Home / News / Mandau Menuju Pengakuan UNESCO Warisan Budaya Takbenda (WBTB)

Mandau Menuju Pengakuan UNESCO Warisan Budaya Takbenda (WBTB)

Jakarta – Budayantara.tv Pameran Kebudayaan Bilah Nusantara 2025 resmi dibuka di Museum Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Acara yang digelar sebagai ruang edukasi sekaligus pelestarian budaya ini mengangkat tema besar “Mandau Menuju Pengakuan UNESCO”, menegaskan komitmen untuk mendorong senjata tradisional khas Kalimantan tersebut masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO.

Pameran ini merupakan kolaborasi Sanggar Seni dan Budaya Panji Keroan Koetai Bersatoe (PKKB) dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kaltim Kaltara. Selain menampilkan berbagai bilah tradisional dari penjuru Nusantara, fokus utama pameran adalah Mandau ikon budaya masyarakat Dayak yang kaya filosofi dan sejarah panjang.

Mandau, Identitas dari Tanah Borneo

Kalimantan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan budaya paling beragam di Indonesia. Di antara banyak warisan yang masih terus dijaga, Mandau menjadi simbol paling kuat yang menggambarkan keberanian, spiritualitas, dan kearifan lokal suku Dayak.

Lebih dari sekadar bilah, Mandau adalah representasi perjalanan hidup dan hubungan manusia dengan alam. Setiap ukiran pada gagang, bentuk bilah, hingga hiasan bulu pada sarungnya, memiliki makna tersendiri yang diwariskan secara turun-temurun. Pameran ini menampilkan berbagai varian Mandau dari beberapa sub-suku Dayak, lengkap dengan narasi sejarah dan filosofi pembuatannya.

Jejak Mandau di Pentas Dunia

Mandau bukan hanya dikenal di Kalimantan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak abad ke-17, bilah ini sudah diperjualbelikan hingga ke berbagai wilayah. Penjelajah Eropa seperti van Diemen (1637), Speelman (1670), dan Schwaner (1853) mencatat peredaran Mandau ke Thailand, Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Timor.

Pada tahun 1980-an, Mandau kembali ramai diburu sebagai barang antik di pasar internasional, terutama di Belanda, Jerman, dan Amerika. Jejak sejarah yang meluas ini memperkuat nilai penting Mandau sebagai warisan dunia yang layak mendapatkan perhatian dan perlindungan global.

Menuju Pengakuan UNESCO

Melalui Pameran Bilah Nusantara 2025, panitia berharap dapat memperkuat dukungan publik dan lembaga terkait untuk memperjuangkan Mandau masuk dalam daftar WBTB UNESCO. Pengakuan tersebut diyakini akan membuka peluang lebih besar untuk pelestarian, penelitian, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya Dayak.

Mandau bukan hanya benda budaya, tetapi identitas. Jika tidak dijaga, generasi muda bisa kehilangan salah satu warisan terpenting leluhurnya.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *