Sinergitas Spiritualitas Nusantara: Resonansi Indrokilo Suroloyo Satukan Laku Fisik dan Kesadaran Batin
Pasuruan – Budayantara.tv Sebuah peristiwa spiritual bertajuk Sinergitas Korelashinergi Puncak Indrokilo Suroloyo digelar di kawasan Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur, bertepatan dengan Jumat Wage, 17 April 2026. Kegiatan ini menjadi simbol pertemuan energi kesadaran antara Puncak Indrokilo Gunung Arjuno dan Puncak Suroloyo Bukit Menoreh, yang sarat makna filosofi dan spiritualitas Jawa.
Mengusung tema “Ejawantah Laku Fisik, Kerja, dan Spiritual”, kegiatan ini menitikberatkan pada perjalanan manusia dalam memahami hakikat diri melalui keseimbangan antara tindakan nyata dan kesadaran batin.
Empat tokoh hadir dalam satu resonansi kesadaran, mewakili perjalanan laku spiritual dan tanggung jawab universal, yaitu Guntur Bisowarno (Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System, Pasuruan), Mbah Nangsir Sunanto (Penasehat Paguyuban Trajumas, Kulon Progo), Ki Tohari (Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur, Pasuruan), serta Alfi Syahri Lubis (Pimpinan Redaksi PT Skalainfo.net, Tangerang).
Menurut Guntur Bisowarno, sinergi antara dua titik spiritual ini merupakan simbol perjalanan manusia dalam mencapai kesadaran utuh. “Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk mengenal ‘aku’ yang sejati, sebagaimana tertuang dalam konsep Bahagia Dalam Takdir, Mengenal Akunya Aku,” ujarnya.
Makna Puncak Indrokilo dan Suroloyo
Puncak Indrokilo di Gunung Arjuno dimaknai sebagai pusat kesadaran manusia melalui pengolahan 15 pancaindera, yang terbagi dalam tiga kategori: pancaindera fisik, pancaindera kerja, dan pancaindera spiritual. Ketiganya menjadi fondasi dalam memahami realitas kehidupan secara utuh baik secara lahir maupun batin.
Sementara itu, Puncak Suroloyo di Bukit Menoreh dipandang sebagai simbol “kahyangan” atau ruang kesadaran tertinggi. Dalam filosofi Jawa, tempat ini merepresentasikan ketekunan, kesabaran, dan keikhlasan dalam mencari pengetahuan sejati (kaweruh), hingga mencapai pemahaman mendalam tentang kehidupan.
Perjalanan Panjang “Pancar Ketemu Pancer”
Kegiatan ini merupakan bagian dari perjalanan panjang yang telah dimulai sejak 23 Juli 2023, melalui berbagai ritual spiritual lintas agama, budaya, dan komunitas, termasuk Kenduri Agung Nusantara. Selama hampir tiga tahun, para pelaku laku spiritual ini menjalani proses penyatuan antara tindakan, kerja, dan kesadaran batin.
Konsep Pancar Ketemu Pancer menjadi inti dari perjalanan tersebut sebuah filosofi tentang pertemuan antara energi luar dan pusat diri manusia. Hal ini juga diperkuat dengan pengembangan konsep “teknologi baru kuno modern” yang disebut HORAIZO Klasik, sebagai pendekatan integratif antara tradisi dan pemahaman kontemporer.
Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk lebih mengenal jati diri, memperkuat nilai-nilai kebudayaan, serta membangun kesadaran kolektif dalam menjalani kehidupan yang selaras antara fisik, mental, dan spiritual.**

