Adisurya Abdy Soroti Mitos “Film Laku”: Bukan Rumus, Tapi Peristiwa
Jakarta – Budayantara.tv Seorang pegiat perfilman, Adisurya Abdy, menyoroti masih kuatnya kepercayaan di masyarakat bahwa kesuksesan film dapat dipelajari secara sistematis layaknya rumus.
Menurutnya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. “Tidak ada buku atau sekolah yang bisa mengajarkan film laku. Yang ada hanyalah cara membuat film yang benar, bukan yang pasti laris,” ujarnya.Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa pendidikan film selama ini lebih menekankan aspek teknis, seperti struktur cerita, karakter, hingga visual. Namun, aspek paling krusial justru sering terlewat: memahami selera penonton yang dinamis dan sulit diprediksi.
Fenomena ini, kata Adisurya, terlihat jelas dalam sejarah industri film. Banyak film yang diprediksi sukses justru gagal di pasaran. Sebaliknya, tidak sedikit film sederhana yang mampu menarik perhatian besar dari publik.
“Selera penonton itu bukan sesuatu yang bisa dihitung secara pasti. Ia dipengaruhi faktor sosial, psikologis, bahkan momentum,” jelasnya.
Ia juga menyoroti munculnya dua kecenderungan di industri: pertama, film yang kuat secara teknis tetapi gagal menjangkau penonton; kedua, film yang sukses secara komersial namun minim kualitas karena hanya mengikuti tren.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa film berada di persimpangan antara seni dan bisnis. “Industri film itu bukan hanya soal ekspresi, tapi juga konsumsi. Dan titik temunya tidak pernah stabil,” tambahnya.
Lebih jauh, ia mencontohkan bahwa bahkan studio besar dunia pun kerap mengalami kegagalan meskipun didukung data dan riset mendalam. Hal ini menjadi bukti bahwa tidak ada formula pasti untuk kesuksesan.
Adisurya menegaskan, yang bisa dipelajari oleh pembuat film hanyalah fondasi dasar: kejujuran dalam bercerita, pemahaman terhadap manusia, serta kemampuan membaca momentum.
“Pada akhirnya, ‘laku’ itu bukan ilmu, tapi peristiwa,” tutupnya.
