Jakarta,- Budayantara.tv Di tengah aroma kayu tua dan jejak sejarah pelabuhan Sunda Kelapa, sebuah kisah tentang Papua perlahan dibuka. Bukan sekadar kisah tentang wilayah paling timur Nusantara, melainkan tentang ingatan, identitas, dan perjalanan panjang budaya maritim Indonesia. Pameran bertajuk “Looking for the East” yang digelar di Ruang Pameran Temporer Museum Bahari, Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, menjadi ruang perenungan tersebut. Pameran ini akan berlangsung hingga Maret 2026.
Sosok Thia Samsudin, Founder Kelola Seniman Nusantara, hadir sebagai suara reflektif yang melihat Papua bukan hanya sebagai lanskap geografis, tetapi sebagai pusat peradaban maritim yang sarat makna. Melalui pameran ini, Papua dibaca dari balik rasa—rasa ingin tahu, penghormatan, dan tanggung jawab untuk merawat warisan budaya bangsa.
Pameran Looking for the East menandai tiga dekade keberadaan koleksi Perahu Cadik Papua Jayapura 02, sebuah artefak penting yang telah tercatat sebagai salah satu aset bersejarah Museum Bahari. Perahu ini bukan sekadar alat transportasi laut, melainkan saksi bisu peradaban pesisir Papua, pengetahuan lokal tentang laut, serta relasi manusia dengan alam yang terjaga selama berabad-abad.

Menurut Thia Samsudin, pameran ini menjadi bukti nyata potret kemaritiman Nusantara yang utuh. “Maritim bukan hanya soal laut dan kapal, tetapi tentang cara hidup, cara berpikir, dan cara bangsa ini membangun relasi dengan dunianya,” ujarnya. Dalam konteks ini, Papua hadir sebagai bagian penting dari narasi besar Indonesia sebagai bangsa bahari.Minggu (14/12/2025).
Lebih jauh, pameran ini juga dimaknai sebagai bentuk diplomasi budaya. Museum Bahari Jakarta, melalui pendekatan kuratorial yang terbuka dan reflektif, menunjukkan peran museum yang melampaui fungsi penyimpanan artefak. Museum menjelma menjadi ruang pertemuan gagasan, ruang belajar lintas generasi, sekaligus jembatan dialog antarbudaya dan antarbangsa.
Di antara dinding-dinding museum yang sarat sejarah, Looking for the East mengajak pengunjung untuk menengok kembali arah pandang Indonesia terhadap timur. Papua tidak lagi ditempatkan di pinggir narasi, melainkan di pusat perbincangan tentang identitas, sejarah, dan masa depan maritim Nusantara.
Pameran ini bukan sekadar perayaan tiga dekade sebuah koleksi, tetapi juga penegasan bahwa merawat warisan budaya maritim adalah merawat ingatan bangsa agar tetap hidup, relevan, dan terus mengalir seperti laut yang menghubungkan Indonesia dari barat hingga timur.(DJo)




