Home / News / Dari Duta Wisata Banyumas hingga Sukses Bangun Sari Asian Food: Diana Lyntusari Satukan Budaya dan Rasa

Dari Duta Wisata Banyumas hingga Sukses Bangun Sari Asian Food: Diana Lyntusari Satukan Budaya dan Rasa

Jakarta ,- Budayantara.tv Perjalanan hidup Diana Lyntusari membuktikan bahwa konsistensi, keberanian mencoba, dan kecintaan pada budaya dapat berbuah manis dalam dunia usaha. Sosok yang pernah dinobatkan sebagai Duta Wisata Banyumas ini kini dikenal sebagai pemilik Sari Asian Food, usaha kuliner yang sukses dengan produk andalannya bolu chiffon lembut bercita rasa khas.

Bakat Diana mulai terlihat sejak usia dini. Sejak taman kanak-kanak, ia telah diperkenalkan dunia tari oleh orang tuanya dengan mengikuti sanggar. Ketertarikannya pada seni terus berlanjut hingga SMP. Memasuki bangku SMA, Diana mulai menjajal dunia modeling. Awalnya sekadar coba-coba mengikuti ajang pemilihan pada tahun 2001, dengan persiapan seadanya. Tak disangka, pengalaman pertama itu justru membuatnya ketagihan dan semakin percaya diri menekuni dunia panggung.

Selain modeling, kecintaannya pada tari tak pernah padam. Di SMA, Diana aktif mengikuti ekstrakurikuler tari dan kerap mewakili sekolah hingga tingkat provinsi. Puncak prestasinya terjadi pada tahun 2003, saat ia duduk di kelas 3 SMA. Diana mengikuti ajang Pemilihan Duta Wisata Banyumas dan berhasil meraih Juara 1 sekaligus Juara Favorit. Prestasi tersebut membuka banyak peluang, termasuk diterimanya Diana di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui jalur prestasi seni (PMDK) dengan piagam tari.

Selepas SMA dan masa kuliah, Diana kembali mencoba tantangan baru. Pada tahun 2005 hingga 2008, ia berkarier sebagai pramugari dan menetap di Tangerang Selatan hingga tahun 2021. Di sela perannya sebagai ibu dan pekerja, Diana mulai menekuni dunia kuliner dari hobi. Awalnya hanya membuat makanan untuk keluarga dan teman, namun permintaan terus berdatangan hingga akhirnya mulai dijual secara serius.

Sekitar tahun 2017, Diana semakin aktif di dunia kuliner. Berbagai produk pernah ia buat, mulai dari bolu gulung, aneka dessert, nasi kuning hingga nasi liwet. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Ia memutuskan pulang ke Banyumas dengan berbekal pengalaman, peralatan, dan tekad untuk memulai kembali dari nol.

Di Banyumas, tanpa jaringan pertemanan seperti sebelumnya, Diana memilih strategi aman. Ia memproduksi kue kering yang memiliki daya simpan lebih lama dan mudah dikirim ke luar kota, khususnya ke Tangerang Selatan dan Jakarta. Setelah melalui proses trial and error selama sekitar dua minggu, produk tersebut mendapat respons positif dan mampu bertahan hingga dua tahun.

Seiring waktu, permintaan dari lingkungan sekitar mulai berdatangan. Banyak tetangga meminta dibuatkan roti atau kue basah sebagai oleh-oleh praktis. Melihat tren yang sedang berkembang di Purwokerto, Diana tertarik pada bolu chiffon. Ia pun mengikuti kursus di salah satu baking center di Purwokerto. Dengan gaya belajar konvensional, Diana memilih langsung praktik dan berdiskusi dengan mentor, lalu kembali melakukan trial and error hingga menemukan formula terbaik.

Selama kurang lebih satu tahun, Diana fokus mengembangkan bolu chiffon meski belum memiliki merek. Titik penting terjadi menjelang Lebaran 2022, saat ia memberanikan diri melakukan promosi besar-besaran dengan menghubungi seluruh kontak di ponselnya. Respons pasar di luar dugaan. Sejak saat itulah Sari Asian Food mulai dikenal luas dan berkembang pesat hingga sekarang.

Bagi Diana Lyntusari, kesuksesan bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang perjalanan panjang memadukan seni, budaya, dan rasa. Dari panggung tari hingga dapur produksi, ia membuktikan bahwa setiap pengalaman hidup selalu punya peran penting dalam membentuk kesuksesan hari ini.(DJo)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *