan arah perjalanannya. Sebaliknya, budaya akan kehilangan ruhnya ketika hanya dijadikan panggung simbolik tanpa melibatkan pemilik sejarahnya.”

— Wan Noorbek

Wan Bek
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026 - Budayantara TV
Budaya News

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026

27 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Sastra Betawi terus didorong agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hadir dan…

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar? - Budayantara TV
Artikel

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?

27 September 20263 menit baca

Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)…

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber