Jakarta — Budayantara.tv Warisan pemikiran dan kecintaan almarhum Asrul Sani terhadap seni dan perempuan Indonesia kembali dihidupkan. Melalui pementasan teater berjudul Nabila, putra beliau, Syauki Sani, mengambil peran penting sebagai Pelaksana Produksi, sekaligus penjaga legacy sang ayah yang tak lekang oleh waktu.
Nabila bukan sekadar pertunjukan teater. Karya ini merupakan karya terakhir Asrul Sani, seniman besar Angkatan ’45 yang dikenal sebagai penyair, budayawan, sutradara, penulis skenario, sekaligus politisi. Naskah ini menjadi penutup perjalanan panjang hidup kreatif Asrul Sani sebuah suara terakhir yang berbicara tentang kekaguman mendalam terhadap sosok perempuan, tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keteguhan perempuan dalam menjaga kehormatan suami serta keutuhan keluarga.
Sanggar Pelakon, wadah yang melahirkan pementasan ini, memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari kehidupan Asrul Sani dan istrinya, Mutiara Sani. Sanggar ini lahir dari cinta sepasang suami istri terhadap kesenian. Asrul Sani telah melahirkan karya-karya legendaris seperti Lewat Djam Malam, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Pagar Kawat Berduri, Apa yang Kau Cari Palupi, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, hingga Nagabonar. Sementara Mutiara Sani, aktris film dan teater yang memulai kariernya sejak era 1960-an di bawah bimbingan almarhum Sotopo HS, kemudian meneruskan napas seni itu dengan mendirikan Sanggar Pelakon.
Pada awal pendiriannya, Sanggar Pelakon hadir untuk menjawab kebutuhan tayangan berkualitas di TVRI, di masa ketika ruang ekspresi seni masih sangat terbatas. Dari sanalah lahir karya-karya yang bukan hanya menghibur, tetapi juga sarat makna dan nilai kebudayaan.
Nabila sendiri ditulis Asrul Sani pada masa-masa akhir hidupnya. Sebuah periode yang membuat naskah ini terasa personal dan reflektif. Meski konteks zamannya tak mudah dibaca, pesan yang disampaikan tetap relevan: penghormatan pada perempuan sebagai pilar kehidupan rumah tangga. Semua pengorbanan, kesetiaan, dan kekuatan perempuan itu tertuang dalam kalimat-kalimat terakhir yang ditulisnya sebelum wafat pada 11 Januari 2004. Rencana pementasan yang sempat terhenti kini akhirnya terwujud.
Dua dekade kemudian, napas pemikiran Asrul Sani kembali disuarakan. Melalui tangan generasi penerusnya, Nabila akan dipentaskan untuk pertama kalinya pada 19 dan 20 Desember 2025 di Gedung Kesenian Jakarta ruang bersejarah yang menjadi saksi lahirnya karya-karya besar seni pertunjukan Indonesia.
Pementasan ini melibatkan nama-nama penting:
Asrul Sani sebagai penulis cerita dan skenario,
Mutiara Sani sebagai pimpinan produksi,
Jose Rizal Manua sebagai sutradara,
serta Syauki Sani sebagai pelaksana produksi.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Nabila adalah sebuah penghormatan bagi perempuan Indonesia, bagi perjalanan seni Asrul Sani, dan bagi ingatan kolektif bangsa yang tak boleh padam.(Djo)




