Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung SejarahSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi TerpilihTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora
Budaya Event News

Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama21 September 20253 menit baca📍 Jawa Tengah
Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora - Budayantara TV

Blora, Jawa Tengah — Budayantara.tv Di tengah derasnya arus modernisasi yang menggulung budaya lokal, Ki Pasiran bersama cucunya Nyi Isnawati di Blora, Jawa Tengah, memilih jalan yang tidak biasa: melawan lupa. Mereka adalah Ki Pasiran dan Nyi Isnawati, penjaga budaya napas kehidupan Wayang Krucil dari sanggar seni Isnamukti, yang terletak di Dukuh Delok, Desa Pojokwatu, Kecamatan Sambong.

Di sebuah bangunan sederhana yang berbalut semangat dan cinta budaya, mereka memelihara warisan seni tradisi yang kini nyaris punah. Bukan demi popularitas atau keuntungan materi, tetapi karena keyakinan bahwa budaya adalah akar yang tak boleh dicabut, sekalipun zaman terus berubah.

Wayang Krucil: Warisan yang Terlupakan

Wayang Krucil atau yang juga dikenal dengan nama Wayang Klithik bukan sekadar pertunjukan boneka datar. Ia adalah artefak hidup yang memuat narasi sejarah, nilai-nilai moral, hingga kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Terbuat dari kayu pipih setebal 2–3 cm, wayang ini memiliki bentuk yang lebih kaku dibanding wayang kulit. Hanya lengannya yang lentur karena terbuat dari kulit, memungkinkan ia “bernyawa” di tangan seorang dalang.

Berbeda dari wayang kulit yang umum dikenal dengan kisah Mahabharata atau Ramayana dan dipentaskan malam hari, Wayang Krucil justru tampil siang hari, dengan kisah-kisah lokal yang lebih membumi. Cerita-cerita sejarah kerajaan Nusantara hingga kisah dakwah tokoh-tokoh Islam seperti Amir Hamzah atau Umar Amir menjadi naskah utama pertunjukan.

“Wayang Krucil adalah media dakwah dan pendidikan. Lewat cerita-cerita ini, kami mengajarkan sejarah dan nilai kehidupan kepada masyarakat,” ujar Ki Pasiran, yang telah lebih dari tiga dekade menjadi dalang dan perajin wayang.

Dari Pangeran Pekik ke Dukuh Delok

Sejarah Wayang Krucil tak bisa dilepaskan dari nama Pangeran Pekik, bangsawan Surabaya yang diyakini pertama kali menciptakan bentuk awal wayang ini pada tahun 1571 Saka atau sekitar 1648 Masehi. Seni ini kemudian berkembang pesat di Jawa Timur, menyebar ke Ngawi, Magetan, Kediri, hingga ke Malang dan Pasuruan.

Namun, di Blora yang berbatasan langsung dengan wilayah budaya Jawa Timur wayang krucil menemukan tempatnya sendiri. Dulu, pada masa keemasannya di tahun 1960-an, pertunjukan wayang krucil bisa ditemukan hampir di setiap acara rakyat. Kini, jejaknya perlahan menghilang, tergantikan oleh hiburan instan yang lebih cepat dan ringkas.

“Kalau dulu anak-anak berebut nonton wayang. Sekarang, mereka lebih kenal karakter game daripada tokoh sejarah,” ujar Nyi Isnawati sambil menyusun tokoh wayang di rak kayu sanggar.

Bertahan dari Sunyi

Di Sanggar Seni Isnamukti, Ki Pasiran tak hanya melatih generasi muda memainkan wayang, tapi juga membuatnya sendiri. Dengan ketekunan seorang seniman dan kesabaran seorang guru, ia mengukir kayu, mewarnai tokoh, dan memberi nama. Setiap tokoh punya cerita. Setiap guratan punya makna.

“Wayang Krucil itu rapuh. Kayunya bisa patah kalau tidak hati-hati. Sama seperti budaya kita. Kalau tidak dijaga, akan hilang begitu saja,” katanya lirih.

Meski pertunjukan semakin jarang, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati tetap melanjutkan tradisi ini. Mereka percaya bahwa menjaga warisan leluhur adalah bentuk ibadah. Dalam sunyi, mereka tetap menabuh gamelan, tetap menyuarakan suluk, tetap menyalakan lampu-lampu kecil di siang hari untuk pementasan yang hanya disaksikan segelintir orang.

Mengajar untuk Masa Depan

Salah satu misi besar Ki Pasiran adalah regenerasi. Ia membuka pelatihan bagi anak-anak muda, meski tak mudah. Banyak yang datang hanya sekali, lalu pergi karena merasa tak cocok. Namun ia tak putus asa. Baginya, satu anak yang bisa memahami dan mencintai Wayang Krucil lebih berharga daripada seribu penonton yang hanya menonton tanpa peduli.

“Kalau ada satu saja yang meneruskan, saya sudah merasa cukup,” katanya dengan senyum.Sabtu (20/9/2025).

Budaya yang Bertahan Karena Cinta Budaya

Di zaman ketika semua hal berlomba untuk menjadi cepat, instan, dan viral, Wayang Krucil tetap berdiri pelan, dengan irama yang tenang. Ia tak menuntut untuk ditonton, tapi menunggu untuk dipahami. Dan Ki Pasiran bersama Nyi Isnawati adalah jantung dari keteguhan itu.

Di Dukuh Delok, suara gamelan masih berbunyi, meski perlahan. Bayang-bayang wayang masih menari di balik layar putih. Di sana, sebuah kisah perjuangan mempertahankan budaya sedang berlangsung bukan di panggung megah, tapi di ruang kecil penuh semangat yang tak pernah padam.

Karena selama masih ada yang percaya, warisan tak akan pernah benar-benar punah.**

Ki Pasiran Nyi Isnawati Wayang Krucil Blora
📍 Jawa Tengah
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TV
News Tokoh

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah

13 Agustus 20264 menit baca

Situbondo, — Budayantara.tv Di tengah perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU), ada sejumlah momentum yang tidak sekadar tercatat sebagai…

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11 - Budayantara TV
News

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11

13 Agustus 20262 menit baca

Jakarta,– Budayantara.tv Agustus 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi keluarga besar SDN Kebayoran Lama Selatan 11. Di tengah…

Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih - Budayantara TV
News

Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih

26 Juli 20262 menit baca

Bogor – Budayantara.tv Suasana penuh kebersamaan mewarnai pemilihan Ketua RW 18 Duta Mekar Asri, Dusun VI, Desa Cileungsi…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  3. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  4. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  5. Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora - Budayantara TVMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11
Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora - Budayantara TVWarga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora - Budayantara TVTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Di Antara Zaman yang Bergeser, Ki Pasiran dan Nyi Isnawati Menjaga Napas Wayang Krucil Blora - Budayantara TVMPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber