Perang Tanpa Bolo
Oleh: Meimura
Jakarta – Budayantara.tv “Gaza” adalah kata yang membuat akal jungkir balik dan kewarasan terkelupas di tengah kontemplasi. Dunia telah membacanya berkali-kali: darah yang mengering di aspal, nyawa melayang tanpa nama, anak-anak menjelma sasaran, dan mesin perang bekerja tanpa jam lembur. Semua itu—secara teknis—masuk akal. Namun ketika ditimbang di hadapan nurani, akal itu mendadak gagap.
Di sudut panggung wacana, Adipatilawe—penulis sekaligus sutradara—mengajukan tawaran yang terdengar ganjil di telinga modern: melawan tanpa senjata. Ia meminjam kacamata filsafat Jawa: perang tanpa bolo, menang tanpa ngasorake. Bukan pasifisme yang loyo atau kepasrahan yang memutihkan kekerasan, melainkan perlawanan yang menolak logika adu daya. Sebuah strategi etis yang menggugat asumsi dasar perang: bahwa kemenangan mesti lahir dari kehancuran pihak lain.
Dalam dramaturgi gagasan ini, iman dan takwa diposisikan bukan sebagai jargon spiritual yang mengawang, melainkan sebagai modal kultural—energi simbolik yang bekerja di ranah makna, solidaritas, dan legitimasi moral. Ia bergerak senyap, namun menghimpun daya: membentuk keberpihakan publik, memelihara martabat korban, dan menahan spiral balas dendam. Pertanyaannya sederhana tapi menusuk: adakah yang lebih perkasa dari keyakinan yang mampu menahan hasrat membalas?
Usulan ini terasa jenaka sekaligus getir. Di dunia yang memuja mesin, data, dan kecepatan, Adipatilawe justru mengusulkan nurani sebagai instrumen. Ia sadar, nurani tak menghentikan peluru secara instan. Tetapi nurani menggerogoti legitimasi peluru—mengeringkan sumber moral yang membuat kekerasan tampak sah.
Sebagai orang Jawa (dan karenanya, barangkali, terlalu akrab dengan ironi), Adipatilawe tidak menjual solusi instan. Ia menawarkan cara pandang: menggeser medan tempur dari peluru ke perenungan, dari kekuatan ke kebijaksanaan. Dari kemenangan yang diukur oleh wilayah dan statistik, menuju kemenangan yang diukur oleh kemanusia




