Jakarta – Budayantara.tv Di antara riak gelombang Selat Malaka, pernah berdiri sebuah kekuatan maritim besar yang menghubungkan dunia Timur dan Barat: Kerajaan Sriwijaya. Dari pusatnya di Palembang, kerajaan ini bukan hanya penguasa jalur perdagangan, tetapi juga jembatan diplomasi dan kebudayaan antarbangsa.
Awal Kontak dan Diplomasi Internasional
Memasuki abad ke-10, Sriwijaya menunjukkan eksistensinya di panggung internasional melalui hubungan erat dengan Tiongkok. Pada tahun 960, seorang penguasa bernama Sri Uda Haridana yang juga dikenal sebagai Udayadityavarman mengirim utusan ke negeri Tiongkok. Hubungan ini berlanjut pada tahun berikutnya oleh Sri Wuja, memperlihatkan kesinambungan diplomasi yang terorganisir.
Namun, sejarah tidak selalu tercatat secara utuh. Periode antara 961 hingga 980 menjadi “masa sunyi” dalam catatan, seolah Sriwijaya menarik napas panjang di balik kabut waktu.
Bangkit dan Tantangan
Catatan kembali muncul pada tahun 980 melalui tokoh Hia-Tche, yang juga mengirim utusan ke Tiongkok. Tak lama kemudian, pada masa Sri Culamanivarmadeva, Sriwijaya mencapai titik penting. Ia aktif menjalin hubungan luar negeri sekaligus menghadapi ancaman dari Jawa.
Pada masa ini pula tercatat pembangunan tempat ibadah untuk Kaisar Tiongkok, serta munculnya bukti sejarah seperti Prasasti Tanjore dan Prasasti Leiden, yang menjadi saksi hubungan internasional dan legitimasi kekuasaan Sriwijaya.
Masa Keemasan dan Serangan Besar
Memasuki abad ke-11, Sriwijaya masih aktif mengirim utusan, seperti pada masa Sri Maravijayottungga dan Sumatrabhumi.
Namun, titik balik besar terjadi pada tahun 1025. Di bawah kepemimpinan Sangramavijayottungga, Sriwijaya diserang oleh raja besar India Selatan, Rajendra Chola. Serangan ini mengguncang fondasi kekuatan Sriwijaya dan menjadi awal kemunduran dominasi maritimnya.
Perubahan Pusat Kekuasaan
Pasca-serangan, Sriwijaya masih bertahan, terbukti dari pengiriman utusan oleh Sri Deva pada tahun 1028. Namun, pusat kekuasaan mulai bergeser. Pada tahun 1064, muncul nama Dharmavira yang berpusat di Jambi, menandakan perubahan geopolitik dalam tubuh kerajaan.
Periode panjang tanpa catatan kembali terjadi, memperlihatkan kemungkinan melemahnya struktur kerajaan atau minimnya dokumentasi.
Sisa Kejayaan dan Jejak Budaya
Pada abad ke-12, Sriwijaya masih menunjukkan tanda kehidupan melalui Sri Maharaja dan Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva yang kembali menjalin hubungan dengan Tiongkok.
Salah satu peninggalan penting dari masa ini adalah arca Buddha perunggu dari Chaiya (1183), yang menunjukkan luasnya pengaruh budaya Sriwijaya hingga ke Asia Tenggara daratan.
Akhir yang Perlahan
Setelah tahun 1183 hingga 1251, catatan sejarah kembali menghilang. Ini menandai berakhirnya era Sriwijaya sebagai kekuatan besar. Meski tidak runtuh secara tiba-tiba, kerajaan ini perlahan memudar, digantikan oleh kekuatan-kekuatan baru di Nusantara.
Kisah Sriwijaya adalah cerita tentang kejayaan maritim, diplomasi global, dan ketahanan menghadapi serangan besar. Dari Palembang hingga Jambi, dari Tiongkok hingga India, Sriwijaya pernah menjadi simpul penting dunia. Meski kini tinggal jejak sejarah, pengaruhnya tetap hidup dalam identitas budaya dan sejarah Nusantara.
Dirangkum oleh : Tim Budayantara Lab Digital




