-Catatan dari Pameran Seni Ukraina
Oleh: M.Guntur Alting
Pembina DPW SWI JAYA (Sekber Wartawan Indonesia)
Jakarta,- Budayantara.tv SIAPA sangka? Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang sibuk mengurus aksi masa dan politik, ada ‘event’ yang sama sekali berbeda: “pameran seni Ukraina.”
Namanya juga Jakarta. Apa saja bisa jadi topik pembicaraan.
Tapi yang satu ini menarik. Yang dipamerkan bukan mobil listrik, bukan pula teknologi canggih.
Ini pameran karya seni dari negeri yang sedang babak belur karena perang: Ukraina.
Pegiat budaya Syamsul Arifin (Masdjo) dari BMDN yang juga Ketua DPW SWI JAYA DKI Jakarta termasuk yang ikut hadir, diundang di sana.
Menengok dari dekat bagaimana seniman-seniman di Kiev-Ukraina sana mengekspresikan hidup di tengah desing peluru.
Saya tiba-tiba membayangkan, bagaimana rasanya jadi pelukis di tengah kota yang dibombardir roket itu?
Tiap pagi bangun tidur bukan mencium aroma kopi, tapi mendengar sirene bahaya.
Tapi manusia memang makhluk yang tangguh. Lewat kelompok seni seperti Pictoric, mereka tidak menyerah.
Mereka ambil kuas. Mereka coretkan warna di atas kanvas. Bukan untuk pamer kemarahan, tapi untuk bilang ke dunia:
“Kami masih ada, kami masih manusia!”
Dan di sinilah letak menariknya diplomasi budaya.
Kalau para menteri luar negeri berunding di meja bundar, biasanya isinya alot. Penuh hitung-hitungan untung-rugi. Saling ngotot soal wilayah dan sanksi ekonomi.

Tapi kalau seniman yang bicara?
Langsung menghujam ke hati.
”Perang itu urusan para jenderal dan politisi. Tapi penderitaan itu urusan kemanusiaan dan empati.
Ketika para pengunjung berdiri di depan kanvas-kanvas itu, jarak ribuan kilometer itu seakan lenyap.
Ukraina yang tadinya cuma nama asing di berita televisi, tiba-tiba menjelma jadi tetangga sebelah.
Kita melihat air mata yang sama, ketakutan yang sama, dan harapan yang sama pada anak-anak kecil yang kehilangan sekolahnya.
Indonesia punya modal besar untuk urusan ini. Politik luar negeri kita bebas-aktif.
Kita tidak ikut-ikutan menembak, tapi kita selalu hadir di garis depan urusan kemanusiaan.
Kehadiran para pegiat budaya di pameran itu membuktikan satu hal: bangsa kita tidak kehilangan kepekaan rasanya.
Pada akhirnya, senjata sehebat apapun pasti akan berkarat. Perang pasti ada ujungnya.
Dan ketika semua meriam itu sudah diam terkunci, yang tersisa di bumi bukan selongsong peluru, melainkan cerita, karya seni, dan ingatan tentang bagaimana kita saling mengulurkan tangan di saat paling gelap.(***)
Pejaten Barat, 25 Agustus 2026
Pukul : 06:28




