Home / News / Mayjen TNI dr. Hadi Juanda, Sp.PD. Anak Penjahit di Grogol Jadi Kapuskes TNI

Mayjen TNI dr. Hadi Juanda, Sp.PD. Anak Penjahit di Grogol Jadi Kapuskes TNI

Jakarta,- Budayantara.tv Gerbong di tubuh TNI AD bergerak lagi. Delapan brigadir jenderal (brigjen) TNI AD naik pangkat menjadi mayor jenderal (mayjen). Dinamika ini tertuang dalam Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1334/IX/2025 tertanggal 30 September 2025.

Surat itu menyebutkan bahwa ada 286 perwira TNI AD yang dimutasi dan nantinya akan menduduki jabatan strategis baik di dalam lingkungan TNI AD maupun di luar institusi TNI AD.

Di antara delapan brigjen TNI yang mendapat promosi bintang dua adalah Brigjen TNI dr. Hadi Juanda, Sp.PD, MARS, CFrA. Dokter lulusan Universitas Indonesia ini mengemban jabatan baru, yaitu Kepala Pusat Kesehatan TNI. Sebelumnya pria kelahiran Jakarta ini menjabat sebagai Wakil Kepala Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat (Wakapuskesad).

Siapakah Mayjen TNI dr. Hadi Juanda yang pernah menjadi Ketua Komite Hukum RSPAD Gatot Soebroto ini? Berikut profil singkatnya.


Hadi Juanda tidak bisa melupakan kenangan saat ayah-ibunya mengantarnya ke Stasiun Gambir, Jakarta, pada tahun 1996. Dari rumah di kawasan Tebet, Jakarta, Hadi bertolak ke Jawa Tengah untuk mengikuti pendidikan militer di Akademi Militer (Akmil) Magelang. Ia melihat mata ayah dan ibunya sembab, terharu. Hadi muda kala itu sudah menyandang gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Sebelumnya, di ujung masa kuliah, dia mengikuti pendaftaran Mahasiswa Beasiswa ABRI sebagai tenaga dokter. Saat itu Hadi sedang menjalani kepaniteraan di FKUI sebagai coas (co assistant). Dia tidak memberi tahu kedua orang tuanya karena khawatir tidak diberi izin. Dia pun lulus seleksi tersebut. Ayahnya baru tahu kalau Hadi mendaftar menjadi tentara ketika tiba surat resmi dari Mabes ABRI (sekarang TNI) ke rumahnya. Ayahnya sendiri yang menerima surat bersejarah itu, surat pemberitahuan pendidikan kemiliteran di Akmil Magelang.

Setelah mengikuti serangkaian tes awal, Hadi melanjutkan kuliah lagi. Selepas wisuda dan lulus menjadi dokter pada tahun 1996, dia mengikuti pendidikan kemiliteran selama tujuh bulan. “Saat coas (dokter muda) saya ikut tes masuk tentara. Setelah dinyatakan lulus sebagai Mahasiswa Beasiswa ABRI, saya tidak langsung mengikuti pendidikan militer tetapi kembali melanjutkan kuliah sampai selesai pendidikan menjadi dokter. Setelah lulus pendidikan dokter, saya dipanggil untuk mengikuti pendidikan militer di Magelang,” kata anak ketiga dari lima bersaudara ini menegaskan. Orang tua akhirnya merestui Hadi berkarier di TNI.

Kelulusannya menjadi dokter tentu sedikit meringankan beban Sarkoni, ayah Hadi. Ketiga anaknya sudah menyelesaikan pendidikan tinggi. Anak sulung sudah menamatkan kuliah D3. Anak kedua sudah menjadi dokter lulusan Universitas YARSI (Yayasan Rumah Sakit Islam) Jakarta. Tinggal dua orang anaknya lagi yang akan menyusul kuliah. Di kemudian hari anak ke-empat menjadi sarjana teknik elektro dan yang kelima menjadi sarjana ekonomi.

Ingin Semua Anaknya Menjadi Sarjana
Siapakah Sarkoni? Dokter kah? Pejabat kah? Bukan. Pekerjaan Sarkoni sehari-hari adalah penjahit. Pria asal Sukabumi, Jawa Barat, ini membuka jasa penjahitan di rumahnya di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Istrinya, asli Jakarta, adalah ibu rumah tangga. Di rumahnya itulah Sarkoni menerima orderan jahitan. Kala itu masih banyak orang yang membuat pakaian ke penjahit.

Pada tahun 1995 Sarkoni purna menjadi penjahit karena faktor usia. Selama menjadi penjahit, Sarkoni rajin menabung dan mewujudkan tabungannya dalam bentuk aset berupa tanah dan rumah kontrakan. Ketika berhenti menjadi penjahit, Sarkoni membiayai kebutuhan sehari-harinya dari pembayaran sewa rumah kontrakan miliknya.

Meski menjadi seorang penjahit, Sarkoni ingin semua anaknya bersekolah tinggi dan menjadi sarjana. “Apa (panggilan untuk ayah kami) malu kalau kalian tidak menjadi sarjana,” kata Hadi menirukan ucapan yang sering disampaikan ayahnya, lulusan Sekolah Rakyat (SR) itu. Sampai saat ini Hadi tidak mengerti bagaimana ayahnya bisa membiayai sekolah anak-anaknya sampai perguruan tinggi, padahal pekerjaannya hanya menjahit.

“Saya belajar dari situ, yang penting ada niat dan kita mau berusaha. Insyaallah ada jalan. Coba bayangkan, kakak saya yang nomor satu D3, nomor dua kedokteran di perguruan tinggi swasta. Kebayang ‘kan biayanya, mahal, tapi ayah saya bisa membiayai semua dan tidak ada beasiswa karena swasta,” sambung Hadi. “Yang penting ada kemauan dari orang tua dan anaknya,” tambah Hadi lagi.

Kuliah di kedokteran sebenarnya juga atas arahan ayahnya. Ketika lulus SMA Negeri 17 Jakarta, Hadi berkeinginan melanjutkan kuliah ke jurusan teknik elektro. Ketika mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) pada tahun 1989 Hadi mengisi dua pilihan di formulir, kedokteran sebagai pilihan pertama dan teknik elektro sebagai pilihan kedua.

“Nilai batas lulus UMPTN paling tinggi adalah untuk bidang kedokteran. Jadi tidak mungkin saya pilih teknik elektro di pilihan pertama. Maka pilihan pertama kedokteran dan pilihan kedua teknik elektro. Eh… saya malah dapat kedokteran,” kata mantan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia ini.

Sebenarnya Hadi ingin diterima di teknik elektro. Pasalnya, masa kuliahnya tidak lama, biasanya empat tahun sudah kelar dan ia berharap bisa langsung bekerja sehingga tidak memberatkan orang tuanya. Terbayang di benaknya saat itu biaya kuliah kedokteran yang mahal dan masa kuliah yang lama. Biaya kuliah tentu akan membebani orang tuanya. Namun, ia menuruti arahan ayahnya dan mengambil kedokteran. Ia berharap kuliah di UI bisa meringankan beban ayahnya.

Menurut ayah Hadi menjadi dokter lebih enak. Mengapa? “’Pekerjaan dokter mulia. Selain bisa menghasilkan uang juga bisa untuk beramal ibadah dengan menolong menyelamatkan nyawa orang. Dari segi agama lebih bagus kuliah kedokteran, amal ibadahnya lebih banyak,” kata ayah. “Saya mengalah,” kata Hadi.

Selain ingin kuliah di jurusan teknik elektro, Hadi sebenarnya juga sudah diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dengan harapan setelah lulus ia bisa langsung bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri sipil) karena ada ikatan dinas. Hadi juga sudah diterima di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug di Tangerang, namun ibunya tidak merestui. Hari kedua perploncoan di STAN bersamaan dengan pengumuman penerimaan UMPTN dan Hadi dinyatakan lulus. Pengorbanan Hadi atas statusnya sebagai mahasiswa STAN juga tidak lepas dari arahan ayahnya. Di mata sang ayah, bekerja di perpajakan kurang berkah dibandingkan dengan menjadi dokter.

“Waktu itu saya berpikir bagaimana caranya bisa bersekolah di perguruan tinggi negeri atau sekolah ikatan dinas dengan beasiswa. Saya sudah sempat masuk Sekolah Penerbangan Curug, tetapi tiba-tiba Ibu melarang saya ketika sudah tinggal tahap wawancara terakhir. Alasannya pendidikan dan latihannya keras,” kata Hadi.
Walhasil Hadi pun memilih kuliah di Fakultas Kedokteran UI.

Selalu terkenang oleh Hadi pengorbanan ibunya menjual gelang emas miliknya untuk membayar SPP sebesar Rp180.000,- dan untuk membeli jaket almamater. Totalnya Rp270.00,-. Ayah masih punya uang ketika kakaknya kuliah kedokteran di perguruan tinggi swasta dengan biaya mahal. Namun saat Hadi diterima di UI ayahnya tidak punya uang.

“Allah mengatur rezeki kita. Saat kakak perlu biaya jutaan rupiah, Ayah tidak bingung karena masih punya uang. Ketika saya masuk perguruan tinggi negeri, ayah tidak punya uang. Yang saya sesali sampai sekarang, saya belum sempat mengganti gelang Emak saya,” kata ayah empat orang anak ini (tiga anaknya sudah menjadi dokter dan yang bungsu masih kuliah di semester 5 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya).

Manusia punya kehendak tapi Tuhan yang mengatur. Saat duduk di semester 3 FKUI, alhamdulillah Hadi mendapat beasiswa dari Yayasan Supersemar yang tentu saja sangat membantu meringankan beban biaya untuk kuliah.

Sedih karena Timtim Lepas
Awalnya di benak Hadi tugas sebagai dokter tentara hanya menjalankan tugas sebagai dokter saja dan bekerja di rumah sakit tentara. Namun ternyata ada juga dokter tentara yang ditugaskan di batalyon/pasukan. Setelah menyelesaikan pendidikan militer di Magelang, Hadi ditugaskan di satuan Kopassus.

Banyak pengalaman berharga yang diperolehnya ketika berdinas di satuan elit TNI AD ini. Selama berdinas di Kopassus, selain bisa mengaplikasikan ilmunya sebagai dokter, Hadi juga melatih jiwa kepemimpinan dan solidaritas sesama prajurit TNI. Dengan penugasan di Kopassus seharusnya Hadi masih perlu mengikuti pendidikan komando tujuh bulan lagi. Namun Danjen Kopassus kala itu, Mayjen TNI Prabowo Subianto, menyatakan bahwa dokter tidak diwajibkan mengikuti pendidikan komando.

Setelah mengikuti pendidikan militer di Akmil Magelang selama tujuh bulan, Hadi melanjutkan pendidikan dasar kecabangan selama lima bulan di Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes) di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Walaupun dokter tidak wajib mengikuti pendidikan komando, dokter militer tetap harus mengikuti tugas operasi dan memegang senjata. Bawaan ransel yang dibawanya malah dobel. Pasukan hanya membawa senjata dan ransel perbekalannya, sedangkan dokter selain membawa senjata dan ransel perbekalan pribadinya juga harus membawa ransel berisi obat dan alat-alat medis. Tidak jarang ransel perbekalannya sendiri dikorbankan demi memprioritaskan obat-obatan dan alat medis.

Setelah enam bulan bertugas di Kopassus, Hadi berangkat untuk tugas operasi ke Timor Timur (Timtim) pada tahun 1999, tepatnya menjelang jajak pendapat (referendum) rakyat Timtim. Sempat merasakan tugas selama sebelas bulan di Timtim yang setelah merdeka menjadi Timor Leste, Hadi sedih manakala terpaksa meninggalkan daerah itu yang lepas dari Indonesia sebagai konsekuensi hasil jajak pendapat. “Begitu banyak tentara yang kehilangan nyawa untuk merebut Timtim. Karena kebijakan politik, Timor Timur lepas. Betapa sedihnya orang Timor Timur yang pro Indonesia,” kata Hadi. Akibat referendum itu warga Timor Timur yang pro Indonesia harus angkat kaki dari kampung halamannya.

Sepulang dari Timor Timur Hadi menjalani tugas operasi lagi ke Daerah Istimewa Aceh. Saat itu TNI sedang berkonflik dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Usai menjalani tugas operasi di Timor Timur dan Daerah Istimewa Aceh, Hadi mulai menjalani penugasan di rumah sakit, terlebih saat itu dia juga sudah menjadi dokter spesialis penyakit dalam. Pertama Hadi mendapat penempatan di Kodam IV/Diponegoro, yaitu di RST Tk II dr Soedjono, Magelang, kemudian menjadi Kepala RST Tk IV dr Asmir Salatiga. Keduanya di Jawa Tengah dan berada di bawah Kesehatan Kodam (Kesdam) IV/Diponegoro.

Pasca mengikuti Pendidikan Lanjutan Perwira (Diklapa), Hadi ditugaskan di Kodam XII/Tanjungpura, tepatnya di RS Kartika Husada, Pontianak, Kalimantan Barat. Setelah empat tahun bertugas di Pontianak, Hadi kembali lagi ke Jawa Tengah dan berdinas di Purwokerto, menjadi Dandenkes (setingkat kepala dinas) yang membawahi lima kabupaten selama kurang lebih 16 bulan.

Ilmu Militernya Terpakai
Selanjutnya Hadi ditarik ke Cijantung, Jakarta, menjadi Kepala Kesehatan (Kakes) di Kopassus. Setelah tigabelas bulan bertugas di Kopassus Hadi dipindahtugaskan ke Kodam XVII/Cenderawasih di Papua. Perpindahannya ke Papua sebenarnya atas permintaan Pangdam XVII/Cenderawasih yang dikenalnya ketika sama-sama berdinas di Jawa Tengah. Ketika itu RST Marthen Indey, Jayapura, sudah dua tahun tidak punya dokter spesialis penyakit dalam. Dokter spesialis penyakit dalam dibutuhkan karena di Papua banyak kasus malaria, sementara dokter spesialis penyakit dalam di pulau seluas itu hanya 11 orang saja. Hadi menjabat Wakil Kepala RST Marthen Indey yang kala itu masih menjadi RS tipe C dengan fasilitas terbatas (120 bed).

“Di Papua inilah ilmu kemiliteran saya terpakai semua. Selama berdinas di Kesdam Cendrawasih, Hadi terlibat dalam pengendalian kerusuhan, penanggulan bencana alam dan wabah/pandemi covid, sehingga ilmu kemiliteran teraplikasi semua,” katanya.

Kala itu di Papua, khususnya di Jayapura, kerap terjadi kerusuhan. Bencana alam tanah longsor dan banjir bandang di Distrik Sentani, Jayapura, pada Maret 2019 juga ditanganinya. Saat itu pada tengah malam Hadi beserta anggota Kesdam Cendrawasih mendirikan tenda dukungan/Posko kesehatan di TKP. Bencana alam di Sentani menelan korban jiwa ratusan orang. Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 turut menjadi ajang penerapan ilmu kemiliterannya.

“Pada awal pandemi Covid-19 RSUD menolak pasien karena belum siap. RST Marthen Indey lah yang pertama menerima pasien Covid-19. Dalam dunia kemiliteran pantang menolak perintah. Meski dengan fasilitas yang terbatas RS Marthen Indey menerima pasien Covid-19 dengan melakukan modifikasi ruang yang tersedia menjadi ruang isolasi perawatan pasien Covid-19. Saya salut dan bangga pada anggota RS Marthen Indey yang bersedia merawat pasien Covid-19 meski beresiko tertular. Pada tiga bulan pertama melayani pasien Covid-19 kami tidak tahu nanti pembiayaannya dari mana,” Hadi menambahkan.

Untuk menyemangati dan meringankan beban hidup perawat karena penghasilan RS yang menurun drastis, Hadi dan kepala rumah sakit urunan untuk membeli sembako untuk dibagikan kepada perawat. Hadi bersyukur ketika meninggalkan Papua dan kembali ditugaskan ke Jakarta, RS Marthen Indey sudah mempunyai CT-scan hibah dari Pemerintah Indonesia.

Di Jakarta Hadi mendapat kepercayaan menjadi Kepala Rumah Sakit Moh Ridwan Meuraksa di daerah Taman Mini, Jakarta Timur selama hampir tiga tahun. Kemudian dia menjadi Kepala Kesehatan Kodam Jaya pada tahun 2024. Sebentar kemudian dia ditarik ke RSPAD Gatot Subroto dengan pangkat bintang satu (brigjen).

Berangkat dari pengalamannya menjadi dokter militer, Hadi berpesan kepada generasi muda yang bercita-cita mengikuti jejaknya, “Jangan takut ditempatkan di mana pun.” Dia membuktikan pengalamannya bertugas di Kalimantan dan Papua.

“Dalam profesi apa pun, yang penting niatnya mau bekerja tulus dan ikhlas. Insya allah rezeki akan mengikuti,” ujarnya lagi. “Jangan pernah lelah menjadi orang baik walaupun godaannya besar. Menjadi orang baik lebih susah daripada menjadi orang jahat. Sesulit apa pun tetaplah menjadi orang baik,” tandas Hadi

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *